0

Janji Palsu

Posted by Malestha Andheka on 10:04:00
"Ok, besok malem aku ke rumah kamu deh."
"Sip. Jangan sampai molor ya, aku enggak mau kalo nonton paling depan. Kalo kamu molor besok, jangan ngarep keesokan hari hidup!"
"Halah, kamu ngomong apa sih?"
"Heh?! Aku serius keleews."


Namun pada keesokan harinya, Tukiyo mengikrari janjinya. Tukiyo melupakan janjinya yang akan datang ke rumah Desi.  Semuanya itu di luar rencana. Karena Tukiyo terlepas oleh janjinya pada saat Suketi mengunjungi rumahnya.

"Tuk, Tukiyo, nanti malem kita ada jadwal futsal lho!"

"Loh? Bukannya besok Suk?" Timpal Jongkok.

"Ngawur! Nanti malem yo!"

"Walah, jadi nanti malem? Bukane bener besok?" Sahut Tukiyo.

"Kamu itu dikandani kok ngeyel. Nanti malem!" Seru Suketi sekali lagi sambil ngacungin golok.

"..."

Malamnya Desi menunggu di rumah sambil berbaring di atas ranjang. Kedua bola matanya menatap nanar di meja sebelah. Desi melihat telepon genggamnya yang tergletak di atas meja berdekatan dengan alarm jam weaker. Ia berbalik posisi tidur seraya memandangi langit atas kamar.

"Tukiyo ke mana ya? Kenapa dia enggak ada kabar. Ngeselin juga itu anak yang aku kira orangnya disiplin." Desi menggumam dan sedikit ngebatin dalam hati.

Tiba di Format Futsal, Tukiyo jalan ke dalam sambil tergopoh-gopoh di rangkul oleh teman-temannya. Matanya hanya menatap alas lantai menandakan sangat lemas tak berdaya. Jongkok pun sedikit bertanya saat melihat kontras pada wajah Tukiyo seketika.

"Eh Tuk, kau kenapa? Kok keliatan enggak fitt gitu."

"Eng-enggak. Enggak apa kok."

"Serius?"

"Iya. Aku serius."

"Okay. I believe it."

Di dalam lapangan terdengar beberapa gemuruh teman-teman sedang memulai pertandingan. Ada yang menggiring bola, mengejar bola, dan sampai ada yang push up menunggu bolanya di tendang.

"Woy! Tukiyo, Jongkok! Kalian buruan masuk. Kalian salah satu masuk ke group gue." Seru Noji.

"Wokeh." Sahut Jongkok. "Yuk, Tuk, buruan."

Di rumah, Desi merasa kesal. Seraya ingin memotong-motong badan Tukiyo menjadi sepuluh bagian. Lalu di masukkan ke dalam sebuah koper. Kemudian membuangnya ke tengah laut. Dan berharap terhanyut oleh derasnya air yang bermuara.

Berulang kali Desi mencoba menelepon tidak terjawab. Beberapa kali Desi mengirimkan sebuah pesan. Namun tak berbalas dan yang ada hanyalah ilusi sebagai bayangan balasannya. Desi mulai muak yang membuat ia seakan-akan ingin memutuskan janjinya yang lain kepada Tukiyo. Desi pun mulai memegang telepon selulernya. Ia terlihat tersendu-sendu sambil melanjutkan mengetik beberapa kata.

"Tukiyo, maaf kalo kamu penginnya begini. Sebenernya, aku ngomong seperti ini tidak sanggup. Namun sepertinya kamu yang memaksa aku untuk mendorong ngomong seperti ini. Aku harap kamu tau keadaanku sekarang. Dan aku harap kamu tidak pernah menyimpan janji palsu. Janji yang selama ini kamu katakan hanyalah ucapan basi. Gombal! Dan sekarang, aku minta putus dari kamu. Aku hanya ingin bebas tanpa janji yang hanya berujung ikrar. Sorry kalo membuat kamu sakit. Bye, muah. Love you!"

Ngga lama berselang Tukiyo beristirahat sebentar di bangku. Ia sambil meluruskan kakinya dan meminum sebotol air mineral dalam sekali tenggak. Mendengar bunyi ring tone di hpnya, segera Tukiyo merogoh tasnya agar berbalas lebih cepat.

Begitu tombol kunci sudah terbuka, pada layar hpnya tertera jelas nama Desi mengirim pesan. Tukiyo sedikit mengerutkan dahi seraya terperanjat setelah melihat.

Tukiyo pun terkejut. Air mineral yang di genggamnya jatuh seketika. Matanya masih menatap layar hp sambil sedikit mengerutkan dahi. Ia melempar pandangan sebentar ke berbagai sudut dan memandangi kembali hpnya. Mungkin Tukiyo memikirkan yang akan dia balas. Atau mungkin Tukiyo hanya malas untuk menjawab.

Ngga lama, Tukiyo menelepon Desi. Tukiyo tidak terima karena Desi selalu negatif thinkking dengan Tukiyo. Yang ada Desi hanya cemburu. Entah melihat Tukiyo dengan seseorang selain dirinya.

Begitu selesai futsal, Tukiyo meluangkan waktunya ke rumah Desi. Bahkan dia lebih detail untuk menjelaskan. Ya, agar hubungannya menjadi lebih sempurna tidak menginginkan kesalahpahaman. Agar Desi tidak selalu emosi setelah bertindak.

Pada akhirnya Desi pun mulai tersadar akan yang dilakukannya. Dia tersenyum sambil memeluk erat tubuh Tukiyo dengan rasa sayang. Dia tidak peduli walaupun badan Tukiyo dipenuhi oleh keringat. Pantas saja, Desi sangat suka. Karena dia lebih mencintai seorang cowok berkeringat. Tandanya adalah seorang cowok yang macho dan lebih disebut dengan cowok gaul.

Jadi, jika kalian berkeringat, banggalah. Karena berkeringat itu bukanlah membuat kita jelek. Tapi membuat kita menjadi tampil semangat dalam melakukan aktivitas dan kegiatan. Namun tidak hanya itu, yang menulis cerita ini juga berhobi keringatan lho. Hehe.

Okay. Kita bisa menulis kesimpulannya di kolom comments ya.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.