0

Si Manis Nani

Posted by Malestha Andheka on 14:04:00
Pada suatu malam Nani sedang galau yang mendalam. Galau yang membuatnya malas makan. Galau yang membuatnya malas bergerak. Dan, galau yang membuatnya malas napas. Ehm, mungkin yang terakhir ngaco. Tapi btw, Nani emang pinter napas. Karena hidung Nani mancung. Kenapa begitu, karena hidung Nani kambang kempis bagaikan bunga yang mekar dan subur kalo lagi napas.

Kalo di kampus, Nani selalu diledekin dari beberapa temannya, katanya, "Hahahaha Nani, mancung hidung lo tuh jangan di dalem terus dong". Itu yang biasa, banget malah. Dan, yang enggak biasa itu kayak gini, "Hey Nani, hidungmu tuh gede banget, pesek banget lagi, gimana bisa napas?!"

Jleb.

Semua perkataan itu, Nani tidak memasukkan dalam hati. Nani menganggap mereka hanya becandain dia. Menganggapnya hanya bergurau. Meski ada di antara teman lainnya yang masih bertema ngeledek Nani, dia hanya diem dan menyimpan dalam hati.

Mungkin kalo Nani udah enggak kuat, dia bakalan melambaikan tangan ke kamera dari ke berbagai sudut. Biasanya, temannya yang ngeledek tuh sambil menggebu memperagakkan gerak-gerik hidung dengan gaya mirip monyet kena diare. Entah gimana jadinya dikatain mirip, karena ngeliat wajahnya aja Nani langsung mules mendadak.

Malam itu membuat Nani yang hanya diem di terasnya cuman memandang langit. Bintang yang berada di atas bumi, ia pandang dalam-dalam. Entah Nani merindukan pacarnya, atau Nani kangen dengan kedua orang tuanya yang sedang merantau.

Tak lama, dering ponsel Nani berbunyi. Nani mengangkatnya penuh dengan hati-hati. "Halo." Katanya.

"Halo sayang, besok naik gunung yuk!"

"Ngapain?"

"Mau buang kencing di sana gue, sayang."

"Mending di pispot deh."

"Adanya botol sayang, itu pun botol kecap sama tutupnya."

"Yaudah-"

"Yaudah di pipisin gitu?" Potong pacarnya.

"Enggak, bukan itu yang aku maksud. Yaudah kencing aja di celana."

"Apaaaa?! Tapi tapi tapi, yah yah yah yah haduuuhh, yah yah, eh eh malah udah kencing nih, sayang."

"Hah?! Di mana?"

"Di hatimu."

"..."

Setelah telpon Nani tutup, rasa galaunya sudah tidak mendalam lagi. Sekarang, Nani dapat tersenyum. Nani dapat tertawa. Nani dapat bahagia. Dan, Nani dapat kencing dari pacarnya. Tapi kalo dipikir-pikir, IYA ENGGAK MUNGKIN BANGET KALI YA.

Si manis Nani.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.