2

Kesasar Adalah Hal Misteri

Posted by Malestha Andheka on 06:10:00
Pada waktu sore tiba, gue telpon temen gue, Toni. Agar asyik di malem nanti nongkring bareng. Untuk itu, Toni dari Yogyakarta dengan semangat 45 dateng ke rumah gue. Dia membawa mobil bututnya, Avanza. Dia nyetir sendiri, karena waktu itu dia enggak ngeboncengin siapa pun di dalem mobil butut miliknya. Sepi, iya. Ya sama seperti hati dia, juga sepi. Saking sepi di hatinya, tiap kali lagi laper bergema... Ma... Ma... Ma...

Lho, iya, kan? Apa gue bilang.

Gue dijemput tepat jam 3 sore di kediaman rumah gue. Karena gue udah siap, gue nebeng langsung di dalem. Kami berdua mulai saling mengisi mobil seperti bapak dan ibu ingin menjemput anak.

Waktu itu, gue sama dia enggak cuman berduaan. Fadhil dan Adhi juga ingin join buat ramein malem nanti. Mereka berdua adalah sahabat gue yang kadang sering ngamuk kalo di gampar pantatnya pake raket tennis. Karena tidak ingin makan waktu lama, kami beranjak ke rumah Fadhil terlebih dahulu.

Gitu nyampe, gue sama Toni lari ngibrit ke dalem rumahnya. Dia lagi asyik main playstation. Pake kaus oblong, celana pendek batik, dah, pokoknya mirip penjual kainlah. Gue perhatikan semuanya.

Singkat waktu, Fadhil bersiap-siap. Dia tidak lupa mandi dan bedakan ala kadarnya sesudah mandi sore. Kali ini, dia tambah ganteng. Tapi gue tetep enggak tertarik dengannya. Karena tiap kali pipis, pasti nunjuk. Itu yang ngebuat gue ngeri, karena sesama gender. Itu tidak baik untuk masa depan.

Kami berangkat, lanjut, ke rumah temen gue berikutnya, Adhi. Gue yakin, dia udah siap dari tadi siang. Karena gue kabarin dia kalo siang on the way. Padahal jam menunjukkan udah usai magrib.

Di perjalanan yang memakan waktu lama sampe bulu ketek beruban, akhirnya..., kami belum nyampe juga. Waktu rasanya semakin cepat berlalu. Gue tau, di perjalanan seperti di stop motion.

Kami masih saling diem-dieman di mobil. Berselang enggak lama, gue nanya Toni, "Lo hafal jalan Ton?"

"Iya, hafal kok, lewat jalan alternatif."

Toni banting setir lurus nyampe ke bulan. Gatau arah mau ke mana, yang ada kami cuman lurus aja. Namun setelah berapa jam berlalu, kami diem-dieman lagi.

Hening.

"Ton, kok nggak sampe-sampe ya?" kata Fadhil cakep.

"Kayaknya lo mimpi deh, coba bangun." bales Toni ngaco. Banget malah.

"Ton, pliss, gue melek dari tadi."

"Hehehehe."

Gue diem. Gue membatu. Gue takut misal gue ngomong mengganggu akan pendekatan mereka dari obrolan basa-basinya.

Setelah berjalan enggak lama, kami diem-dieman lagi. Dipinggir jalan, terlihat tulisan JUMAPOLO - TAWANGMANGU yang terpampang jelas. Padahal arah tujuan dari Sukoharjo ke Jaten enggak jauh-jauh amat. Yakin, kesasar ini adalah hal misteri yang aneh. Sangat aneh.

Yang jelas, yang aneh adalah kami semua. Tau aneh, kenapa enggak bertanya.

Lalu, gue tanya ke Toni, karena jalan yang kita lewati semakin aneh.

"Ton, kita kayaknya salah jalan deh."

"Enggak kok, bener."

"Dari mana lo tau?"

"Felling sih."

Hening.

"TON BERHENTI TON, KITA SALAH JALAN! AYO PUTER BALIK, INI HUTAN TON, BUKAN RUMAH ADHI!" Sanggah Fadhil kesal, setengah panik, setengah kayang.

"Ha? Apaaaaa?" Toni kaget.

Gue yang bingung apa-apa langsung nimbrung di percakapan mereka aja, "Aaaarrrrggghhhh!!!"

Hasilnya kalo di rekam, perpaduan suara kepanikan kami lebih jelek ketimbang suara monyet yang lagi ngelahirin. Gue yang barusan teriak, sambil diimbangi tutup telinga agar enggak kedengeran suara sendiri.

Namun pada akhirnya, kami menemukan jalan pintas menuju rumah Adhi tercepat. Dengan menggebu, Toni memutar arah balik. Mungkin, kali ini kebenaran akan muncul di benak kami. Itu adalah harapan kami setelah balik arah yang benar.

Sampai akhirnya hal itu pun terjadi. Jaten kota pun telah terlihat. Nahasnya, kami nyampe jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih petang. Karena enggak mau memakan waktu lama, kami berlalu ke rumah temen gue, Adhi.

Sesampainya, kami saling toyor-toyoran. Kemudian mulai beranjak ke Karanganyar untuk menikmati malam itu. Kami nongkring di seberang jalan, tepatnya di depan Korim, sebagai tempat istirahat. Kami pesan segelas es susu sebagai teman kami nongkring di sini. Karena sebagian dari kafe maupun outlet lainnya, sudah tutup. Kami pun nostalgia kejadian yang telah berlalu itu, sambil membahas project gue next time.

Ok, sampe di sini ya cerita gue hari ini. Semoga dari cerita tersebut, bisa membayangkan sendiri temen-temen gue yang absurd, memang absurd. See you, next the post!

2 Comments


Kalau hati kamu sepi nggak? :D


Huahaha lagi pada ben-benan, nih. Gatau siapa yg mainin alat musiknya tapi. :D

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.