0

Mahasiswa Baru

Posted by Malestha Andheka on 18:12:00
SENANG, bahagia, riang, ceria mungkin itu semua yang gue rasakan sekarang. Karena gue udah lulus begitu pula dengan teman sekolah rasakan. Ini merupakan momen kebahagiaan yang tidak pernah dilupakan, masuk bersama dan keluar bersama: lulus.

Seminggu kemudian setelah pengumuman, gue ngedaftar salah satu Universitas tetap sama di kota gue sendiri di Solo tepatnya. Dan kenapa gue memilih kuliah di Solo? Ngapain engga ke kota lain? Engga bisa pisah dengan orang tua? Pertanyaan itu sudah banyak di tanyakan ke gue yang akan gue jawab dengan geleng-geleng.

Sebenarnya gue sendiri menginginkan kuliah diluar kota, namun bokap yang berantusias untuk menekankan gue ke Universitas di kota Solo maka gue hanya bisa manggut-manggut.

Kalau nyokap gue tipe yang agresif banget. Sesekali yang pernah nyokap lihat, tonton bahkan lakukan selalu ditekankan ke gue semua. Misalnya ketika nyokap asik nonton acara favoritnya yang tiap malem joget-joget tuh, selang ngga lama kemudian iklan. Tak sengaja iklan tersebut adalah berita.

'Seorang anak dibawah umur setengah shock ketika di sodomi beberapa orang.'

Setelah berita tersebut berganti, nyokap bilang, "Dika kalau kamu di pelorotin celananya sama orang yang ngga dikenal, jangan mau ya! Bahaya!"

Gue manggut-manggut.

Nyokap melanjutkan, "Tadi ada berita di balik iklan tadi, tapi hanya sesaat reportase. Mungkin besok di tayangkan di TV channel ini."

Gue manggut-manggut.

Nyokap masih bercuap-cuap sampai mulutnya masih siaga berkomat-kamit bilang, "Besok kuliah di Solo aja. Mama sendiri masih was-was melihat berita tadi. Apabila yang di sodomi itu udah dewasa kan juga bisa. Mungkin itu hanya di perlihatkannya anak-anak di bawah umur." Nyokap geleng-geleng.

Gue masih manggut-manggut setengah ingin mematikan TV.

Bujug buset!

Mungkin siaran berita yang lagi booming, selalu di putar-putar kembali yang menyebabkan nyokap gue jadi terhipnotis dalam sekejap.

Mendengar komat-kamit ucapan nyokap kemudian bokap bilang, "Yawis benar di Solo aja. Besok kamu daftar sana ke UMS (baca: Universitas Muhammadiyah Surakarta) sama temenmu."

Gue hanya menganggukan kepala menjawab.

Keesokan harinya, Alfathoni datang ke rumah gue. Sebenarnya gue udah berencana barengan untuk mendaftar kesana. Gue engga hanya dengan Alfathoni untuk ke UMS. Terus, gue juga engga sama orang satu kampung yang tujuannya untuk menemani gue daftar Universitas. Ada Denanda temen gue yang orangnya kurus, berambut klimis dan statusnya tiap kali pipis masih berdiri.

Setelah mempersiapkan segala kesiapan untuk dibawa, gue berangkat nebeng Alfathoni. Iya memang, Alfathoni emang temen gue yang baik dan engga pernah mengelak ketika gue nebeng dia. Walaupun ketika ditengah perjalanan alis dia naik dan kemudian dahinya mengernyit bukan alasan malas jemput gue juga. Dia hanya malas kalau gue sengaja grepe dia dari belakang walau sebenarnya tidak. Mungkin dia shock pada saat kejadian dulu dia boncengin banci di sekitar rumahnya.

Tiba di UMS kami langsung markir kendaraan didepan bank Jateng Syariah. Kemudian muncul seorang pria berbadan kekar mengenakan baju berwarna cokelat menghampiri kami bilang, "Mas, mau daftar ya? Parkirnya jangan disini. Ini buat nasabah saja. Situ lho parkirnya." Telunjuk tangannya mengarah tempat parkir yang benar.

"Oh maaf pak. Saya engga tahu kalau sini untuk mahasiswa baru parkir." Jawab gue.

Akhirnya kendaraan kami bersemayan di tempat parkir yang benar. Engga lama kemudian kami sudah masuk ke tempat registrasi untuk data diri. Setelah lama yang berakhir harus menunggu, akhirnya kami tes satu persatu.

"Psssstttt!!! Kamu engga tes?" Kata gue, datar.

"Engga. Hehehe." Sahut Alfathoni.

"Lah? Kok-"

"Aku udah tes sebelumnya. Passing Grade yang aku raih 44. Kamu harus mencapai 40 agar lulus nanti." Potong Alfathoni.

Gue menepis pundak Alfathoni dan bilang, "Soalnya berapa?"

Alfathoni melihat seluruh penjuru ruangan kemudian bilang, "30 Bro-"

Bujug buset!!! Rasanya ingin sesekali menepis pipinya yang lagi geleng-geleng engga jelas. Karena hati gue lagi reda maka gue mengurungkan untuk menepis pipinya.

"Heh! Tadi bilangmu Passing Grade yang kamu dapet 44 lho, kenapa soalnya 30 ngga mungkin banget! Emang soalnya yang buat emak lo?!" Kata gue sewot.

"Eh salah! 50 soal maksudnya." Alfathoni mulai cengar-cengir yang hampir mengenai kedua telinganya. "Tadi engga begitu fokus pas kamu nanya."

"....."

Alfathoni menunggu di ruang tunggu. Gue dan Denanda masuk ke dalam ruangan untuk menjalani tes. Selang empat puluh lima menit kemudian, gue selesai duluan dari pada Denanda. Gue memberanikan diri buat mengacungkan tangan ke atas.

"Mbak. Udah ini." Kata gue sok abiss.

Mbak-mbak penjaga menghampiri gue dengan LCD komputer untuk mengecek. Setelah di cek, klik ting! 'MAAF ANDA BELUM LULUS!'

Rasanya gue ingin menonjok layar LCD itu dan kemudian gue banting setelah itu gue injak-injak.

Sial.

Gue keluar dengan penuh kekesalan. Gue mengulangi dari awal untuk kedua kalinya di meja ruang tunggu.

Selang lima belas menit kemudian, gue masuk kembali. Semua yang sedang serius menatap layar LCD menatap arah gue. Gue mulai bengong, seakan di pandangi dan di amati dalam-dalam.

Mencoba untuk cuek, akhirnya pantat gue mendarat di bangku nomor 4. Kali ini gue kerjakan dengan sungguh-sungguh. Selang dua puluh menit kemudian, Denanda mengacungkan tangannya dan mbak-mbak penjaga ruangan menghampirinya. Dan hasilnya.... Dia langsung LULUS!

Sial.

Gue menepuk jidat. Seakan ingin melemparkan kepala dia dengan hape, namun hape gue engga boleh masuk ke dalam ruangan.

Dengan penuh usaha keras gue memaksa untuk berpikir jeli. Mata gue sekarang fokus. Menahan gemuruh perut gue yang lapar, gue hanya menepuknya seakan biar bisa tenang.

PLAAKKKK.

Krucuk. Krucuk. Krucuk.

Kayaknya perut gue laper tingkat update. Gue ingin coba mengambil hape untuk segera update di Twitter kayak orang-orang bilang, 'Laper nih.' Hasilnya hanya di lewatin tanpa stalking dari seseorang.

Selang dua puluh lima menit sebelum selesai jam yang ditentukan, gue akhirnya LULUS!

Asoy.

Gue keluar langsung dari bilik pintu dengan raut wajah sumringah. Perut gue berteriak kemenangan. Hantaran lagu 'We Are The Champion' mulai mengiringi gue selagi berjalan keluar.

Saat gue udah di balik pintu, Denanda dan Alfathoni langsung berteriak, "Cieeelaahhhh!!!!!!"

Gitu deh kehebohan mereka.

Jadi, kalian yang sudah keterima ke Universitas selamat ya! Aku ada disini nih untuk pilihan yang keduaku untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Pernah mengalami kejadian serupa dengan gue? Tulis kolom dibawah sini ya.

0

Pesan Misterius

Posted by Malestha Andheka on 07:53:00
MASIH terlihat mengada-ada banget, pada saat layar hape gue ada inbox yang masuk. Ternyata ada pesan yang tidak ada nama pengenalnya yang masuk. Kemudian gue buka pesan itu dan segera mengamati apa isi pesan itu.

From: 085xxxx

Tolong yang butuh teman curhat langsung saja hubungi saya di nomor telepon ini ya 081xxxx.

Ini emang masih zaman ya? Gile. Mau gue tanggepin, gue masih berpikir tentang pulsa gue. Akhirnya gue mengurungkan untuk membalasnya.

Selang lima belas menit kemudian, ada inbox masuk kembali di layar hape gue. Tanpa segan gue langsung membukanya. Kebetulan gue lagi buka message.

From: 081xxxx

Tolong transfer uangnya di nomor rekening saya ya, 2638xxxx. Saya sudah bilang sama Papa kamu kok.

Ini apabila dibaca orang idiot yang kebetulan mempunyai hape baru, alangkah kasihannya penipuan kesalahgunaan?! Meski ini dilakukan secara sengaja dengan acakan nomor, namun membuat mata jeli untuk menanggapi. Jika seseorang merasa dirinya membaca tuh tidak penting maka tidak akan dibalas satu pesan pun. Apabila seseorang merasa dirinya kesal dan mencoba membalas maka akan sebaliknya.

Selang satu jam kemudian, gue dapat inbox lagi yang isinya masih tetap sama tentang uang dengan haluan kata yang berbeda seperti ini.

From: 081xxxx

Tolong isikan pulsa ke nomor Papa ya nak, nomornya 085xxxx ngga usah banyak-banyak. Cukup 100ribu saja.

Misterius. Ini memang orang yang kerjaannya hanya kibulin seseorang. Dengan cara seperti ini, seseorang yang ngerjain orang lain apakah sudah cenderung puas?! Apabila demikian, apa sih misinya mengacak nomor dengan sebuah penipuan.

Gue tetep diam dan langsung membaca sebentar kemudian delete pesan itu tanpa lama. Gue engga menyimpan nomor itu, nan kemudian langsung gue delete apabila mendapat pesan yang menyusul.

Pesan misterius ini bercenderung hal yang engga bermutu untuk dicontoh. Sesekali kita contoh, mungkin kita bakalan ditelusuri jika kita tanpa sengaja memberikan nama tanda pengenal di pesan itu. :p

Apabila kalian mengalami hal yang serupa dengan gue alami, subscribe dibawah sini ya. Ingat. Ngga usah ditanggepin pesan misterius yang berujung meminta duit.

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.