0

Hari Minggu Keluarga

Posted by Malestha Andheka on 14:52:00
HARI Minggu adalah hari dimana gue menghabiskan waktu dengan keluarga. Setelah melewati hari sebelumnya yang jarang mempunyai waktu luang untuk keluarga gue.

Seperti contohnya pada hari Senin. Bokap selalu sibuk dengan pekerjaannya. Selesai itu, langsung istirahat. Berkumpul pada malam hari, namun engga serasa hari Minggu.

Sementara nyokap, selalu sibuk dengan teman arisannya. Mungkin dalam diri nyokap, arisan adalah media kesibukkan dia bersama ibu-ibuan lainnya.

Dan diri gue, sibuk dengan bermain. Selalu gue habiskan setiap hari dengan teman gue.

Dihari Minggu ini, gue harus temani bokap dan nyokap shopping. Gue rasa ini hal membosankan harus menemani.

Kata nyokap, gue juga harus meluangkan juga buat acara keluar dengan keluarga. Hal ini sangat harmonis dalam hidup berumah tangga yang bermoral baik.

Menurut gue, kebiasaan yang harmonis ini terkadang dipandang sebelah mata anak muda sekarang. Tidak selayaknya seorang laki-laki melewatkan waktunya dengan nyokap dan bokap.

Ini sangat ironis bagi gue. Jalan dengan nyokap dan bokap di mall atau pasar, gue engga malu. Dan gue juga ngga bakalan lari dari renternir.

Jalan dihaluan beberapa pakaian yang bertumpukkan, bokap terhenti dari langkahnya.

'Bentar Dik. Dika.' Kata bokap, datar.
'Ya. Kenapa?' Sahut gue, nanya.
'Papa mau lihat-lihat sebentar ini lho.' Kata nyokap, menjelaskan.
'Owalah oke.' Gue menyahut.

Ini kebiasaan orang yang ingin mencari kebutuhan jasmani maupun rohaninya. Melihat barang yang memanah matanya, maka terhenti langkahnya untuk melihat.

Gue terdiam dan memegang pakaian satu dua yang gue ambil ditumpukkan lainnya. Disisi itu, bokap and nyokap selalu memperdebatkan hal yang sepele ngga berguna. Mendengar kata nyokap dan bokap yang sedang debat masalah warna pakaian yang dipilih. Sepertinya bokap dan nyokap gue, mereka saling kuat akan opininya.

'Ini biru dongker Pa namanya.' Kata nyokap. 'Bukan hitam yang kamu maksud.'
'Tapi, ini justru dominan hitam deh Ma.' Sahut bokap, tetap kuat pendapatnya.

Hal perdebatan ini justru membuat karyawan toko turut menengahkan. Apabila karyawan toko tersebut juga buta warna, maka akan menambah orang dalam perdebatan.

Nyokap tidak bisa membedakan akan warna biru dongker dan hitam. Apabila dia melihat warna hitam, kadang disebut dengan biru dongker. Padahal yang dilihatnya berwarna abu-abu. Ini beda jauh.

Well, bokap apabila melihat warna biru dongker selalu mengelak. Bokap selalu kuat dengan pendapatnya meskipun diuji oleh profesor tetap salah.

Mungkin bokap terlalu optimis memilih. Dan mungkin menjadikan bokap seperti ini. Gue harus memperjelas selagi gue tahu yang benar dan mana yang salah.

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.