0

Lost-Contact

Posted by Malestha Andheka on 21:46:00
DALAM cerita ini gue engga menyuruh kalian untuk kembali ke pangkuan mantan. Entah apa yang gue tulis ini adalah saduran dari salah satu temen gue yang hatinya sedang hambar.

Lo masih inget siapa orang pertama kali yang membuatmu jadi jatuh cinta?

Lo masih inget siapa yang membuat lo sakit hati?

Apabila lo masih ingat itu semua, berarti tandanya lo belum bisa move-on. Kali ini gue sedikit membahas tentang itu semua. Dari yang gagal move-on dengan lost-contact gue jadikan satu. Mari kita simak cerita dibawah ini. Check this out.

Sebut saja namanya Supri. Semenjak Supri sudah putus dengan Ningsih, hati Supri merasa sumringah. Namun hal ini berbeda di rasakan oleh Ningsih kelak. Ningsih mencoba berharap, namun enggan mengatakan.

Sejatinya yang Ningsih harapankan kali ini sudah bisa move-on. Bahkan Supri sekarang sudah mempunyai pacar barunya. Supri juga diam-diam seketika sudah jadian dengan Marni. Di poros mata Supri, Marni jauh lebih beda dengan Ningsih.

Supri dan Marni merasakan kebahagiaan seperti dengan Ningsih sebelumnya. Bahkan dalam diri Supri sudah bisa merasa kenyamanan. Selagi mereka riang gembira, namun Supri juga engga pernah lupa meluangkan waktu sedikit dengan temennya.

Intinya Supri masih bisa membagi waktu pacarannya dengan teman sepermainannya. Hari berikutnya Supri ketemuan dengan Ari di Alfamart. Di waktu itu juga, Supri ingin membeli pulsa untuk segera SMS-an dengan Marni. Dan Ari membeli berbagai cemilan dan minuman.

"Mbak jual pulsa engga?" Supri bertanya.

"Pulsa? Ada mas. Pulsa apa?"

"Tri mbak. Nomornya 089xxx-"

"Yang berapa?"

Ari mendekat ke arah kasir untuk membayar. Kemudian pinggang Ari di senggol oleh Supri.

"Eh Ri. Maksudnya dia ngomong apa tadi?"

"Ooh. Maksudnya kamu mau beli pulsa berapa."

"Owalah gitu."

Ari mulai menyodorkan uangnya ke mbak-mbak kasir. Dalam batinnya menggumam, 'Kenapa temen gue ini lupa bahasa manusia ya?' Ari menggelengkan kepala.

"Sepuluh ribu mbak." Jawab Supri ke mbak-mbak Alfamart.

"Oke. Langsung cek."

Setelah selesai bertransaksi, kami keluar. Supri menceritakan sepenuh hatinya kepada Ari. Tentang masa lalunya dengan Ningsih. Seketika Supri bercuap-cuap, Ari memperhatikan dengan seksama.

"Awal ceritanya begini, jadi denger dari kata temennya Ningsih, ternyata dia masih berharap denganku. Entah benar atau engga, aku belum terenyah fakta itu. Semalem temennya ngeledekin aku kan lewat SMS yang katanya begitu. Masih suka lah, cinta lah, sayang lah, entah lah. By the way, aku beranikan untuk SMS dia untuk basa-basi. Alhasil aku malah DIKACANGIN! Mencoba untuk telepon, aku masih mengurungkan niat itu. Jalankan telepon, SMS aja aku diacuhkan begitu, apalagi aku samperin. Tapi, kata temennya itu lho yang ngebuatku penasaran. Apakah benar atau memang hanya sandiwaranya. Keadaan sekarang, aku memang sudah lost-contact dengan Ningsih."

Ari manggut-manggut. Kemudian mendongakan kepalanya agar dapat berpikir. Tangannya ke dagu, sedikit mencabuti jenggotnya yang panjangnya setengah meter (whats?!).

"Intinya berarti Ningsih belum bisa move-on tuh." Jawab Ari.

"Maybe. By the way, aku sudah dengan Marni. Lagi pula, Ningsih terlalu manja bagiku." Balas Supri, lalu menghela napas yang di keluarkan dari belakang.

BROOTT. BROOTTTT. BROOTTT!

Lega.

FAAKK!

Ari menepis leher Supri akhirnya. Pada akhirnya sampe Supri harus di larikan ke ICU. Kecerobohan Ari memang keterlaluan. Tapi itu demi kebaikan Supri agar Ningsih hendak menengoknya, untuk memastikan kepeduliannya atau malah sebaliknya.

This is the end of stories.

Dari cerita diatas kita bisa membayangkan semenjak putus, langsung lost-contact begitu saja. Setidaknya kita bisa mengerti sejauh mana mantan kita mengerti keadaan kita sekarang. Apabila masih saling suka, kemungkinan bisa dipertimbangkan. Jika hanya mantan belum juga move-on, seharusnya jangan kita langsung lost-contact dengannya. Itu akan jauh lebih menyakitkan seketika diputuskan kelak.

By the way, jika lo diputuskan, terimalah dengan iba. Apabila dia menyesal pada kemudian hari, buatlah pengertian untuk mencari alasan dahulu. Jika lo masih mengharapkan, buatlah lembaran baru untuk menjalin hubungan kembali. Namun jika lo enggan ingin balik, bertemanlah sewajarnya tanpa saling memusuhi. Itu bukan alasan lo kudu lost-contact dengannya.

Pos komentar dibawah sini ya. :D

0

Malam Minggu Kelabu

Posted by Malestha Andheka on 09:46:00
SEMALEM tepatnya pada hari Sabtu yang merupakan malem minggu menjadi saksi dimana gue dengan Alfathoni merasakan hampa. Entah apa yang ada dalam pikiran gue, namun gue senang saja bisa merasakan malam minggu kelabu ini dengan teman gue satu ini.

Bertepatan hari itu juga adalah jatuhnya anak kaum muda sedang mengikuti acara prom yang diselenggarakan di Hailai International Executive Club. Ya. Lebih detailnya lokasi itu di kota Solo sesuai tempat tinggal gue.

Malam itu gue memang sudah fix tidak mengikuti acara prom. Bukan karena malas atau gue kegirangan atau apa. Namun keadaan dalam dompet gue yang menentukan.

Karena sebelum hari H itu gue banyak acara yang sepantasnya harus mengeluarkan duit setiap harinya juga dan menjadi bukti pengeluaran gue yang beruntun boros. Gue memang sangat boros. Boros di dompet. Dan boros di muka. Hwallaahhh.

Seusai magrib, Alfathoni datang untuk samperin gue dirumah. Dia mengenakan polo shirt keabuan dengan celana panjang berwarna cream. Entah apa warnanya memang sama dengan adonan roti.

Gue takjub seketika dia mengenakan kaca mata barunya yang telah dibeli baru. Matanya berbinar seiring menatap gue dengan wajah dongo. Iya memang temen gue Alfathoni ini orangnya begitu.

Dongo dalam diri Alfathoni tuh bukan termasuk tipe dia sering celupin tangannya ke air comberan. Terus, engga juga tiap jam 2 malem keluar buat teriak-teriak gitu. Dongonya dia pada saat kegilaannya seketika mengatakan hal konyol yang dikeluarkan kelak.

Kembali lagi saat Alfathoni samperin gue dirumah.

Gue langsung overacting menanyakan basa-basi dengan dia.

"Gimana ini? Mau kemana kita?"

"Terserah aja. Michael dimana?"

"Dia mah lagi ikutan prom di Hailai tuh."

"Yaudah. Kita ajak main aja."

Rasanya gue pengin sundul kepalanya make tombak. Namun dia beruntung bahwa gue tidak punya tombak dirumah.

"Iya engga bisa lah."

"Kita samperin rumah Denanda aja."

"Oh iya. Kebetulan aku udah kontak ke dia tadi."

"Ngomong piye?"

"Nanya keberadaannya. Dia dirumah. Yowes! Kesana sekarang aja yuk!"

Selang engga lama gue akhirnya meninggalkan rumah. Gue nebeng dan nongkring di belakang kendaraan Alfathoni. Kebutan dia berkendara ngebuat mulut gue cengar-cengir ngeluarin gusi dan busa.

Jarak yang gue tempuh dari rumah gue menuju rumah Denanda menempuh kurang lebih lima belas menit. Itu saja gue menerjang pertengahan sawah daerah Gentan. Gue memang ngga tahu persis nama perumahannya. Untungnya Alfathoni sudah hafal jalan walau matanya di tutupin make kain.

Sampai dirumah Denanda, ia kaget kedatangan kami. Hampir kami diusir karena dia sedang asik senam malam. Entah apa yang dilakukan ngga penting bagi gue.

Akhirnya gue di persilakan masuk di teras oleh pemilik rumah. Berhubung bercuap-cuap kami tak lama, Denanda dengan sigap langsung berganti baju untuk join dengan gue.

Di pertengahan kami bercuap-cuap kembali, Alfathoni memandangi setiap sudut ruangan. Entah apa yang dia lihat, tiap kali gue ngomong pasti hadapannya selalu membuang mukanya ke berbagai sudut.

"Eh Dek. Coba lihat ke atas." Kata Alfathoni.

"Eh cicak kenapa tuh? Kok pantatnya kayak mau hembusin sesuatu?"

"Tuh cicaknya mau boker. Awas-awas hati-hati kepala!" Sahut Denanda sarkas.

Alfathoni ketawa terbahak-bahak yang kedengerannya kayak dia habis nelen panadol tanpa aer.

"Gilak! Beneran boker! Hiiiih menjijikan bener tuh cicak. Ambil karet Ndaaa buruan."

"Karet apa?"

"Karen jebret lah."

"Kayak gimana?"

"Kamu tuh bego atau ingin jadi goblok sih?" Sahut Alfathoni menepis pundak Denanda.

Selang ngga lama Denanda mengambil karet rambut didalam rumahnya.

Ternyata bener, temen gue satu ini memang punya kebodohan luar biasa.

"Bukan itu yang aku maksud." Gue menepuk jidat.

"Yang karet es aku ngga tahu simpennya."

"Biar aku lakukan aja." Ucap Alfathoni langsung menerima yang sudah di sodorkan Denanda.

"Ayo Bro. Kalau kamu bisa matiin tuh cicak dalam sekejap, bakalan dapet pahala!"

"Serius? Kata siapa tuh?"

"Kata primbon sih." Gue ketawa garing.

"Semisal aku bunuhnya setelah jebret terus, langsung cicaknya jatuh aku injek kemudian aku seret. Itu aku tetep dapet pahala?"

"Engga."

"Dapatnya apa?"

"Gebleks."

"...."

Alfathoni berusaha keras meraih cicak itu yang mencoba kabur. Tanpa tanggung-tanggung, ia mulai menggapai cicak itu dengan antusias. Karena dengan karet ikat rambut alhasil kurang mempan, akhirnya dia mulai ambil sapu.

BRUUKKK.

BRUUKKK.

Berulang kali Alfathoni mencoba menggapai cicak diatas dinding, namun berujung gagal ia dapatkan. Kemudian dia ulang kembali sampe akhirnya dia menyerah.

GUE JAMIN SEBENTAR LAGI TANPA SADAR DIA MEMECAHKAN LAMPU DI TERAS INI.

Ternyata dugaan gue salah. Dari pada Alfathoni meneruskan yang ujungnya ngga dapet, ia menghentikannya lalu meletakan sapu itu ditempatnya.

Waktu cepat berlalu membawa kami ke tempat tujuan. Kami pindah pandangan untuk berkunjung ke rumah Ametya. Kemungkinan besar dia ada dirumah. Karena beberapa pesan yang kami kirimkan berbalas dengan dia secara langsung mengatakan sedang dirumah.

Sebelum kami hendak ke rumahnya, gue beli roti bakar di pinggir jalan. Kami jalan beriringan hingga akhirnya tiba dirumah Ametya bersamaan.

Begitu Ametya keluar, kami langsung dipersilakan masuk ke dalam. Kami menikmati beberapa patahan kata yang ngga nyambung kami bicarakan.

Kemudian Ametya masuk ke dalam sebentar untuk mengambil kucingnya yang baru. Memang dia suka banget sama kucing yang hampir kepalanya setengah mirip kucing tipe maning alias manusia kucing. Entah dari mana kata itu, gue yang buat-buat. :p

Ametya kembali ke ruang tamu beriringan dengan kucingnya. Milo namanya. Memang kucingnya mayoritas dinamakan dengan nama-nama makanan. Mungkin Ametya menyesuaikan dengan badan buncitnya yang selalu mengharapkan makanan, kemudian dilanturkan sebagai menetap nama peliharaannya.

Alfathoni mulai histeris begitu Milo keluar. Mungkin dalam mata Alfathoni melihat kucing seolah macan. Sehingga mengakibatkan dirinya jadi makin panik seperti menghadapi malapetaka.

"Met, jaga jarak dong. Aku takut." Kata Alfathoni setengah shock.

"Ini engga gigit Ton. Tenang aja. Jilat aja juga engga."

Alfathoni manggis-manggis. Denanda ketawa garing. Dan gue makan roti bakar.

Begitulah malem minggu kelabu yang gue rasakan semalam. Akhir bulan Mei kemarin lebih tepatnya. Dimana gue merasakan kesepian tanpa seseorang kecuali dengan teman atau sahabat. Tetap selalu riang dengan canda tawa bersama teman.


Malam minggu kalian, apakah pernah mengalami hal serupa kayak gue ini? Poskan komentar dibawah sini yuk!

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.