0

Best Friend

Posted by Malestha Andheka on 20:12:00

TENTANG teman gue dan sahabat. Mungkin jauh lebih dekat gue sebut mereka best friends. Lebih dekat dengan kita yang mengerti keadaan kita.

Diakhir selesai UAN gue pergi ke Jogja dengan Alfathoni dan Denanda. Mereka berdua sudah merencanakan berpergian sebelumnya dengan gue. Kali ini baru berangkat setelah empat hari sesudah UAN usai.

Kami bertiga lebih memilih naik kereta dibandingkan naik kendaraan sendiri. Kenapa? Karena kami engga akan lama disana. Gue ada tujuan untuk kesana.

Keesokan harinya gue bersiap-siap menuju stasiun Purwosari. Jarak stasiun dengan rumah gue engga begitu jauh. Apabila gue jalan kaki, di jamin bikin keringatan engga tahu wajahnya berubah kayak apa.

Gue datang tepat waktu sesuai janji pukul 6.15. Sangat pagi dan untuk kelas 1 dan 2 SMA sedang berkejar-kejaran agar tidak terlambat sekolah. Gue duduk di samping warung sambil melihat jalan. Embun pagi mulai tak terlihat lagi. Yang ada justru sinar matahari yang mulai menyinari pangkuan gue.

Panas pagi mulai membuat silau mata. Terpautnya tiket kereta, gue masih tetap berdiri menunggu temen gue yang mengulur.

Setengah jam kemudian, Denanda datang. Dia lebih awal datang dibanding Alfathoni. Denanda diantar oleh bapaknya yang sekalian akan mengantar ade nya ke sekolah. Dia sangat akrab dengan bapaknya. Setelah sampai di stasiun, dia mencium HELM yang kelak dikenakan. *lap iler*

Dan sepuluh menit kemudian, Alfathoni berlari dari arah parkiran kendaraan. Dia mengenakan baju berwarna biru muda. Celana panjangnya berwarna biru dongker. Kaos kakinya putih dan di selimuti sepatunya yang kecokelatan.

Jauh memandangnya, gue hampir salah mengira. Gue yang tadinya memandangi dari sebuah penampilan. Di sampingnya ketika dia berjalan, ada seorang penjual french fries yang menyerupai dirinya. Namun, perbedaannya penjual itu sudah amat tua yang nampaknya beda kelak.

Setelah kami bertiga berkumpul, segera membeli tiket untuk naik kereta. Kebetulan sekali kereta yang akan kami naiki ke Jogja sudah standby di hadapan kita. Lalu, kami berlari untuk masuk ke dalam kereta.

Di dalam kereta, gue melihat sama persis dengan guru bahasa Inggris gue di zaman kelas 2 SMA. Dia mengenakan jilbab dan berlagak Bahasa Sunda. Ini atau karena gue terlalu kangen di masa SMA apa kenapa, dalam batin mengatakan.

Beberapa menit kemudian, kereta Sriwedari AC membawa kami ke kota Yogyakarta. Hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam 15 menit. Kami berhenti di stasiun Lempuyangan. Stasiun yang sudah berusia sangat tua dari pada gue.

Tiba di stasiun, gue melihat GPS yang terdeteksi di hape. Gue ingin langsung ke PT Agromedia Pustaka. Setelah searching akhirnya menuai hasil. Kami berjalan dengan arah sesuai GPS yang menunjukkan.

Ditengah perjalanan, Alfathoni tidak terlihat lesu. Dan Denanda merasa sangat senang apabila gue mengajak jalan lebih jauh lagi ke Semarang dengan berlari. Dari stasiun Lempuyangan menuju PT Agromedia Pustaka memakan waktu kuran lebih 4,5km.

Setengah perjalanan, kami tersesat diantara perkampungan. Karena GPS yang terdapat di hape menyesatkan kami di sebuah kampung yang tidak mengerti tempat PT Agromedia Pustaka.

Gue beranikan diri untuk menanyakan ke seorang ibu-ibu yang berjualan didalam rumahnya. Setelah ibu-ibu itu keluar, nampaknya sama persis dengan guru gue yang mengajar PKn di kelas 2 SMA. Ini bercenderung ngebuat gue ingin kembali pulang. Karen gue berhalusinasi membayangkan guru SMA.

Beberapa orang yang gue menanyakan orang, gue tidak mendapatkan arah selanjutnya. Denanda mulai menyerah mencari. Dia terlihat lelah. Mie yang di pegang Denanda di remas erat-erat. Setelah gue menoleh Denanda, dia justru terlihat membayangkan wajah gue seperti mie yang diremasnya erat-erat.

Kami mulai putus asa untuk mencari PT Agromedia Pustaka dimana. Karena kami tidak punya rasa menyerah, kami bertiga memutuskan untuk naik bus trans Jogja. Setelah beberapa menit kami menunggu, akhirnya bus trans Jogja datang.

Didalam bus, gue melihat kernet yang menyerupai guru matematika di waktu kelas 2 SMA. Badannya tegap sambil berpegangan pintu. Gue memperhatikannya dalam-dalam seakan tidak memiripkan wajahnya. Denanda dan Alfathoni tertawa terbahak-bahak nyampe bus bergoyang sebelah. Untungnya bus tidak menghentikan jalannya karena kita yang naik.

Bus trans Jogja membawa kami tidak begitu jauh dari PT Agromedia Pustaka berada. Namun, kami masih belum tahu keberadaannya. Kami mulai turun dari bus dan berjalan kembali.

Kami cek point dulu di Alfamart. Toko dimana temen gue Alfathoni dulu di lahirkan. Di waktu dia masih kecil, ibunya sering belanja di toko Alfamart. Pada akhirnya, ibunya tidak sengaja ngelahirin anak. Karena tidak ada dokter yang mengusulkan sebuah nama, ibunya mengganti kata "Mart" menjadi "Toni," namun kata Alfa tetap. Setelah di gabungkan hingga akhirnya menjadi nama dia: Alfatoni. Asoy.

Tidak lama kemudian, kami mulai melanjutkan perjalanan. Masih tetap, kami jalan kaki. Karena panas matahari sangat menyengat, kami memberhentikan becak yang kebetulan lewat. Gue beranikan diri untuk bertanya.

"Pak, PT Agromedia Pustaka itu dimana letaknya?" Kata gue. "Jauh atau udah deket ini?"

"Ha? Itu apa?"

"Itu penerbit Pak." Ujar gue, sabar. "Kalau Penerbit Bukuné bapak tahu?"

"Iya. Bukune siapa? Setahu saya ..."

"Maksud saya Penerbit Bukuné Pak." Potong gue, menjelaskan.

"Tahu saya kalau Penerbit itu Erlangga mas. Engga jauh dari sini. Kalau yang mas bilang engga tahu saya. Coba arah Erlangga aja gimana?" Kata sopir becak. "Kalau engga jauh, gausah dibayar aja."

"Oke deh." Ucap gue. "Tapi, kami bertiga lho pak."

"Gapapa. Ayo naik."

Becak itu membawa kami ke Penerbit Erlangga berada. Setelah tiba disana, gue turun. Gue bertanya ongkos jalannya.

"Berapa Pak?"

"25ribu mas."

"Lah? Bukannya dekat tadi engga bayar?"

"Siapa bilang? Kan masnya bertiga."

"Bapak sendiri yang bilang terus, ...."

"Capek menggayuh sepeda walaupun jarak dekat atau jauh." Potong sopir becak.

"Gitu deh." Ucap gue lalu, menghela napas."Yaudah ini pak." Gue menyodorkan duit kepadanya.

Lalu, gue masuk ke dalam Penerbit Erlangga. Di hari Sabtu Penerbit Erlangga begitu sepi. Mungkin gue datang di hari yang salah.

Setelah masuk ke dalam, Denanda memberikan saran ke gue. Sementara Alfathoni menatap penjuru ruangan redaksi. Dia tertegun sebuah gedung yang sangat besar.

Saat duduk di bawah pohon, gue sambil kipas-kipas dengan jari tangan. Dengan spontan Denanda memberikan saran, "Kenapa engga coba telepon aja Dek?"

"Oh iya. Aku telepon deh."

Setelah gue coba telepon, akhirnya team salah satu redaksi menjawab.

"Hallo, kami dari team Redaksi Agromedia Pustaka bisa dibantu?"

"Iya hallo mas. Kami bingung kesana, saya mau kirim script saya. Dari arah mana ya mau menuju kesana? Saya tersesat di Penerbit Erlangga."

"Ohh ya bisa. Bisa. Mas jalan ke arah utara aja kira-kira 1m. Nanti didepan Alfamart pas Agromedia Pustaka."

"Oke. Oke. Siap mas. Makasih mas."

"Iya. Sama-sama mas."

Mendengar jelas alamat secara detail, gue lebih bersemangat. Naskah yang akan gue kirimkan gue gotongin di tangan kanan. Alfathoni mendengar kata Alfamart, dia lebih bersemangat. Dia memimpin jalan didepan. Kemudian, mencari Alfamart.

Setelah menemukan Alfamart, kami mengerti Agromedia Pustaka berada. Tepat pas di seberang jalan Alfamart berada. Kami bertiga langsung masuk dan bertemu langsung dengan mas Johan selaku team Redaksi. Gue menyerahkan script gue yang kebetulan belum gue jadikan lap keringat. Karena diluar begitu panas.

Mas Johan menerima script gue. Dia akan menyampaikannya ke Mas Tepe pada hari Senin. Karena hari Sabtu Redaksi tutup. Gue salah pilih hari untuk berkunjung kesana langsung.

Senang sekali gue sudah lega setelah menyodorkan script secara langsung ke salah satu team Redaksi. Selesai, kami keluar menuju pintu gerbang. Alfathoni berteriak sangat senang sambil menurunkan celananya. Denanda terlihat bugar kembali semangatnya.

Yang gue sangat senang, gue mempunyai salah satu teman yang mengerti akan kebutuhan gue. Dan yang paling terpenting dalam berteman, selalu mengikat tali persaudaraan. Pada akhirnya akan selalu teringat oleh datangnya kebahagiaan. Best Friend.

Subscribe disini ya. Posting komentar kamu mengenai hal diatas. Thank you for visit!


0

Cita-cita Masa Kecil

Posted by Malestha Andheka on 13:35:00

SEMASA gue masih kecil dulu, gue masih inget ketika berdebat soal cita-cita. Gue berdebatan banyak dengan saudara gue. Karena saudara gue terlihat lebih menjengkelkan dari raut wajahnya.

Setelah gue perhatikan, gue merasa redup dari rasa menjengkelkan. Namun, masih tersimpan dalam benak gue yang tadinya gue ganti dengan penuh kebajikan.

Di masa gue masih kecil ini, gue sering main dengan saudara gue berupa: inspirasi. Gue detail kan ceritanya. Tepatnya ketika gue masih duduk di bangku TK nol besar. Masih kecil yang tiap kali mandi pintu kamar mandi gue buka lebar. Karena gue takut berada di dalem sendirian. Hehehehe.

Gue lahir tanpa mempunyai seorang ade. Dan gue lahir sebagai anak tunggal seperti dakochan. Tanpa mempunyai seorang kakak yang seperti teman-teman gue.

Saudara gue mayoritas berkelamin perempuan. Sementara yang berkelamin seorang laki-laki sudah pada gede dan beranjak SD dan yang paling tua SMP itu anak dari tante gue.

Karena gue masih TK nol besar, gue main dengan sepupu gue yang masih TK nol kecil. Hanya terpentang jarak 1 th tepatnya. Kadang dirumah ramai. Bisa di karenakan ada tamu dan temen gue atau temen sepupu gue yang berkunjung ke rumah.

Ketika gue sendirian dirumah sama sepupu gue, sering banget main dokter cilik. Yang tiap kali sepupu gue berpura-pura sakit, gue langsung obati dia dengan alat medis berupa: setrika.

Karena dulu gue belum membeli perlengkapan dokter yang terbuat dari plastik buat mainan anak, gue pake tuh setrika nyokap buat mainan. Hingga akhirnya, gue menggosok seluruh badan sepupu gue denga setrika.

Namun, gue masih merasa tidak tega melihat sepupu gue yang gue gosokin badannya pake setrika. Gue engga sampe colokin tuh kabelnya ke stok kontak. Alhasil badannya jadi terpanggang panas dan gue masuk ke dalam kategori psikopat.

Di kala sedang berinspirasi dari cita-cita yang kurang logis, namun gue sudah mengidamkannya di waktu gede nanti. Di waktu gede nanti gue ingin jadi dokter. Ya. Dokter. Namun, cita-cita bisa berubah-ubah.

Seperti halnya waktu gue belum bersekolah di TK Bayangkara. Gue di tawarin oleh nyokap tentang cita-cita.

"Dika. Besok gede mau jadi apa?" Tanya nyokap, dengan suara ke ibu-ibuan.

"Jadi ...."

"Hayoo mau jadi apa?" Potong nyokap, sambil mengelus kepala gue.

"Jadi ........ Jadi MICKEY MOUSE MA!" *lap iler*

"Loh kok Mickey Mouse? Itu bukan manusia Dika. Itu hanya di film kartun." Kata nyokap, sambil mengelap iler gue yang keluar.

Gue terdiam sebentar.

Lalu, gue meneruskan bertanya.

"La kalau superman gimana Ma? Kan nanti aku bisa bantu orang-orang di jalanan."

"Kamu engga langsung jadi pemadam kebakaran aja? Itu bagus. Selain membantu orang, juga menakhlukan api yang memakan korban." Sahut nyokap, menjelaskan.

"...." Gue bingung entah yang dibicarakan nyokap.

Sebuah cita-cita dari dulu yang di idamkan bukanlah hanya sebuah arah. Bukan hanya pantauan untuk mengarahkan. Apabila ada usaha pasti ada jalan keluarnya untuk memperolehnya.

Sebenarnya cita-cita di masa kecil akan selalu teringat ketika dewasa nanti. Pada mulanya akan mendorong di saat usaha yang dilakukannya.

Baik sebuah cita-cita yang di idamkan dulu dan sekarang. Usaha yang kita salurkan berdasarkan sebuah bakat dan sebuah hobi. Dengan keduanya itu saling berkaitan. Adanya keduanya itu saling kuat untuk melanjutkan seseorang untuk mendorong acuan cita-cita di masa yang akan datang.

Yaksip. Sekian dulu. Posting komentar kamu di bawah ini yap. Semoga bermanfaat dan berguna untuk kita yang bercita-cita.


0

Koleksi Kertas Binder

Posted by Malestha Andheka on 08:29:00

SEJAK gue masih kelas 4 SD dulu, sering banget tulis menulis. Waktu itu belum kenal banget sama blog. Gue masih cara tradisional, menulis itu di selembar kertas yang gue tuliskan di binder.

Kenapa binder? Karena banyak bermacam jenis kertas yang unik ngebuat gue segar dalam menulis. Gilak. Singkat banget jawabnya. Intinya gitu sih. Binder memang bawaan gue waktu duduk di bangku kelas 4 SD.

Saat ke sekolah gue engga bawa tuh binder. Gue hanya simpan itu di dalam almari. Tepatnya didalam kamar gue almari itu di tempatkan. Jauh dalam gue sembunyikan agar orang lain tidk menemukan binder pribadi gue.

Tiap sore hari setelah mandi sore, gue sering nongkring di depan rumah. Tetangga rumah selalu ikut-ikut apa pun yang gue punya. Rumah disini aja gue mesti punya tetangga yang rumahnya di dekat rumah gue (gimana sih?).

Ketika gue duduk sendirian sambil membalik-balikkan kertas di binder, ada salah satu tetangga gue ikutan duduk di samping gue. Jelas, dia mengajak gue untuk tukeran selembar kertas binder yang kita punya.

Banyak banget koleksi lembaran kertas ada dalam binder gue yang beraneka ragam bentuknya. Ada yang berwarna biasa tebal dan ada berbentuk-bentuk. Kertas yang gue punya juga banyak yang tebal. Kadang setelah di pegang dan di rasain tebalnya engga kalah sama ukiran kayu (huuuu).

Setelah selesai tukar menukar- alias barter, gue klik kembali binder itu agar tidak tercecer. Sebagian dari binder gue sudah tertulis coretan-coretan dari temen gue.

Misalnya, gue menyodorkan binder ke temen gue supaya dia menuliskan biodatanya lengkap seperti akte kelahirannya. Biar terlihat bervariasi, gue menambahkan hobi dan makanan, minuman kesukaannya. Yakin. Kalau disebut aneh-aneh, emang engga salah. Gue memang masih seperti kanak-kanak pada zaman bersekolah dasar.

Gue menuliskan semua ini, supaya gue masih tetap mengingatnya. Sebuah kekocakan tingkah laku yang gue lakukan di masa SD. Sebenarnya, dari orang tua gue sendiri tidak gemar menulis seperti yang gue lakukan ini.

Alih-alih gue seperti penjual kertas binder yang mengoleksi berbagai macam kertas di dalamnya. Mengoleksi satu persatu yang gue simpan di dalam binder itu. Sebagian gue membeli kertas di toko terdekat. Lebih dari sekadar sebuah diary yang tidak bisa disebut diary. Kenapa? Karena hanya bertuliskan biodata lengkap dari seseorang saja bukan tulisan pribadi dari seorang penulis.

Binder memang banyak gunanya untuk menuliskan beberapa hal penting. Namun, waktu gue SD dulu memang tidak mengerti kegunaan binder sebagai apa. Gue memang geblek yang tidak mengerti di waktu membeli binder, untuk cara mengambil kertas pada cekipan besi yang merapikan kertas.

Setelah banyak mengerti, gue mulai menambahkan banyak kertas di dalamnya. Sehingga gue bisa mengoleksi banyak di dalam sebuah binder itu. Jadi, memang kaya banget akan kertas yang sampai tertekuk karena kecerobohan gue.

Tiap kali nyokap bokap menulis, pasti menulis yang berkaitan tentang pekerjaannya. Sementara gue engga beda persis dengannya. Gue menulis karena atas dasar kemauan gue untuk bekerja menjadi seorang penulis.

Gue selalu beronsisten, seperti waktu gue mencintai binder gue. Menyimpannya erat-erat dan menjaganya agar tidak hilang entah kemana. Kali ini gue belajar dari menulis tangan. Demi perlembar kertas yang gue tulis lalu gue cantumkan dalam binder.

Demikian dulu yang gue tulis. Mungkin jika mau menambahkan, silakan posting komentar di bawah ini. Thank you!


Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.