0

Ikatan Pertemanan

Posted by Malestha Andheka on 12:59:00
DARI keseluruhan pendapat yang gue pernah share di Twitter menurut gue garing banget. Segala referensi yang gue buat kayaknya kurang ampuh juga diresapi. Apa gue goblok banget ya?

Gitu deh.

Itu hanya awalan dalam blog ini. Mungkin gue pengin ngelantur dulu untuk mengawalinya.

Oke.

Gue pengin bahas tentang ikatan pertemanan. Menurut kalian, agar tetap menjalin ikatan pertemanan yang baik maka seseorang harus bagaimana?

Ya. Bener, bener.

....

Kebanyakan jawabnya.

Pertama gue mengawali pertemanan yang buruk. Singkat aja gue contohkan ikatan pertemanan yang buruk. Sebut aja orangnya ini bernama Parman.

Parman adalah tipe orang yang dewasa banget. Status Parman apabila lagi pipis mesti berdiri, udah tahu berarti apa?

Benar. Parman seorang cowok tulen yang tumbuh dewasa.

Kedewasaan Parman mesti selalu memberikan solusi maupun saran temennya yang tiap kali minta pendapat dengannya. Dan hasil yang temen Parman dapatkan olehnya nihil. Ternyata temen Parman hanya mengiyakan seketika Parman berkomat-kamit bibirnya.

Seminggu kemudian, Parman mulai teringat temennya tahun lalu silam ketika melihat photo di dinding kamarnya. Parman cengar-cengir bisa mengenang ketika bisa bersahabat dengan Suki, Esa, Sitijah kelak.

Mereka bertiga adalah sahabat Parman pada saat bergerak dalam menjalani sebuah event kreatif bersama. Di awal mereka menjalani bersama, senyum mereka nampak lebar sampe melebihi pantat masing-masing.

Waktu teringat mengamati koleksi fotonya, membawa Parman ke tahun lalu pada saat kebersamaan dengan mereka.

Pada mulanya mereka selalu bersama-sama mengelilingi kota Jakarta ketika lolos dalam sebuah event kreatif tersebut. Berhubung telah lama berlalu, membuat tali persaudaraan mereka hancurlah sudah. Mereka enggan untuk meluangkan waktu kebersamaannya kembali. Jauh lebih berbeda kelak saat-saat ia menjalani event kreatif tersebut serempak.

Event kreatif tersebut di saksikan oleh banyak orang. Selain banyak orang, Parman, Suki, Esa, Sitijah tertegun seketika mengenal satu sama lain pada saat berkumpul di event tersebut di tempat.

Keheranan yang di rasakan oleh Parman kali ini hanyalah perubahan di mata Suki, Esa dan Sitijah. Seakan jauh lebih dekat dengan temen barunya entah apa yang bercenderung beda dari sebelumnya.

Alangkah baiknya ikatan pertemanan yang logis akan selalu mengingatnya pada saat melalaikan sebuah canda tawa sebelumnya. Kerjasama mereka, jerih payahnya, usaha semangatnya sampai yang berakurat lainnya.

Pada akhirnya sekarang Parman mempunyai seorang sahabat baru yang bernama Udin. Dia selalu bersama seperti jauh sebelumnya dengan Suki, Esa dan Sitijah rasakan. Karena Suki jauh menghilang entah kesibukkannya, sekarang benar menghilang entah kemana.

Ini tidak jauh beda dengan Esa. Yang membuat terlentangnya antara Parman dengan Esa hanyalah jarak. Ya. Sebenarnya hanya jarak, namun juga keterjangkauan mereka untuk bertemu.

Untuk Sitijah, Parman masih bisa menjangkaunya seketika. Jauh sebelumnya hanya kehidupan yang mereka jalani yang mengarahkannya untuk berpisah. Kenapa begitu? Lebih yang tidak heran lagi dibayangkan, Sitijah mulai arogan dengan teman Parman yang jarak pandangnya tidak seperti yang ia kenal pada saat berjumpa pertama dengan teman barunya.

Lebih dari itu sekarang Sitijah merasa sangat nyaman menyimpan rasa simpatinya dalam benaknya. Sitijah hanya kurang rasa empati untuk teman lamanya. Bahkan sekarang Sitijah selalu menganga pada saat teman Parman bercuap-cuap. Seakan memperhatikan, namun kian mengacuhkan.

Lebih booming nya apps Path, Sitijah tidak pernah ketinggalan update. Mungkin dia tidak mau apabila dikatakan gaptek. Dan Sitijah tiap kali di tendang pantatnya pasti bakalan marah dengan raut muka memerah (ya iya lah!).

Tamat.

Dari cerita diatas, kita bisa mencerminkan cara mempererat ikatan pertemanan yang baik dan benar. Kita bisa lebih jelas menilai seseorang dengan mengamati perilakunya pada saat berubah seketika.

Alangkah baiknya, tetap ingatlah temanmu walaupun sekarang menjauhimu. Ingatlah canda tawa sebelumnya pada saat pertama kali mengenalnya.

Zaman sekarang rasa simpati kepada seseorang sudah maksimal seperti yang dituangkan. Namun hanya kurang rasa empati untuk memperlihatkan sebuah kenyataan dari rasa simpati tersebut.

Jadi, jangan lupa isi kolom dibawah ini ya untuk menambahkannya. :D

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.