0

Pangkas Rambut Atau Potong Rumput?

Posted by Malestha Andheka on 07:25:00
Pada tiga hari yang lalu, gue di buru-buruin nyokap untuk pangkas rambut. Sebenernya gue paling males kalo masalah pangkas rambut kudu di buru-buruin. Niatnya, gue pengin gondrongin rambut. Karena pada awalnya sewaktu 12 tahun gue sekolah jarang gondrong. Sekali pun gue gondrong pasti di gundul oleh para guru yang tanpa basa basi mencukur.


Siang itu gue dan nyokap lagi pergi bareng ceritanya. Kami berdua sedang mencari makan siang, kemudian ingin membeli atau makan di tempat. Sekali pun makan ayam, gue sudah bosen mengunyah asupan ayam yang setiap hari selalu itu mulu.

Nyokap menyarankan ke gue, kalo makan di Merlion resto. Uhm, denger namanya aja udah keren, apalagi dalemnya. Gue ngebatin mulu ketika di jalan. Nyokap adalah penikmat kuliner yang banyak.

Sesampainya kemudian gue dan nyokap sedang membolak-balikan daftar menu yang tersedia. Uhm, tempatnya unik sih, ada banyak macam roti yang dijual dengan harga terjangkau juga. Mungkin selain rumah makan, di sini juga menjual aneka cemilan yang dapat memanjakan perut.

Gue memesan nasi goreng sosis. Sementara, nyokap hanya melamun melihat gue sedang makan. Gue heran, "Kenapa nyokap yang kasih tau gue tempat ini kenapa jadi enggak makan ya?" Mungkin nyokap neg sendiri ketika ngeliat muka gue kepedasan. Atau malah tidak sengaja makan agar gue kasih.

Anjir! Enggak gitu-gitu amat sih keinginan nyokap.

Usai makan, gue berlalu ke tempat lain. Tempat di mana gue harus kehilangan rambut gondrong gue yang tersayang. Kali ini yang sempet bikin gue nangis beberapa hari beberapa menit beberapa tempat maupun beberapa aneka jajanan kuliner.

"Dek, Deka tunggu! Tunggu!" Kata nyokap.

Nyokap menunjuk salah satu rumah makan lagi yang kelihatannya baru aja dibuka. "Ke situ yuk, Mama penasaran," sambungnya.

Uhm, okay. Kali ini gue turuti kemauan dia. Gue gas kencang menuju ke tempat itu.

Gitu nyampe tempatnya, nyokap memberikan gue saran buat pangkas rambut di seberang. Dia bilang, kalo di tempat itu adalah tempat bokap pernah pangkas rambutnya. Gue manggut-manggut. Seakan tidak menuruti kata nyokap leher gue jadi taruhannya.

Sesampainya di barbershop, gue antri satu orang. Gue pandangi orang itu. Menelan ludah berkali-kali seakan tertegun melihatnya. Oh tidak, gue tidak terpesona melihatnya. Melainkan, di barbershop ini sangat aneh. Banget malah. Anehnya, tidak banyak yang antri buat pangkas rambutnya.

Nggak berselang lama, giliran gue. Kali ini gue sedikit gemeteran. Ketika gue duduk dibangku kursi, tukang cukur itu memberikan instruksi.

"Mau gimana mas?"

"Tipis aja mas. Jangan pendek, nanti jabrik semua rambut saya."

"Sampingnya to?"

"Nanti aja saya arahin."

"Ok."

Gitu gue rasa sudah ok, semuanya berkata lain. Tukang ini pangkas rambut atau jauh seperti potong rumput! What the HELL! What are you doing?! Dia mengambil alat pemangkasnya, kemudian memotong semua daerah samping rata.

Huhuhu.

Mungkin sekali ini saja gue mampir di tempat itu yang tidak sesuai keinginan. Seharusnya tidak semau dia memangkas tanpa pengarahan. Seandainya rambut bisa dikembalikan semula, gue ingin kembali.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.