0

Televisi

Posted by Malestha Andheka on 23:09:00

BEBERAPA bulan yang lalu, gue tersanjung dengan berita yang ada di TV. Banyak hal yang gue kutip kemudian gue ceritakan ke temen gue.

Hal yang gue lakukan ini sama persis dengan nyokap. Justru nyokap yang tahu banget soal TV. Karena sehari tanpa menonton TV, nyokap setengah gila. Selain arisan, TV adalah media hiburannya.

Seperti misalnya, ketika nyokap asik menonton YKS (baca: Yuk Keep Smile) nyokap menonton Syahrini yang mengenakan gaun yang panjang dengan wajah yang cantik. Lalu, nyokap bercerita ke gue dan menunjuk Syahrini untuk membandingkan dengan nyokap.

"Dika. Gimana? Mama sama Syahrini engga kalah cantik bukan?" Tanya Bokap, terkagum melihat kecantikkan Syahrini yang udah aduhai banget.

"E-e-emm.. engga ada pilihan lain selain Syahrini mungkin Ma?" Balas gue, ragu mengatakan.

"Gimana sih, ini kan bintang tamunya Syahrini. La siapa lagi yang nyanyi itu bukan Syahrini?" Kata nyokap, sambil menunjuk TV yang mengarah arah Syahrini.

"Iya gitu deh."

Gue bingung berbicara apa ke nyokap. Jika bilang iya, justru kenyataannya emang engga banget. Kalau gue bilang engga mirip, engga yakin gue bisa tinggal dirumah ini lagi. Untuk itu gue memilih tengahnya aja: tidak menjawab.

Nyokap menirukan Syahrini yang sedang nyanyi dalam acara YKS. Ketika nadanya Syahrini naik, nyokap tanpa segan ikut menirukannya. Yang terdengar justru suara anak SMA yang baru belajar nyanyi. Emang nyokap gue dalam tarik suara engga baik banget dan engga jelek banget kalau di katain. Pas. Gitu deh.

Sementara gue sendiri, jika menonton TV yang sudah gue tonton selalu gue ceritakan ke temen gue. Misalnya ketika gue melihat film hantu-hantuan di channel ANTV pada tengah malam. Tepat jam 10 malam acara itu sudah mulai.

Gue mulai bercerita dari awal sampai akhir, sampai temen gue tertidur pun gue masih niatnya menceritakan. Walaupun gue sedikit mengarang, namun temen gue hanya menganggukan kepalanya seakan mengerti.

Pada zaman sekarang, selain meniru semua dari siaran TV tidak bisa maju untuk mempamerkan kemajuan kita terhadap zaman. Namun, ketika kita menonton TV yang tidak di dampingi oleh orang tua maupun yang lebih tua, akan membahayakan.

Banyak berita yang beredar sangat pesat dan selalu bertambah tragis. Dari kalangan anak-anak yang meniru keterbatasan dalam bertingkah.

Program berita yang berada di televisi bercenderung sangat bermanfaat. Karena akan menambahkan sebuah pengetahuan yang lebih. Untuk mengetahui wawasan yang berguna menjadi meluas sangat lebar. Pada akhirnya, bisa meneruskan generasi berikutnya dalam kejar tayang mencari berita terkini.

Jadi, waspadalaa... waspadalaa... waspadalaaa.....


0

Angkringan Istimewa

Posted by Malestha Andheka on 22:47:00

TIAP malam sepulang gue main dan gue belum makan, nyokap paling sebel. Justru makin sebel banget kalau gue engga pulang setahun. Hehehehe. Emangnya gue minggat. (Engga nyampe segitunya pikiran gue keles).

Gue membuka pintu pagar dengan pelan. Pintu pagar terbuka ketika gue membukanya dengan benar. Langsung gue masukkan kendaraan ke kandang. Tepat bersebelahan kendaraan bokap di teras rumah.

Lalu, gue berjalan masuk ke dalam rumah dan melepas helm. Ketika melewati ruang tamu, nyokap menodong gue pertanyaan.

"Udah makan belum tadi?" Tanya nyokap, penuh perhatian dengan suaranya ke ibu-ibuan.

"Belum." Sahut gue, sambil meletakkan helm di tempatnya diatas almari. Eh salah, diatas meja untuk meletakkan semua helm.

"Terus, gimana? Apa engga makan? Makan sekarang gimana?"

"Iya makan. Iya makan." Balas gue, plin plan. Dan terdengar telinga nyokap, engga makan iya makan.

"Yaudah kalau gitu."

"Lah? Makan sama keluarga kan? Sekarang aja." Jelas gue.

"Gimana sih?! Katanya sudah makan?" Bentak nyokap, jengkel. "Yaudah ayo pergi sekarang."

"Gitu deh."

Jam sembilan tepat, gue dengan nyokap terpaksa keluar mencari makan. Ini adalah pengorbanan nyokap buat membelikan makan anaknya di malam hari yang kelaparan. Jika di filmkan, maka kasihan nyokap yang memaksa dirinya keluar malam (lho?).

Bokap bilang menyusul di sebuah angkringan sederhana yang tidak jauh dari rumah. Angkringan itu tempat menarik dan sederhana untuk di kunjungi. Karena harganya sangat terjangkau dan bisa nongkring sampai besok (hwallaaah).

Ditengah gue perjalanan kesana, gue boncengin nyokap yang berada di belakang. Gue naik kendaraan Yamaha Mio. Sedangkan bokap mengendarai Honda Vario yang akan menyusul di tempat langsung. Karena bokap ingin membeli bensin terlebih dahulu.

Saat di jalan, nyokap selalu was-was ketika gue boncengin di depan. Ada sebuah kendaraan yang menyalip aja, nyokap berteriak "Awas Dika awas!!!!" Padahal sebenarnya, kendaraannya hanya dibelakang gue dengan knalpot blerr seakan membalap.

Melihat ada mobil yang menyalip, nyokap berteriak kencang. "Dika awaaaaassss!!!!!" Ini justru ngebuat gue panik dalam mengendarai. Ketika di jalan, nyokap selalu berkomat kamit untuk menasehati.

"Hati-hati Dika kalau lagi mengendarai kendaraan itu." Jelas nyokap, meluruskan. "Di jalan sekarang rame!!"

"Kan juga jalannya pelan Ma aku."

"Jalan pelan atau engga kalau lagi nasibnya juga tetap apes!!!!"

"Lah? Terus, apa harus jalan kaki?"

"Jalan kaki bisa saja di senggol truk yang sopirnya lagi ngantuk langsung makan pejalan kaki di trotoar."

Gue menelan ludah dan menggumam kata-kata nyokap.

Sesampai di angkringan, tiba-tiba ada salah satu mobil di seberang jalan dengan suara knalpotnya yang kencang. Nyokap secara spontan berteriak "Aaaaaarrrrggghhhh!!!!!!!!"

"Tenang Ma tenang, mobilnya berada di seberang. Terdengar jelas malah teriak ngga jales." Jelas gue, meredakan nyokap yang histeris.

"Bukan begitu Dika. Mama selalu tetap was-was dengan keadaan sekitar." Sahut nyokap, menjelaskan. "Yaudah kamu cepat makan sana. Nanti Papa kamu nyusul kesini kok, Papa lagi beli bensin. Dekat dari sini juga POM bensinnya."

"Iya. Cari tempat yang dekat makanan aja."

Gue dan nyokap mencari tempat kosong. Dan beberapa menit kemudian, bokap mulai datang. Bokap berjalan santai menghampiri gue yang sedang menyantap makanan. Malam ini terasa ramai karena banyak yang jajan di angkringan ini.

Angkringan merupakan makanan tempat darurat untuk gue di kala semua toko maupun restoran yang tiap malam sudah tutup. Banyak sekali hidangan yang di sajikan sangat sederhana untuk di nikmati.

Beraneka ragam lauk yang khas yang tersedia, apabila tidak tersedia maka jangan katakan tutup. Tapi, habis karena kalah mendahului orang pertama yang menghabiskan. Dan sampai saat ini, angkringan sebagai tempat nongkring istimewa anak muda sekarang.


0

Di Balik Janji

Posted by Malestha Andheka on 21:22:00
PADA suatu hari gue terhalusinasi diantara penuh rasa kesal dan tidak. Diantara kata itu yang ngebuat gue akan semakin bertindak untuk melakukan sesuatu. Banyak dorongan dari pikiran gue untuk segera aktif.

Semakin dalam gue berpikir, engga tahu kenapa gue ingin keluar rumah untuk melepaskan pikiran. Namun, gue ngerasa dirumah justru ngebuat gue menjadi pulih normal kembali. Dan sementara gue mengurungkan untuk keluar.

Serumah yang tinggal dengan gue antara lainnya nyokap bokap pada pergi untuk membeli makan. Gue terdiam sendiri diantara selimut dan ranjang. Hanya dengan hape yang bisa menemani di kala kesepian.

KRIIIING. KRIIIING. KRIIIING.

Tiba-tiba, Alfathoni menelepon. Sebelum dia menelepon, gue sempat mendapat SMS darinya bahwa telepon dia tadi siang tidak gue angkat. Gue tertidur seakan tidak mendengar suara hape yang berbunyi.

"Halo." Sapa penelepon seberang.

"Iya halo!" Balas gue. "Ada apa bro?"

"Sibuk engga bro? Sorry ganggu. Gini, besok jadi engga ke sekolah?" Tanya Alfathoni, kalem.

"Ke sekolah ngapain bro?" Sahut gue, heran. "Kita reuni gitu? Baru aja lulus langsung reuni. Hakhakhakhak." Gue tertawa di saat tidak nyambung jadi kelihatan garing.

"Bukan!!! Kita ke sekolah tujuannya ketemuan sama Denanda. Besok jam 8 penting!" Ujar Alfathoni, menjelaskan. "Kan kayaknya kita sudah janji besok gitu bro di hari malem Minggu kemarin."

"Ada apa sih? Oke oke deh kalau gitu."

"Yaudah bro, ditunggu kabarnya besok."

"Woke sip."

TUT. TUT. TUT. TUT. Alfathoni menutup telepon.

Setelah menerima telepon dari Alfathoni dan itu ngebuat gue sadar. Bahwa sebenarnya gue telah janji untuk ke sekolah besok pagi.

Banyak hal sesuatu yang melingkari pikiran gue. Hingga akhirnya gue lupa kalau sudah janji. Gue menahan dan menghela napas sejenak.

Masih seperti gue termurung, di dalam kamar dengan posisi berbaring sambil memegang hape. Online twitter justru ngebuat gue jenuh. Line-line an, bingung mau line siapa. Yang ada justru line ID Alfamart atau Indomart dan toko-toko lainnya yang selalu ada di kontak.

Pada akhirnya, gue mengerti tentang sebuah janji. Berkata janji tidak semudah mengemukakan kata di balik itu. Selain bisa menepatinya, harus seimbang dengan ingatan. Yang maksudnya, janji tidak bisa di tepati jika tidak di ingat dalam pikiran.

Mestinya akan selalu terpikirkan dalam halusinasi yang tidak bersangkutan. Sebagai tindakan untuk mencegahnya, berkehendaklah untuk memikirkan sebelum mengeluarkan untuk mengatakan kata yang akan di ucapkan.

0

Gara-gara Dompet

Posted by Malestha Andheka on 16:18:00
PANAS terik sinar matahari menusuk kulit gue yang sedang mengendarai kendaraan. Tadinya, gue merasa malas untuk keluar rumah. Namun, merasa tidak seimbang dengan keinginan. Akhirnya gue mulai menyempatkan pergi keluar.

Gue gampang banget berkeinginan. Semua hal yang gue inginkan seakan harus terpenuhi sesuai harapan. Ya. Benar harapan. Bukan harapan lain dari sekadar sebuah harapan palsu dari seseorang yang tidak gue inginkan.

Siang ini, gue ingin ke toko buku Gramedia. Tidak amat jauh dari rumah yang gue tempuh. Apabila gue jalan kaki justru ngebuat gue ngeden. Karena terasa sangat jauh dan ngos-ngosan.

Toko buku Gramedia Pustaka yang biasa disebut Gramedia, berada di jalan Slamet Riyadi Solo. Engga begitu jauh dari rumah gue menuju toko buku ini. Sekali lagi TIDAK BEGITU jauh. Sengaja gue ulangi agar meyakinkan. Hehehe.

Sebelum gue berangkat, gue sudah mengenakan helm dan tidak lupa membawa power bank untuk keadaan darurat: hape. Berjalannya waktu sangat cepat berlalu, gue berangkat tanpa membawa dompet. Kali ini gue memang engga sadar.

Tiba di Gramedia, dengan pede gue masuk ke dalam. Memakai sweater hitam dengan celana jeans yang gue kenakan. Gue di sapa halus oleh penjaga pintu depan.

"Selamat siang! Silakan masuk mas."

"Iya selamat siang!" Sahut gue, sambil menundukkan pala.

Gue berjalan menuju anak tangga dan menaikkinya. Di lantai 2 terdapat banyak buku yang akan gue cari. Sedangkan di lantai dasar hanya terdapat mainan anak-anak dan perlengkapan musik lainnya.

Sampai diatas lantai 2 ini, gue berjalan ke rak buku novel remaja. Lengkap dari buku lama dan baru di tempatkan. Gue mencari buku gue yang terdisplay disana, ternyata belum ada. Namun, gue sadar, kalau gue belum diberikan kabar untuk langkah selanjutnya script yang gue kirimkan.

Banyak orang yang berkunjung di toko buku ini. Ada yang sedang asik memegang majalah. Komik. Buku sastra. Dan cerita novel-novel yang mereka gemari.

Gue tergolong memilih bacaan novel. Bacaan yang menurut gue engga pernah ada happy ending seperti halnya dengan pengalaman nostalgia gue. Gue masih berdiri tegap tanpa menyandarkan punggung yang terlihat lelah.

Tangan kanan memegang rak buku yang berada di hadapan gue. Sebagai penyeimbang gue berdiri sambil membaca buku. Baca membaca demi kalimat dan perkata yang sangat panjang.

Tidak melihat berjalannya waktu, gue menoleh ke kanan. Melihat seorang wanita nampak terlihat sangat anggun dan cantik. Dia lewat tepat di hadapan gue. Berjalan sambil membawa buku berjalan ke arah kasir.

Gue mulai terpanah asmara dengannya. Tanpa segan gue memetik buku yang terdapat di rak buku novel remaja. Sambil membawa satu buku dan berjalan di belakangnya.

Wanita itu sudah membayarnya di kasir. Sementara gue masih mengantri dua orang di depan gue. Sebelum membayar, gue merogoh kantong celana belakang untuk mengambil dompet.

"Hah! Mampus! Dompetku kemana?!" Kata gue makin panik. Gue berlari ke rak buku novel di tempatkan. Segera mengembalikkannya karena gara-gara dompet yang tidak terbawa.

Gue telusuri ketika gue berjalan ke atas lantai 2. Sampai di lantai bawah, gue berjalan cepat ke lantai basement. Tepat di kendaraan, gue membuka jok kendaraan. Setelah terbuka, tidak ada sama sekali dompet.

Lalu, gue merogoh kantong celana depan dan belakang. Akhirnya tersisa uang kembalian kemarin seribu rupiah dengan recehan yang masih tertinggal. Gue simpan untuk membayar parkir untuk keluar.

Sampai di pengambilan karcis, gue melihat daftar papan yang nampaknya parkir kendaraan adalah 1500 rupiah. "Mampus!!!!! Duit gue kurang lima ratus sekarang!" Gue mundurkan kembali kendaraan dengan alasan ada barang yang tertinggal.

Kendaraan gue parkirkan kembali di tempat sebelumnya bersemayan. Gue meletakkan helm, lalu berjalan masuk ke dalam toko buku kembali. Usai masuk ke dalam, gue merogoh kantong celana depan untuk mengambil hape.

Iseng melihat path, ternyata salah satu temen gue ada yang berkunjung juga. Tanpa segan gue chat dia seakan membutuhkan sangat darurat.

Gue berjalan naik ke atas lantai 2 kembali. Seperti biasa, gue enggan jika tidak menyentuh buku dalam sehari. Saat gue membaca, gue berdoa agar cepat terkabulkan.

Lima belas menit kemudian, Rima temen gue naik ke lantai 2. Rima mengenakan baju berwarna hijau dengan hiasan motif bunga yang ramai. Celananya berwarna hitam seperti rambutnya. Dan dahinya menonjol bagaikan ikan lohan yang berjalan di darat.

"Apaaaa Dek?" Tanya Rima, mengernyitkan dahinya dan menaikkan alis.

"Gini Rim. Aku lupa bawa dompet."

"Terus, mau pinjem duit gitu?"

"Iya lah. Masa minjem baju iya engga mungkin bangetlah. Terus, kalau ..."

"Berapa? Buruan, aku mau baca novelnya Raditya Dika ini." Potong Rima, diam-diam Rima memotret penjuru ruangan dengan mengenakan hape. Buku yang di pegang untuk menutupi hape nya yang akan memotret ruangan.

"Seribu aja deh. Engga lebih! Cuman buat parkir aja."

"Yaelah. Iya deh gampang kalau gitu." Sahut Rima, yang asik membuka novel Raditya Dika.

Gue membaca ulang novel yang sudah gue batasi halamannya dengan penyekat buku. Ditengah gue menyelesaikan membaca, Rima mengajak pulang. Dalam diri Rima mungkin segera membelah dirinya sesuai karakter dia menyerupai Amoeba. Namun, dia masih tergolong manusia beneran.

Akhirnya, gue menuruni tangga dan hendak menuju basement. Sampai di basement gue mengambil kendaraan gue yang telah rapi di parkirkan. Sebelum mengendarai, pasang helm dulu di kedua kepala. Eh, ada yang engga pas. Hmm satu kepala maksudnya, emang gue mahkluk alien yang berkepala dua.

Rima mulutnya berkomat kamit, memanggil gue. Tidak lupa, dirinya memberikan duit seribu rupiah untuk membayar parkir kendaraan gue.

"Dekaaaa! Ini uangnya. Nanti bayarkan sekalian punyaku ya." Jelas Rima, sambil menyodorkan uangnya.

"Ohh. Iya ya. La kamu engga jadi pulang sekarang?"

"Aku dibelakangmu keles." Sahut Rima, sewot.

"Hakhakhakhak. Oke deh. Sip." Gue tertawa garing.

Berjalan menuju penarikan karcis, gue menyodorkan karcis dan uangnya. Kemudian, uang kembalian gue biarkan untuk Rima yang masih berada di belakang.

Finally, gue bisa keluar dan pulang kembali ke rumah.

Gue sekarang nyadar, apabila pergi dengan terburu-buru bakalan ada yang tertinggal. Sengaja atau tidak memang tidak sadar. Alangkah lebih baiknya untuk mengeceknya terlebih dahulu. Gara-gara dompet gue sempat shock, bingung untuk pergi keluar.

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.