0

Inikah Masih Disebut Menunggu?

Posted by Malestha Andheka on 00:19:00
Selepas mengungkapkan rasa suka, itulah di mana seorang pria terlepas hatinya yang lama terpendam. Sejak saat itulah seakan hatinya sudah tidak ada beban. Ribuan kata mutiara bahkan, sudah terbuang. Namun apa jawaban seorang wanita? Ya, mana gue tahu jawabannya. Yang asli, keputusan dari dia yang akan menjadikan lo berhubungan.

Hubungan dari setiap orang yang berpasangan berawal dari sebuah perjuangan. Pada awalnya pengorbanan adalah semangatnya untuk mengharapkan keberhasilan yang terlihat.

Sikap dan sifat dari seseorang membentuk dirinya menjadi karakter yang berbeda-beda. Bahkan, mencakup dari kriterianya hingga identifikasi yang tak jauh kelak dari perbedaannya.

Maka dari itu, orang lain tak bisa menilai semata-mata dengan hal negatif terhadap orang lain. Dan, tak juga selalu menilai hal positif apabila tak mengerti dengan jelas dari sebuah realita.

Pengalaman baru mulai muncul untuk bercerita. Yuk, simak dulu, yuk, lanjut.

Anggap sajalah namanya Gusi. Dia cewek yang di sukai oleh Budi. Pada awalnya Budi sudah mengungkapkan rasanya kepada Gusi. Namun, Gusi pun belum bisa merespons langsung untuk menerima.

Sejak saat itu, Gusi meminta Budi untuk meyakinkan dirinya. Dalam soal cinta, Gusi tipe orang yang tak selalu terburu. Bahkan, dirinya dianggap orang yang mempunyai gengsi, cuek, ramah, oleh temannya. Mendengar semuanya itu, bukan suatu masalah Budi untuk suka padanya.

Setelah tiga bulan kemudian, Budi sungkan untuk menanyakan kembali jawaban dari Gusi. Hati Budi selalu menyimpan nama Gusi dengan baik. Walaupun banyak wanita lain yang ingin mencoba masuk hatinya, tapi Budi selalu menutup hatinya.

Budi sungkan menanyakan cintanya pada Gusi karena dari pengalaman dahulu. Semenjak saat itu yang membuat Budi merasa diam-diam untuk melepas atas dasar, trauma.

Pada waktu itu Budi bertanya baik dengan Gusi, "Hai Gusi, gimana jawavan kamu?" Katanya.

"Kamu terburu banget, sih?! Mau minta sekarang, ya?" Sahut Gusi sewot.

"Ya, sudah, enggak-enggak deh."

"Kan, udah aku bilang, kalo aku minta kamu untuk meyakinkan ke aku."

Budi pun langsung minum air segalon sekali tenggak.

Sejak saat itulah membuat hati Budi semakin sakit. Apabila melepasnya, Budi masih ragu. Seakan perjuangan yang dilakukan adalah sia-sia.

Namun, jika tidak diambil keputusannya sama artinya Budi membiarkan hatinya sakit hati terlalu dalam. Sakit yang tak terlihat, tapi membekas erat seperti luka.

Setiap hari Budi selalu chatting dengan Gusi. Tapi apa daya, emang dasarnya Gusi cuek dan tak pernah selalu yakin dengan Budi. Seolah Gusi mencoba mendatarkan hati Budi yang suka dengannya.

Apabila Gusi mempunyai hati untuk Budi, apa hidupnya hanya untuk menilai satu pasangan yang belum pasti jadi di masa depan.

Pengalaman Budi pun muncul setelah dia introspeksi dan berkata, 'Inikah masih disebut menunggu?'

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.