0

Bubur Pengganjal Perut

Posted by Malestha Andheka on 21:55:00
Pada suatu malam, Via termenung sambil menerawang panjang melihat kaca di dalam kamarnya. Kalo udah begitu, Via bakalan lama menghabiskan waktu seperti ini. Seperti biasa yang dilakukan abege lagi galau berat, Via mogok makan. Entah makanan yang dihidangkan Nyokapnya enggak enak atau dia berpuasa pada malam itu.

Kenyataannya, perut Via mengalami keroncongan. Karena empat hari dia tidak makan. Kalo udah begitu, temannya takut mendekat. Bisa jadi, temannya menjadi santapan habisnya ketika mencoba mendekat, apalagi memegang bahunya. Pasti bakal Via remas-remas dengan gigi taringnya. Bentar-bentar, ini manusia apa hewan, sih?

Sesaat itu, Nyokap mengetok pintu kamar dengan hati-hati. "Tok... Tok... Tok..." Bunyinya nyaring tanpa gema sedikitpun.

Via dari dalam, mendengar suara itu. Dia melepas headphone, lalu berdiri dari ranjang ketika bersantai sambil tiduran. Tak lama, Via membuka bilik pintu kemudian membalas, "Ada apa, Ma?"

"Kamu enggak makan?"

"Masih kenyang, Ma."

"Masih kenyang emang kamu habis makan guling?" Nyokap melihat-lihat ruang kamar seraya mengecek semua guling masih utuh.

"Enggak, lah, Ma. Mama ini ada-ada aja. Malah sepatuku yang aku makan. Rasanya susah dikunyah gimana, gitu."

"VIA, BILANG SAMA MAMA KAMU KALO KAMU BERCANDA NAK. MAMA ENGGAK MAU KALO ANAK MAMA JADI GILA."

"Maaahhh, gausah histeris gitu, deh. Dengar orang enggak enak, udah malam, nih."

Nyokap mengelus dada sambil menstabilkan napasnya yang terengah-engah.

"Tarik napas, Ma."

Mendengar aba-aba dari anaknya, Nyokap melakukannya. Berulang kali Nyokap lakukan, seketika bunyi, BROOOTTT!!!! BROOOTTTT!!!! BROOOOTTTTTTT!!!!!

"Via, ah, Mama kamu malah di kentutin."

"Hehehe. Maaf, Ma, habisnya, Via pengin bubur, tapi gak keturutan, sih."

Nyokap berlalu ninggalin Via di depan kamar sambil menutup erat kedua lubang hidungnya. Seolah jika menghirup kedua lubang hidungnya keluar nanah. Via sendiri, baru sadar bahwa kentutnya bau terasi dan jengkol. Betapa suksesnya ia mengeluarkan, tanpa sadar Via mengeluarkan sedikit ampas tokai dengan sukses yang menyebabkan bau makin menyengat.

Via ngibrit ke toilet untuk melanjutkan menabung. Tak lama ia melanjutkan, dia menemukan hal yang paling menyenangkan ketika malam minggu hanya di rumah.

Gitu selesai, Via mencari-cari sesuatu di kulkas. Melihat Via kesulitan mencari sesuatu, Nyokap bertanya, "Kamu cari apa, Via?"

"Mau cari bubur siap saji, Ma. Bukannya Mama dulu beli satu karung?"

"Enggak, siapa bilang? Mama hanya beli satu dus aja, Via. Itupun dulu dusnya bolong, jadi, banyak yang jatuh dijalanan, gitu deh ceritanya."

"Yailaahhh, Ma. Lagipula kenapa Mama enggak cek dulu, sih?"

"Biasa, Mama beli waktu diskon. Lagipula juga, udah kadaluwarsa kok."

"La terus kenapa dibeli?!"

"Kan, berjatuhan dijalan. Sengaja sosial aja, sih."

"Ma, orang gila mah, tau banget, ya, expired makanan kapan."

"Tapi bukan untuk orang kok, cuman biar dibersihin aja kompleks kita sama tukang sampah keliling. Mama lagi ZBL banget deh, ya, sama tukang sampah itu. Kalo cuti satu bulan."

"Yaudah, deh."

Via melengos malas, berjalan tergontai ke dalam kamar. Dia melempar tubuhnya ke ranjang sangat lemah. Seperti abege yang gampang ngambek sama doinya.

Berselang lama, ada messages masuk di ponselnya. Karena suntuk, Via mencari ponselnya itu untuk segera membaca.

Pada layarnya terlihat jelas pesan dari Eka masuk, "Bubur, yuk."

Aku tau yang aku inginkan sekarang, dan aku tau sesuatu yang paling tepat untuk segera aku menjawab, YUK!!!

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.