0

September Ceria

Posted by Malestha Andheka on 19:25:00
Pagi itu gue terbangun saat terdengar suara Nyokap yang sedang membuka jendela dalam kamar. Gue meninggalkan banyak mimpi yang terbayang sangat nyata. Suasana pagi itu matahari sudah bersinar terang. Sinar itu masuk keseluruh ruang menandakan pagi telah datang.

Begitu gue keluar dari kamar, terlihat Bokap Nyokap sedang bersantai di ruang keluarga. Mereka sedang menyaksikan acara televisi pada pagi hari. Bahkan, mereka berdandan tampil rapi.

"Deka, mandi buruan. Katanya, mau keluar beli sarapan bareng temen kamu?" Seru Nyokap.

"Iya, ini juga mau mandi, Ma. Ini Mama sama Papa juga mau keluar juga?"

"Iya Deka. Mau ikut? Ini mau beli sarapan di luar. Mama enggak masak."

Tak lama setelah gue selesai mandi, Bokap dan Nyokap masih menyaksikan tayangan acara di depan televisi. Segera gue cek handphone buat pastikan temen gue jadi untuk sarapan bareng.

"Deka, Mama sama Papa berangkat dulu, ya."

"Bareng sekalian aja Ma keluarnya." Sahut gue yang sudah siap-siap.

Sesaat setelah gue ngeluarin motor dari rumah, temen gue dateng. Kami pun berangkat segera.

Minggu kemarin ceritanya gue sarapan bareng temen gue sebagai awal pada minggu pertama di bulan September. Yakkkk, September ceria bisa dibilang.

Gue memilih sarapan pada waktu itu di Manahan, kota Solo. Kami sepakat mengawali sarapan tanpa nasi. Yappp, kami adalah sekumpulan orang diet yang kadang ingat di waktu sarapan. Maka, kami makan bubur ayam khas Solo sebagai santapannya.

Spot yang lesehan di pagi itu sangat ramai pengunjung. Bergantian pengunjung di antaranya aktivitas jogging di Stadion Manahan. Mungkin dia menerapkan sistem hidup sehat dengan olahraga. Sedangkan gue, hidup sehat dengan makan sepuasnya.

Tak lama setelah memesan, kami makan dengan rakus saat setelah menahan lapar. Di hari Minggu yang ramai mendatangkan pengamen jalanan yang silih berganti.

Karena gue lagi menikmati buburnya, gue langsung aja berikan pengamen itu dengan uang yang gue keluarin dari dalam dompet.

"Makasih banget Mas. Makasiiiiih banget, cuman Masnya yang pertama kali memberi ini dengan nilai tertinggi. Semoga Masnya dilancarkan rezekinya." Seru seorang pengamen itu sambil menunduk.

Gue terheran-heran akan ucapannya. Kemudian, saling lihat-lihatan dengan temen gue. Karena gue enggak komen apapun dengan dia, gue ngucapin amin kepada dia sebelum dia ninggalin gue.

Sesudah kenyang dengan santapan bubur, kami pun membayar segera. Giliran setelah temen gue, akhinya jatuh ke gue.

"Pak, tadi bubur 1 sama es jeruk 1."

"Ada tambahan lain enggak?" Sahut abang jual.

"Enggak, itu aja."

"14ribu Mas."

Gue buka dompet, lalu kaget. Lho, uang lima puluhan gue ke mana. Kok tinggal dua puluhan, ya.

Saat tiba di rumah gue kembali berpikir. Bahwa gue ngasih ke pengamen itu lima puluh ribuan. WOW, GUE SALAH AMBIL UANG SERIBUAN.

Semua yang terjadi biarlah sudah. September ceria gue kudu juga ceria seperti bulan ini. Dan artinya gue juga harus ikhlas bahkan, sosial tidak ada salahnya.

Yakkk, ini pengalaman baru gue. Kalo lo sendiri ada pengalaman baru enggak? Yuk, tulis di kolom komentar.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.