0

Sepatu Sandal Spiderman

Posted by Malestha Andheka on 17:40:00

KETIKA gue lahir dulu, gue sempat di ceritain tentang berbagi dongeng yang masih selama ini gue inget. Kadang nyokap menceritakannya ketika gue sebelum tidur. Banyak hal yang diceritakan nyokap sekarang ini selalu membahas singkat waktu gue masih usia 3 th ke bawah.

Gue belum segede sekarang. Bisa mandi sendiri dan makan sendiri tanpa sendok. Dulu, gue belum bisa melakukan seperti itu. Masih sama seperti anak-anak kampung gue, yang tiap selesai mandi sore badan wangi dengan bau bedak. Dan raut wajah gue terlalu banyak banget bedak.

Untung gue engga diberikan lisptik juga oleh nyokap. Untungnya. Dan tidak. Nyokap sadar bahwa gue seorang laki-laki. Bukan perempuan yang tiap kali makan pasti langsung di telen (eh iya ding).

Kali ini aku sangat senang sekali dengan mengenang sebuah kenangan masa kecil. Sangat bahagia banget apabila gue ceritakan. Dari pengalaman-pengalaman banyak, menjadi sebuah cerita yang beruntun kalimat yang menyingkatnya lebih detail.

Jadi begini, memang gue bego banget waktu kecil itu. Sukanya selalu pengin terus apabila selalu di penginin apa pun. Kadang setelah gue beli sesuatu, anak tetangga pun selalu menyamakan apa yang gue beli. Ini inget banget gue.

Misalnya. Dia berani langsung menanyakan ke gue, "Dika. Sepatu sandal kamu yang ada gambar spiderman itu beli dimana?"

Gue terdiam sebentar. Sambil berpikir dan mencari jawaban dari dalam otak gue. Setelah beberapa pertahapan berpikir, gue berani menjawab.

"Beli di Bata." Ucap gue, sambil mengangkat tangan seolah-olah mengacungkan satu jari sebelum menjawab.

Setelah mengerti membelinya di lokasi tersebut, dia tidak sabar lagi untuk pergi kesana. Ketika sampai di tempat itu, anak tetangga kampung sebelah kebingungan mencari.

Hari berikutnya, anak tetangga kampung sebelah berkunjung ke rumah gue kembali. Seperti biasa untuk menanyakan soal sepatu sandal yang gue kenakan tiap sore setelah mandi sore.

"Dika. Dika. Dika." Sapa seseorang yang berada diluar rumah.

"Yaaa. Tunggu sebentar." Sahut bokap, yang biasa di teras sedang jabutin uban make tang.

"Dik. Dika. Dicari temenmu tuh di luar." Ucap nyokap, menunjuk arah luar.

"Iya sebentar, aku lagi sadar celana yang aku pakai kebalik. Pantesan engga pas banget!" Tukas gue, sambil menurunkan celana.

"La gimana to kamu ini? Pakai celana aja bisa ke balik." Ucap nyokap, sambil meminum secangkir teh hangat yang dibuatnya sendiri.

Kemudian gue keluar. Melihat anak tetangga gue yang mukanya memerah. Dia membentak gue dengan wajah yang penuh keceriaan (lho?). Terdengar sangat aneh, namun dia seperti orang idiot.

"Dika. Aku cari di Bata engga ada yo. Bata di dekat Matahari Dept. Store itu kan?"

"Iya benar. Kamu carinya engga masuk itu?" Balas gue, sambil mengernyitkan dahi dan menaikkan tangan ke dagu.

"Masuklah!!!!! Emangnya aku mau maling cuman nengokin dari luar." Menghela napas sebentar dan melanjutkan kembali. "Kalau order bisa engga sih? Kamu yang bener dong ngomongnya belinya dimana?"

Gue terdiam sebentar.

Bokap yang lagi asik cabutin uban, kemudian langsung mempotong pembicaraan.

"Apa to ada apa?" Ucap bokap, berjalan mondar mandir di hadapan gue.

"Gini om, aku pengin beli sepatu sandal punyane Dika itu. Belinya dimana sih?"

"Woalah jadi mau kembarin gitu ya? Itu beli di Matahari Dept. Store. Baru kemarin juga belinya." Ucap bokap, yang menjelaskan.

"Yeee. Tadi kata Dika di Bata om."

Gue cengar-cengir dan sodorin sepatu sandal ke bagian mulutnya yang sudah nyebut nama gue.

"Hahahaha. Engga. Bukan. Itu beli di Matahari Dept. Store."

"Yaudah deh om. Mungkin nanti malem aku mau kesana."

"Iya. Yaudah beli sana, ke buru habis!" Sahut bokap, menakuti.

"Apa ya om? Yaudah aku duluan ya. Gitu dulu Dik."

Karena tergesa-gesanya, Tomas langsung lari tanpa melihat ada polisi tidur di hadapannya. Dia kesandung lalu, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi..... (setengah ambil lirik).

Keesokan harinya, dia sudah membeli sepatu sandal itu. Sama persis tempat gue. Yang perpaduan warna antara biru dengan kuning. Di tengahnya ada gambar spiderman yang lagi boker.

Gue duduk didepan rumah yang ada tempat duduk permanen alias batu disana. Sementara Tomas lagi berjalan melewati gue yang lagi santai. Dia langsung memakai sepatu sandal itu dan mempamerkanya sekampung.

"Wuiiiihh!!! Songong! Langsung dapet sekarang." Ucap gue, kaget.

"Iya noh. Sekarang aku tahu belinya dimana. Baru aku mau SMS kalau kita pake bareng malah kebetulan aja pake nya bareng!"

Gue rasa dia suka gue. Gue jadi bingung mau menjawab apa. Kali ini gue memahami tentang apa yang gue punya sekarang.

Apabila mempunyai sesuatu yang baru, alangkah baiknya jangan di pamerkan. Kadang bercenderung seseorang ingin membelinya sama persis dan ada juga orang yang sirik dengan kita.

Seusia gue yang masih duduk di bangku SD memang suka banget mempamerkan apa pun yang gue punya. Entah sepatu sandal dan apa pun. Masa SD memang terpaut dengan sebuah barang baru dan mempamerkan ke orang sekitar supaya dirinya lah yang mempunyai duluan dari pada orang itu.

Yap. Begitu dulu yang gue inget. Pamer itu tidak baik di mata orang. Jadi, jangan sering-sering untuk mempamerkan apa pun sekaligus sebuah harta yang nantinya menimbulkan penyimpangan.

Tinggalkan posting komentar disini yuk.


0

Belajar Ikhlas Dari Pengalaman

Posted by Malestha Andheka on 11:09:00
KETIKA gue dibelikan sebuah handphone, gue merasa sangat senang dan mempamerkannya di kalangan temen. Di saat kelas 1 SMP ini memang banyak banget suka pamer.

Dengan hape yang dibelikan oleh bokap, gue sering main dan membawa terus hape gue yang baru. Walaupun perginya cuman ke samping rumah untuk beli kerupuk, gue juga membawa hape.

Dan dengan hape juga gue sering banget komunikasi ngga penting ke temen gue. Jarang banget gue gunakan untuk internet. Karena nokia 5300 memake sleadingnya, gue engga mahir menggunakannya. Gue belum beradaptasi cara menggunakan hape dengan baik dan benar.

Setelah janji dengan salah satu temen gue, akhirnya gue langsung ketemuan dengannya. Di Solo Grand Mall tempat gue ketemuan dengan temen gue kali ini. Di mall itu dulu lagi in banget untuk seusia gue nongkring. Karena mall yang terbeken dulu adalah Solo Grand Mall.

Siang yang begitu panas, ngebuat suasana diluar semakin panas. Jauh lebih panas lagi apabila gue berada di tengah-tengah jalan dan tanpa busana yang dikenakan. Namun, gue sadar kalau gue engga gila. Gue masih normal.

TULALIT. TULALIT. TULALIT.

Bunyi telepon genggam gue berbunyi. Suara yang sederhana terdengar keras dan di dengar oleh semua orang yang melewati gue berhenti di tempat. Lalu, gue angkat telepon dan menjawab.

"Hallo." Kata gue, menyapa.

"Hallo. Deka. Kamu posisi dimana?" Tukas Gede, yang menanyakan. Dia keturunan orang Bali dan namanya sangat khas dengan budayanya.

"Aku udah sampai di Solo Grand Mall ini. Gimana? Sudah pada berangkat belum?"

"Iy-iya. Ini udah berangkat kok."

"Ok aku tunggu." TUT. TUT. TUT. TUT.

Gue menutup telepon.

Lima belas menit menjelang, temen fue mulai berdatangan. Akhirnya, temen fue datang dengan selamat sehat sentosa. Di samping itu, mereka berjalan kencang ketika berkendara. Karena dia tidak akan mengulur waktu lama untuk menepati.

Sepulang dari main, gue melepas rasa penat di dalam kamar. Sambil melimpahkan rasa dahaga dengan kipas angin.

Keesokan harinya, gue harus berangkat pagi ke sekolah. Tiap pergi ke sekolah gue engga pernah membawa hape. Sementara hape gue letakkan diatas meja komputer di kamar. Gue berangkat ke sekolah diantar oleh nyokap yang sudah panasin kendaraan di luar.

Suara nyokap, terdengar jelas dari dalam kamar. Nyokap memanggil gue dengan suara seperti menekik leher.

"Dika. Cepetan. Nanti telaaaat!!!!!!" Ucap nyokap, menegasi.

"Iy-iy-iya. Ini lagi siap-siap." Gue sambil mengancingkan anak-anak benik baju yang masih ke buka.

"Udah cepetan jangan lama-lama!!!!" Sahut nyokap sekali lagi tidak sabar.

"Yayaaya. Aku pergi dulu Pa." Kata gue, sambil berlari menuju keluar.

Bokap tidak menyahut gue. Karena bokap sedang mandi dan segera bersiap-siap menuju kantor kerjanya. Akhirnya gue berangkat dan nyokap mulai ngebut.

Sesudah nyokap mengantarkan gue ke sekolah, nyokap kembali ke rumah. Nyokap mengendarai dengan pelan dan kemudian sampai dirumah.

Sesampainya dirumah, bokap menceritakan kejadian misterius ke nyokap. Ada orang lain yang masuk rumah ketika bokap sedang mandi pagi. Orang tersebut mengambil semua hape yang tergeletak diatas meja masing-masing.

Bokap menjelaskan, bahwa hape bokap terletak diatas meja makan. Dan nyokap diatas meja ruang tamu. Sementara hape gue terletak diatas meja komputer di kamar. Semuanya diambil oleh pencuri yang biadab.

Setelah gue pulang dari sekolah, gue tertegun melihat pagar rumah yang di gembok. Lalu, bokap membuka kan pintu pagar dengan kunci yang dibawanya. Setelah gue masuk ke dalam, bokap menceritakan semua yang berhubungan dengan pencuri yang biadab.

Untuk itu gue belajar mengikhlaskan hape gue yang lama. Dengan rasa iba dan rendah hati gue melupakannya. Dan gue berharap hape gue dapat bermanfaat untuk siapa yang mengambil tanpa sepengatahuan. Dan Tuhan Maha Mengetahui siapa yang mengambil. Gue harus belajar ikhlas dari sebuah pengalaman nista ini untuk diceritakan.

0

Carberg

Posted by Malestha Andheka on 09:24:00
WAKTU lagi booming nya helm bermerk "INK" gue mulai sisakan uang buat membelinya. Sedikit demi sedikit yang gue tabung makin ludes karena pengeluaran gue yang engga karuhan untuk berhenti.

Ketika duit yang gue kumpulin sesuai dengan harganya, gue engga langsung membelinya. Gue lebih memikirkannya jangka panjang setelah mempunyainya.

Di era zaman gue kali ini, banyak banget yang mengenakan helm INK. Bahkan ada yang mengenakan helm merk lainnya yang engga kalah persis bentuknya. Misalnya carberg, takachi, hirachi (eh emang ada?) dan lain sebagainya. Setelah di pikir-pikir, merk tersebut mulai menurun.

Hanya tertinggal carberg yang masih stock. Untuk mengirit pengeluaran, gue memutuskan untuk membeli carberg yang sangat miring banget dari pada harga helm INK.

Pada mulanya, helm yang gue inginkan sebenarnya INK. Namun, melihat saudara gue yang mempunyai helm carberg, ngebuat gue ingin membelinya. Gue memang mudah banget pengin apa pun. Dari pengamatan, mulai berkeinginan mendapatkan.

Finally, gue pergi ke toko helm. Disana menjual banyak helm bermacam-macam merk. Dengan harga yang tinggi, namun bisa ditawar.

Gue masih inget mempunyai helm ini. Gue membelinya sendiri dengan mengendarai kendaraan. Helm yang gue kenakan hanyalah helm gratisan dari kendaraan gue honda beat dulu.

Sesampainya di pintu gerbang alun-alun, gue berhenti. Melihat adanya, helm yang bertumpukkan di pinggiran jala, gue langsung pilih memilihnya. Tak sungkan juga gue menanyakan harganya.

"Pak, yang ini berapa?" Tanya gue, sambil menyodorkan helm yang telah gue pegang.

"Ohhh. Yang itu 285ribu mas."

"Wah mahal ya." Kata gue, lalu meletakkan helmnya di tempat. "Kalau yang itu Pak?" Tangan gue menunjuk helm yang berada diatas.

"Itu masih mahal juga mas. 350ribu."

"Kalau carberg berapa pak?" Tanya gue, menanyakan kembali.

"175ribu mas. Bisa di tawar kok."

"Uhmm... Kalau 145ribu aja gimana pak?" Ujar gue, mencoba menawar dengan benar. "Ayolah, deal ya pak..." Gue menyodorkan duit 50ribuan 3 ke penjual.

"Yaudah deh. Mau langsung di pakai atau di masukkan dalam dus lagi mas?"

"Masukkan dalam dus aja. Ini saya sudah makai helm." Sahut gue, sambil membenarkan helm yang tadinya miring.

Selesai membelinya helm, gue kembali pulang ke rumah. Gue menaruh helm itu di bagian bawah helm gue tempatkan.

Kali ini, gue bisa mengirit pengeluaran. Duit gue masih sisa untuk digunakan yang lainnya. Untuk itu gue engga merasa menyesal untuk membelinya. Dan mengenakan helm alakadarnya.

0

Mengenang Sepeda Federal

Posted by Malestha Andheka on 07:37:00

PADA pertengahan tahun 2007 gue mempunyai sepeda. Sangat senang sekali gue di belikan sepeda baru oleh bokap.

Sepeda yang di belikannya bermerk "Jemboy" dengan warna biru dongker. Sepeda yang sangat multifungsi yang menggunakannya.

Karena sepeda itu dilengkapi dengan keranjang dan kursi di belakangnya. Bokap membelikannya tanpa sepengatahuan keinginan gue. Yang artinya, bokap tidak membelikan sesuai dengan keinginan gue dalam memilih sepeda.

Pada waktu itu, gue masih duduk di bangku kelas 6 SD. Gue masih inget banget tentang ini. Kemana pun gue pergi selalu menggayuh sepeda. Meski panas terik matahari menusuk kulit, gue tetap senang menggayuh dengan semangat. Dan bokap sebelum menentukan pilihan yang tepat pun, gue masih ingat caranya berbicara.

"Kalau aku belikan sepeda bmx, nanti Mama kamu engga bisa makai Dika." Kata bokap, datar.

"Aku pengin itu Pa."

"Kamu mesti terpengaruh sama temen kamu yang make sepeda bmx kan?"

Terdiam sebentar.

Gue mulai meneruskan menjawab. "Iya engga gitu sih."

"Udah gampang. Papa nanti belikan."

Setelah bokap mengatakan demikian, gue mulai lega. Setelah gue bangun dari tidur siang, gue kaget kalau bokap bukannya membelikan sepeda bmx justru sepeda cewek buat gue dengan nyokap.

Sepeda ini memang terlihat mirip dengan pollygon. Mungkin ini kw supernya. Yang zaman gue dulu, pollygon lagi in banget di kalangan anak remaja dan seumuran gue.

Beberapa bulan sudah berlalu, gue sudah menjalani dengan sepeda itu. Sama persis dengan nyokap. Dimana pun nyokap membelikan makanan atau bahkan ke pasar, nyokap selalu menggayuh sepeda. Nyokap tidak lagi jalan kaki menuju pasar.

Liburan mulai tiba. Gue mulai seneng banget ketika libur. Di sore hari, suasana di kampung gue terkenal dengan anak-anak yang bersepedaan. Engga kalah seperti gue. Gue juga ikut untuk meramaikan suasana.

Biasanya, gue hanya muterin kampung seperti penggantinya hansip. Namun, bedanya gue menggayuh dengan sepeda.

Suatu ketika gue bersepeda sore hari itu, gue berboncengan dengan Shandy. Gue mengelilingi kampung. Karena jika melewati jalan raya, gue masih takut banget. Alhasil sangat takut jika nantinya di balap oleh kendaraan bermotor.

Ditengah perjalanan, Shandy bercerita ke gue. Shandy adalah tetangga gue yang rumahnya engga begitu jauh dengan gue. Dia baru pindahan rumah lalu, setelah mengenal gue jadi makin gila.

Saat di jalan perkampungan yang gue lewati, Shandy mulai ngobrol dengan gue.

"Ini mau kemana Dika?" Tanya Shandy, kalem.

"Jelas puter-puter lah."

"Tapi, dari tadi kita puternya kampung sini terus."

"Iy-iya. Aku hafalnya juga jalan sini. Habis gimana lagi?"

"Puterin kampung yang lain kek. Daerah sana mungkin, dekat pinggir jalan." Sahut Shandy, sambil menunjuk arah jalan depan.

Sebelum gue meneruskan permintaan Shandy, gue mengajaknya ke warnet. Waktu itu masih pukul jam setengah empat sore. Gue mulai menggayuh menuju warnet dekat dengan jalan raya.

Sesampai di warnet, gue memarkirkannya bersebelahan dengan sepeda lainnya. Sepeda gue, parkirkan di depan warnet.

Setelah satu jam berlalu, gue sudahi menutup room. Gue membayar room di depan. Warnet dulu, bertype room. Yang dibatasi dengan sekat-sekat seakan menutupi sampingnya.

Selesai membayar, gue berjalan keluar. Ketika berada diluar, gue celingukan. Gue bingung. Dan setelah menoleh ke kanan dan ke kiri gue baru sadar. GUE KEHILANGAN SEPEDA!!!!!!!

Apesnya nasib gue. Langsung gue nanya tukang becak yang sedang nongkring di depan warnet.

"Pak ngelihat sepedaku engga? Maksudnya, cirinya gini. Berwarna biru ada keranjang dn kursi dibelakangnya." Gue makin panik.

"Wah iya dek. Tadi saya lihat ada orang tergesa-gesa menaikkinya."

"Terus, orangnya kemana?"

"Pergi ke arah sana dek. Coba telusuri aja. Mungkin dia belum jauh." Sahut tukang becak, sambil menunjuk arah utara.

"Ohh. Gitu. Terus, kenapa tadi engga Bapak tanya dulu?"

"Habisnya siapa tahu kalau itu sepedanya adek kan."

"Yaudah deh pak. Makasih."

Gue berjalan kaki menuju ke rumah. Dengan lemas, gue mengeluarkan keringat cukup berlimpah. Sangat ngos-ngosan jarak warnet menuju rumah jika jalan kaki.

Sesampainya dirumah, sudah magrib. Dan gue diomelin oleh nyokap bokap. Nyokap masih berkomat kamit mulutnya membicarakannya. Dan nyokap mengganti rugi atas kehilangannya.

Karena gue hanya mempunyai tabungan 700ribu, maka gue kasihkan semua ke nyokap. Dengan rasa iba, gue menyodorkan uangnya ke tangan nyokap. Waktu itu gue mempunyai uang sebanyak itu dari hasil silaturohmi pada hari Idhul Fitri.

Masih kecil, gue sering diberi uang jajan yang cukup. Gue masih memelas dan terlihat menyesal.

Dan pesannya, jangan sesekali menaruh sepeda dan lain sebagainya di tempat parkir yang kurang memungkinkan. Karena akan ada seseorang yang selalu bertindak kejahatan.

Entah itu berada dimana pun engga mandang apa pun yang kita miliki. Jadi, berhatilah ketika memarkirkan sepeda di tempat yang tidak tepat untuk di sampirkan.


Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.