0

Teman Tapi Dulu, Bukan Sekarang

Posted by Malestha Andheka on 08:41:00
Sebanyak-banyaknya kita berkenalan dengan seseorang, pasti kita akan memperbanyak teman. Namun jika sebanyak-banyaknya teman yang kita kenal, apakah mereka menganggap kita pernah kenal dengan diri kita sendiri? Mari kita kupas lebih dalam, mengenai, teman tapi dulu, bukan sekarang.

Pada awalnya gue berkenalan dengan Didot. Gue samarkan nama dia, lebih mantap. Wajahnya standar, dibanding gue lebih cakepan gue banget. Dia bersahabat dengan gue sejak SMA. Selepas lulus bareng, semuanya mengubah kepribadian di antara pertemanan kita.

Semenjak gue bertemu Didot, dia ngeliat gue seperti orang asing. Ketika wajah kita saling bertemu, dia mengalihkan pandangan lain. Gengsi dong! Bahkan, gue enggak kalah melempar pandangan. Justru pandangan mata gue mengarah ke bawah lalu ke atas, seperti orang mengangguk-angguk tak terkendali.

Tak lama, gue cabut lebih awal dari dia. Pada waktu itu, gue bertemu dia bersama teman barunya di kafe milik Bu Sartini. Gue sebenarnya tau, dia lagi ngobrol bareng temannya, dan tak sengaja ngeliat gue. Tanpa basa-basi, dia malas menyapa terlebih dahulu.

Dalam akun social media miliknya, dia terlihat populer di mata teman-teman. Bahkan, teman barunya berseru banyak melalui komentar. Gue membaca satu persatu komentar itu, bukan karena iri, gengsi, sirik, pengin, ingin, ataupun mengeluhkan. Tapi kenapa berlaga sok bokis tidak mengenal teman lama, lebih memihak teman baru yang masih bisa untuk diceritakan?

Kata pepatah, jika mengenal teman baru layaknya tidak melupakan teman lama. Apakah kata itu adalah kata yang salah untuk dilupakan?

Teman lama, mengerti jelas lebih detail tentang diri kamu, kau tau? Mengenai segi fisik, keluarga, keadaan, tutur cara berbicara, becandaan maupun dari cara berpenampilan. Bahkan, teman lama, bisa selalu ada ketika kau membutuhkan saat sedang penuh keluhan.

Jika teman baru, kau lebih punya wawasan luas darinya. Namun tak sesuai kasat mata kau melihat, teman baru tidak akan pernah sama seperti teman lama. Jika kau tidak menghargai dia, secara finansial, dia gak bakalan menghargai jugalah. (Yaiya!)

Sampai pada akhirnya, entah ada petir apa menyambar hati Didot, tak berselang lama gue bertemu. Dia menyapa gue, lalu gue menyapa balik. Karena wajah kita saling bertemu, sok asyik kami becandaan.

Namun masih ada celah di matanya. Pada waktu yang sama di suatu tempat, dia sedang nongkring bersama teman barunya. Wajahnya bersih, saking bersihnya wajahnya hampir hilang. Oh enggak, dia bukan berarti berteman dengan setan.

Dia duduk bersebelahan dengan teman barunya. Lalu gue melewati pandangan matanya. Tanpa basa-basi, gue menyapanya, sebagai balasan awal dulu dia menyapa gue duluan.

Dua kali sapaan yang tertiup angin, hanya lewat. Sapaan itu seakan mengikuti arah angin melayang begitu saja. Gue menenggelamkan wajah, melengos pergi. Berharap selalu baik, meski dia masih merupakan teman tapi dulu, bukan sekarang.

Apakah kesombongan pada zaman sekarang menciptakan kebahagiaan baru dengan adanya teman baru?

Teman lama akan selalu ada meski sekarang atau nyampe kapan, kau tak pernah menganggap lagi ada. Meskipun sekarang, kau sedang membutuhkan sangat. Karena sesama manusia, tak semena menyuruh untuk mengatur kebutuhan masing-masing. Karena roda kehidupan tak pernah berhenti berputar.

Sekian postingan hari ini, semoga bermanfaat.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.