0

Rasa Sirik

Posted by Malestha Andheka on 20:36:00
KENAPA sekali kita mendengar rasa sirik dari orang langsung beranjak ngelawan? Ya. Pasti kita tidak terima apabila di bisikan orang lain yang tidak semena-mena menghina.

Sebelum gue menulis tentang rasa sirik, gue sudah banyak introspeksi diri. Dari semua yang gue pelajari, memuai sebuah hasil pendapat.

Alih-alih seperti Bejo. Kita contohkan nama Bejo ini adalah orang eksis dan gaul dari pada kalangan temennya.

Bejo orangnya sangat sabar dan rendah hati banget. Sekali dia dihina temennya, dia hanya terdiam tidak berkutik apa pun. Segala yang dilakukannya selalu salah di mata teman-temannya.

Saat Bejo berkenalan dengan orang lain dari beberapa sekolah, Bejo sering di katain anak eksis dan bla bla bla oleh kalangan temennya. Rasa sirik temennya mungkin dapat dikatakan ingin seperti Bejo. Namun, bisa dikatakan hanya ingin berantusias membuat masalah dengan Bejo yang tidak bersalah.

Di sekolah, Bejo hanya berharap agar cepat pulang. Dia tidak kuat lagi karena tekanan temennya yang menghinanya. Dalam kelas lainnya, Bejo terkenal sebagai cowok yang selalu kacangin gebetannya. Entah kenapa Bejo selalu menjadi bahan pembicaraan mereka.

Sebenarnya Bejo gampang banget untuk mendapatkan seorang wanita. Namun, Bejo enggan mengutarakan hatinya. Bejo kurang handal mengatakan sebuah kata yang menurutnya kurang ahli. Dalam diri Bejo sendiri, berkeinginan ingin berpacaran. Setelah banyak wanita yang telah di dekatinya, semua berujung gagal karena Bejo yang terlalu lama mengungkapkan.

Bejo selalu tidak cepat untuk mengambil keputusan. Hingga akhirnya, Bejo selalu menyiakan kesempatan manisnya. Sebelumnya, Bejo selalu membayangkannya dalam mimpi. Setelah banyak kali bertemu, Bejo nervous di hadapan wanita yang dia suka.

Pada mulanya, Bejo adalah seorang laki-laki yang hiperaktif banget. Hiperaktif ini kadang sering dikatain temennya sangat lebay dan bla bla bla. Bejo bingung harus bagaimana agar temennya bisa menerimanya sesuai dengan kelompok pergaulan mereka.

Untungnya Bejo mempunyai teman yang selalu menemaninya. Walaupun Bejo tidak mempunyai banyak temen, namun Bejo sangat senang bisa tertawa dan tersenyum dengan sahabatnya ini. Jauh dekat sahabatnya, selalu membantu Bejo di saat ada malapetaka menimpanya.

Bejo engga kurang-kurang banget untuk bercerita tentangnya ketika ada masalah. Bahkan sahabatnya pun juga sebaliknya. Setelah Bejo sudah mempunyai banyak teman, Bejo tidak akan melupakan teman lamanya. Bejo memang bermoral baik, selalu mencerna kata orang tuanya yang selalu menasehati dirinya.

Teman-temannya yang selalu ada rasa sirik dengannya pun mencoba mendekati Bejo kembali. Bejo pun tidak menolak. Bejo selalu membuka lebar siapa yang ingin mengajaknya untuk berteman.

Tamat.

Bagaimana menurut kalian kisah Bejo ini? Apakah serupa dengan pola tingkah laku kita?

Mungkin itu dulu kisah Bejo yang selalu dihina di kalangan teman sebayanya. Ini akan beridentik lebih memutar dalam diri seseorang untuk berpikir dewasanya.

Bahwasanya kita sebagai mahkluk sosial, maka kita harus juga saling mengenal budaya luar. Apabila salah satu teman kita sukses nanti, buatlah dia sebagai acuan selama ini. Agar menjadi baik dan lebih dari baik lagi, maka kuatkan keyakinan untuk mendorong kita kelak bertindak.

Yaksip. Subscribe disini yuk agar teman kamu ikutan meninggalkan posting komentar. Semoga terbungah dalam berteman yang baik.

0

Tentang Tulis Menulis

Posted by Malestha Andheka on 17:46:00
HAAAAHHH. Nulis itu susah. Siapa bilang nulis itu susah? Engga kok. Gue sempurnakan kata engga, menjadi mudah. Apabila kita berusaha untuk belajar, maka kita akan mahir dalam menulis.

Sejak gue masih kecil dulu, duduk di bangku TK. Ya. Tepatnya di TK Bayangkara gue berada. Disana gue belajar mewarnai dan diajarkan cara memegang pensil dengan benar.

Gue inget pertama kali gue sedang disuruh mewarnai pakai crayon. Alhasil mewarnai di kertas aja gue engga merasa PW. Sering banget gue menggambar di dinding yang sebagian gambarnya engga ada artinya.

Menggambar gunung aja udah kayak botol kecap. Lalu, gue alihkan menggambar orang. Alhasil menggambar kangoroo tanpa kepala. Tsaah. Gue setengah menyerah dalam hal tentang menggambar dulu.

Beranjak gue duduk di bangku SD, gue belajar menebali huruf dan angka. Gue banyak belajar tentang tulis menulis sekarang. Tiap kali menulis, mata gue langsung jeli. Akhirnya gue mulai senang mencoba menulis itu ketika dirumah.

Saat dirumah, gue mengkutip kembali angka dan huruf yang telah diajarkan. Nyokap paling shock melihat gue ketika gue berpura tekun, namun sebenarnya gue memang sudah menyukai tulis menulis.

Pada akhirnya, ketika gue menulis gue sudah banyak banget hal-hal yang akan gue tuliskan. Di masa SD gue akhirnya bisa menulis sebuah kalimat demi kalimat. Tepatnya kalimat pendek seperti: Budi makan durian. Dan durian makan Budi.

Gue menulis dengan huruf kapital. Setelah nyokap bokap membenarkan tulisan gue, akhirnya gue mengerti kesalahannya. Dan kesalahan ketika gue menulis adalah dari tulisan kapital tersebut. Yang kadang menyelesaikan hipotesis ini lebih rumit. Namun, terselesaikan ketika gue sadari.

Tiap kali gue menulis SMS di hape, gue tidak menulis huruf kapital lagi ketika temen gue SMS. Alhasil akan salah pengertian dalam hal membaca jika tulisannya gede semua. Hehehehe.

Akhirnya gue menulis biasa dengan alakadarnya tegak. Kelak semua pertahapan demikian, gue harus belajar juga menulis huruf latin. Kali ini ngebuat gue makin tertekan. Jujur. Gue paling jelek banget menulis huruf latin, namun huruf tegak justru sebaliknya.

Menginjak SMP ini, guru tidak mewajibkan tulisan huruf tegak atau latin. Gue menetap tulisan tegak sesuai yang gue tulis. Dari banyak narasi yang gue petik, gue kutip kembali dengan membuat outline di karangan gue.

Pada mulanya, tentang tulis menulis sebebarnya ada beberapa hal yang penting sebelum menuliskan. Diantaranya sebagai berikut.

1. Niat berkonsisten. Yang artinya mampu menyelesaikan tulisan hingga akhir.
2. Ide dasar.
3. Gaya bahasa.
4. Tema.
5. Plot.
6. Judul yang akan digunakan.

Sebenarnya memang tidak sulit jika kita praktekkan. Sebelumnya, memang terasa susah apabila mengerjakannya tidak pede. Kadang ketidak pedenya inilah yang kelak memberhentikan kita untuk berkonsisten.

Kali ini gue menulis sendiri paparan kalimat diatas. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

Jadi, subscribe dibawah sini. Tinggalkan posting komentar agar kita bisa berkembang menjadi seorang penulis.

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.