0

Persahabatan Dalam Pertemanan

Posted by Malestha Andheka on 10:27:00
Gue tak sempurna seperti Tuhan yang Maha segalanya. Dan, gue tak dapat membeli pom bensin seisinya karena gue tak mampu untuk membelinya. Tapi gue yakin, gue mampu berkreatifitas yang tak pernah habis seperti air di samudera. Jika kamu merasa diledekin teman dari belakang, mari kita simak cerita gue berikut.

Cerita ini diawali ketika kamu telah atau sudah berkenal akrab dengan orang yang selalu menghiburmu tanpa lelah, teman. Iya, teman adalah seseorang yang kamu butuhkan, namun teman juga selalu serupa membutuhkan diri kita. Jadi ada rasa timbal balik yang kuat dari itu.

Pertemanan yang baik selalu menjaga ucapan yang tak kadang salah terucap yang akan menimbulkan bersitegang dengan menggebu persepsi diri sendiri yang tak mau kalah. Hal itu yang sedang gue rasain sejak kali pertemanan gue dengan teman yang baru saja telah gue anggap sebagai teman baik.

Anggap saja namanya Satrio. Dia tipikal orang yang gede banget dalam hal ngomong. Dalam kesehariannya yang gue kenal, dia orangnya tak jago ngobrol. Dia selalu diem bagaikan hewan yang mau ngomong sama manusia susah. Tapi sebut gue aja hewan kali, ya, jangan dia. Takutnya gue gila ngomong sama hewan.

Gede ngomongnya misalnya, "Hey Deka, gue bisa bunuh cicak dengan mata merem lho."

Gue yang males dengernya, cuman bales, "Kalo sambil kayang bisa enggak ngebunuhnya?"

"Gampang bangetlah bego! Di kota gue kan, bunuh cicak cuman sekali sentil. Cicak itu gampang, yang susah komodo."

"..."

Kesombongan yang tak sadar ia katakan, terkadang di mata gue bikin kesal untuk mendengar. Sesekali dia pamer harta, tahta, dan barang yang ia beli, tak ada respons gue untuk menanyakan lebih detail. Saat gue mencoba becandain dia, dia justru ngebalikin kata yang tak sewajarnya untuk mengatakannya. Misalnya, "Hey Deka, kalo cicaknya enggak mati, lo ambil deh tapi syaratnya sertifikat rumah lo gue miliki."

Berkawanlah dengan teman yang selalu berkata polos bukan berkata sombong karena gila harta dari orang tua. Hidup hanya sekali, sombong bukan lebih memperbanyak teman tetapi justru menghilangkanmu dari seorang, teman.

Setelah mendapatkan kata yang cukup meludahin gue, gue hanya mampu mengupas wajah pake gombal. Awas saja, untung kamu sudah aku kenal, jika belum, gatau berakhirnya nanti, batin gue mengatakan.

Sombong tidak baik untuk diucapkan meski kata itu ada bukti, namun kata itu akan menghapus pertemanan yang kini baik menjadi buruk dan, seburuk tak mau mengenal lebih baik.

Pada kesimpulannya adalah berteman dengan orang yang berposisi di atas, tak akan pernah menyambung dengan kondisi ekonomi ke bawah. Akan tetapi semuanya itu bukan suatu masalah posisi untuk berteman.

Karena berteman yang baik dan, memiliki sahabat yang utuh tidak memandang posisi maupun kondisi. Dalam karakter orang yang berdewasa, alangkah baik untuk menyesuaikan lingkungan, mana kala kata yang akan keluar membuat diri orang runtuh atau tersenyum membuatmu tak lepas dari yang namanya persahabatan dalam pertemanan.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.