0

Tikus Yang Malang

Posted by Malestha Andheka on 06:49:00
TIAP hari gue paling sebel soal tikus yang selalu berlarian kesana kesini dirumah. Kadang masuk dalam kamar gue dan kamar nyokap. Sekali pintu ruang tamu di buka, ribuan tikus masuk! (iya engga juga sih). Gile. Kayak orang yang ngga sabar masuk rumah.

Saat gue tidur malem nih ceritanya. Kepala gue miring ke kiri berhadapan dengan almari. Mata gue masih melek, sambil mainin hape. Waktu itu gue lihat jam masih 22.00 WIB.

Waktu gue online twitter, tikus itu mulai mengusik almari gue. "Krek! Krek! Krek!" Seperti itulah suaranya. Gue tutup hape langsung melototin tuh almari. Alhasil suara itu langsung berhenti.

Aneh. Gue garuk-garuk kepala. Gue lanjutin lagi online nya. Alhasil tikus itu langsung mengusik kembali engga ada habisnya. Langsung gue tutup hape, langsung gedorin tuh almari.

"Dok. Dok. Dok. Dok." Ketukan tangan gue ke pintu almari.

Setelah gue gedor tuh almari, mengakibatkan tikus langsung membalas dengan, "CIT. CIT. CIT." Mungkin tuh tikus mengatakan ke gue dengan, "Anjrit! Sialan lo!"

Gue berhenti untuk menggedorkan almari dan kembali duduk di ranjang. Setelah gue duduk di ranjang, tikus itu mencoba godain gue dengan mengganggu gue agar tidak bisa tidur. Huh!

Setelah beberapa menit kemudian, gue masih habiskan waktu buat mengusir tikus dengan berbagai cara. Dari mulai memancingnya make biskuit. Alhasil tikus itu hanya lewat. Saat gue memancingnya make duit seribuan. Alhasil tikus itu engga nongol. Gue tambahin lagi duitnya jadi dua ribu. Alhasil tikusnya belum nongol juga. Gue mulai pasrah.

Pas gue memancingnya dengan DOMPET. Tikus itu langsung lewat di belakang dompet yang gue letakkan di dekat almari. Gue langsung lari untuk kejar tuh tikus sambil megangin guling.

Oke. Tikus itu akhirnya bebas dari kamar gue. Tikus langsung lari ngibrit-ngibrut sambil ngepot-ngepot pantatnya. Lima belas menit kemudian, bokap datang setelah usai nongkring dengan cs nya.

Gue berharap supaya bokap bisa bikin jebakan buat tuh tikus. Untungnya diatas rak dapur, bokap masih menyimpan racun tikus dan gimana yah yang ini biar kelihatan sopan katainnya? Yaudah deh, RACUN TIKUS. Tunggu! Ada yang deh perasaan. Yang benar tuh LEM TIKUS.

Gue potong kardus menjadi persegi panjang. Agar engga miring, gue gergaji aja deh. Sementara bokap memasang racun tikus di berbagai sudut ruangan. Saat semuanya sudah terpasang racun tikus di berbagai sudut ruangan, lem tikus gue pasang di dekat almari kamar gue.

Bokap juga meletakkan kandang tikus yang sudah diberi ikan segar agar tikus terperangkap di dalamnya. Dan sekarang, gue matikan seluruh ruangan. Setelah selesai gue matikan semua lampu, gue kembali masuk ke kamar.

Bilik pintu kamar, gue tutup kembali. Dan gue langsung tidur untuk melihat santapan mana tuh tikus terperangkapnya.

Keesokan harinya, sinar matahari mulai menyinari jendela kamar gue. Seperti biasa sebelum gue bangun, gue ngulet-ngulet dulu sekaligus kumpulin semua nyawa yang melekat di ranjang. Setelah gue perhatikan jam dinding yang diatas atap gue, eh salah maksudnya diatas meja komputer. Ternyata menunjukkan pukul 10 pagi. Yang buat gue masih subuh untuk bangun.

Gue paksa diri gue bangun. Gue berjalan buat ngebuka bilik pintu kamar. Tepat gue buka, bokap mengejutkan gue yang tiba-tiba ingin masuk ke kamar gue.

"Haduh!" *respons kaget* Tampang wajah gue setengah pasang oh my God.

"Wooohh." Kata bokap, datar. "Mau beri tahu, tuh tikus sudah terperangkap di kandang yang Papa pancing dengan ikan segar."

"Bujug buseeett!!" Ujar gue. "Pilih makanan berarti tuh tikus. Coba lihat."

"Udah Papa letakkan di depan rumah." Balas bokap.

"Yailahhh. Udah mati?"

"Iya belum sih." Ucap bokap.

Gue berjalan menuju depan rumah sambil memandangi kandang perangkap itu yang sudah berisi tikus.

*memandangi kandang*

"Pa, kok ini tikusnya gede banget ya." Ucap gue, datar.

"Namanya tikus manja tuh." Balas bokap.

"Kok bisa gitu?" Sahut gue. "Nih tikus kayaknya mau ngelahirin deh Pa. Kok kayak ngeden-ngeden gitu mukanya."

Bokap memandangi tuh tikus dalam-dalam. Kemudian membalas, "Iya ya. Tunggu bentar Dik."

Gue masih memandangi tuh tikus yang malang. Setelah gue pandangi, gue coba berinya pernapasan menyemburnya dengan air liur.

"CIT. CIT. CIT. CIT." Gilak suaranya. Engga segitunya juga bau gue kali kus!!!! Gue setengah gila karena tikus mengelak tanggapan gue.

Lalu, bokap keluar dengan membawa air panas seceret di genggamannya. Bokap menggotongnya lalu meletakkannya di samping kandang perangkap tikus.

"Minggir dulu Dik. Ini panas!" Kata bokap.

"Lah? Buat apa?"

"Di tuangin ke tikusnya lah." *bokap langsung angkat ceret*

"Tunggu! Tunggu!" Ujar gue.

"Apa? Atau kamu aja yang nuangin?" Bokap menyodorkan ceret ke gue.

"Engga. Engga apa. Hehehehe."

Gue engga setega bokap cara mematikannya perlahan-lahan dengan menyiramnya dengan air panas di sekujur badan tikus. Melihat seluruh badan tikus terbasahi air panas, kemudian mati kaku.

"Nih Dik tikusnya langsung mati sekejap kan?" Kata bokap.

Gue membalasnya dengan bengong.

"Sekarang masukkin tuh tikus ke dalem tas kresek. Ambil sana didalam. Terus buang ke sungai ya jangan tong sampah, nyebar baunya." Jelas bokap.

Gue masuk ke rumah segera mencari tas kresek. Pas dapet, langsung gue keluar buat masukkin tikus ke dalem tas kresek. "Sek. Sek." Begitulah suaranya.

Bokap boncengin gue agar membuangnya ke sungai. Dengan pelan, bokap menjalankan kendaraan. Sampai di sungai, tikus itu gue lempar ke sungai. Bye tikus yang malang.

Jangan lupa buat subscribe dibawah ya. Thank you.

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.