0

Ternyata Bisul Itu Sakit Banget

Posted by Malestha Andheka on 22:33:00
Tiga bulan yang lalu gue mengalami bisul. Kalo ada yang belum tau, gue kasih tau, nih, ya. Bisul adalah bakteri semacam sekumpulan nanah yang akan membesar dengan nyeri rasanya. Gejala yang dirasakan pertama, hanya mengeluarkan bintul yang tak nampak. Namun, lama kemudian, mulai muncul nyeri, hingga akhirnya mulai tumbuh.

Selepas Sabhran, tepatnya pesantren kilat yang diadakan kuliah gue, gue berlibur di Jakarta. Liburan yang masih lama, gue buang habis di ibukota. Pada waktu itu, gue enggak sendiri. Gue juga ngajak Adhi dan Toni buat temanin gue selama perjalanan.

Seiring berjalannya waktu, bisul mulai nampak di diri gue. Gue yang tak acuh, hanya menahan perih. Walaupun terasa nyeri, namanya liburan pasti enggak bakalan diperhatikan. Seolah tak peduli jika bisul keluar sendirinya saat gue mau membayar struk membeli soft drink. Apabila terjadi, yang ada membuat para pembeli yang lain muntah.

Seminggu tak terasa sampai akhirnya gue harus kembali ke rumah. Perjalanan pulang gue rasa lebih cepat ketimbang pemberangkatan. Seakan naik jet tapi kalo gue bayangkan pasti gigi gue bakalan sisa dua saja. Maka dari itu, gue memilih naik kereta kelas ekonomi. Irit, iya. Pilihan mahasiswa banget ketika berlibur ke luar kota.

Tiba di stasiun Purwosari Solo, gue dijemput oleh Bokap. Dia menyapa gue saat keluar dari gerbang. Sekali lambaian tangan dari Bokap, gue ngibrit ke arah dia. Begitu juga dengan kedua teman gue yang mengekor dari belakang.

Setelah wajah gue saling bertemu dengan Bokap, ia langsung mengajak gue ke tempat parkir. Lalu, ada orang lain di belakang Bokap gue. Ternyata eh ternyata, sodara kedua teman gue yang juga menjemput. Mereka akhirnya dijemput dengan kebahagian melihat anaknya tidak melupakan keluarga. Gue yang berada di sebelahnya, langsung pamit.

"Aku duluan, ya." Kata gue.

"Ok. Thanks, ya!" Seru Adhi.

Toni yang sedang menggeret koper, mulai menyusul, "Iya, ok, thanks juga!"

Pada akhirnya kami saling berpisah di tempat parkir. Waktu itu jam menunjukkan pukul 10 malam, tepat. Gue menyambar helm setelah Bokap menyodorkan ke gue.

Gitu helm gue pakai, gue ngerasa nyeri di telinga gue bagian kanan. Seakan kesakitan. Gue lagi sadar, ternyata bisul itu sakit banget. Dan, lebih sakitnya, kenapa bisul nempel di bawah telinga bagian kanan gue?

Sesampainya di rumah, gue keluarkan semua pakaian kotor dari dalam koper. Dengan sangat cepat gue keluarkan, karena sambil menahan perihnya bisul itu. Sesaat kemudian, gue mandi untuk membasuh semua keringat.

Malam itu mulai berputar sangat cepat. Sehingga tak terasa, jam 11 telah lewat. Dan, pada saat gue berbaring di atas ranjang, rasa sakit ini mulai kembali muncul.

Sewaktu berbaring di atas ranjang, gue menoleh ke kanan. Sakit. Gue mencoba menoleh ke kiri. Sakit. Gue enggak menoleh mana aja. Sakit. Gue pilih temgkurep. Sakit. Gue kayang. Tambah sakitttt. Karena sakit semua dalam berposisi, mungkin gue kudu mengambil posisi duduk.

Karena tak kuat menahan, gue dilarikan di rumah sakit pada tengah malam. Waktu itu, dokter memberikan penanganan sangat luar biasa cepat. Seolah gue pasien yang spesial.

Gue di suruhnya berbaring di atas ranjang. Kemudian dia pandangi bisul gue yang ditelinga bagian kanan, lalu bertanya, "Udah lama, Mas?"

"Datangnya ke sini, ya?" Balas gue sotoy abis.

"Bukan. Bukan, bisulnya ini."

"Oh, ku kira. Udah seminggu yang lalu, Dok."

"Waduh, udah gede, ya."

"Iya, gitu deh. Aku aja ngeliatnya ngeri dari hp."

"Di suntik, ya."

"Harus di suntik, ya, Dok?"

"Iya, kalo enggak, nanti meledak dengan sendirinya. Dan, lebih parahnya, bakalan banyak nanah yang keluar tanpa kamu tau."

Gue bergidik ngeri, kemudian menjawab, "Tapi, emang harus di suntik, ya, Dok?"

"..."

Mendengar pertanyaan yang gue ulang, Dokter hanya menggeleng. Kontras wajahnya menatap gue, memasang raut, muka "Apa lo, apa lo, apa looo!!!!" Seolah ingin menyuntik gue dengan paksa.

Karena waktu juga semakin larut, sampai akhirnya penyuntikan bisul di telinga gue, dinyatakan, di mulai. Waktu itu, gue tak merasakan apapun. Jelas, gue dibius. Apabila tidak, bakalan muntah-muntah ngeliat wujudnya.

Pada akhirnya semua berjalan lancar. Puji Tuhan, bisul yang membesar telah kempes. Nanah yang baunya kayak ikan di air comberan, telah dibersihkan disekeliling telinga gue.

Setelah itu, gue diberi obat untuk masa pemulihan. Dokter juga menyarankan, agar tidak melupakan obat itu meski sudah kempes. Karena dia melihat belum sembuh total.

Dari sini, gue sekarang tau. Bahwa bisul itu tidak hanya nampak di bagian tertutup. Tapi juga kadang muncul dibagian terbuka. Karena bakteri tidak mengenal mana bagian tertutup maupun pada bagian terbuka dari fisik manusia.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.