0

Nggak Konek

Posted by Malestha Andheka on 12:56:00
MENURUT penilaian gue sendiri, gue tipikal orang yang mudah bergaul. Sekali berteman, pasti langsung akrab. Bahkan gue selalu mengajak orang sekitar buat mengobrol. Supaya menjalin keterikatan yang kokoh dalam bersosialisasi.


Kembali lagi ketika gue bersekolah. Tepatnya saat gue duduk di bangku SMA. Gue mempunyai salah seorang teman yang nggak pernah konek saat diajak mengobrol.

Anggap saja namanya Susi. Iya, Susi adalah seorang wanita yang anggun, cantik dan manis. Namun sayang, kecantikannya meleleh. Karena dia memiliki kekurangan, nggak konek.

Kekurangan yang dimiliki Susi ini, belum pernah dia sadari. Bahkan teman kelasnya menyadari kekurangannya tiap kali membentuk suatu kelompok bersamanya. Teman satu kelasnya pun merasa jengkel. Sampai akhirnya selalu memperbudaknya dan menerkanya. Gila, sebegitu amat mereka ini.

Pantas saja teman satu kelasnya mengatakan hal serupa kepada Susi begitu. Karena pada dasarnya Susi seakan mengabaikan orang yang sedang mengobrol di depan bola matanya.

Pernah suatu waktu saat gue mengajak Susi mengobrol. Waktu itu gue duduk bersebelahan dengan Susi di bangku kelas yang panjang. Agar engga terlihat speechless maka gue sapa dia terlebih dahulu.

"Susi."

"Apa Dek?"

"Lo engga jajan?"

"Enggak." Sahut seberang sambil membuang muka ke sembarang tempat. "Kalo jajan, kamu bayarin ya?!"

"Mau apa emang?"

"Udah di bilangin kalo main jangan mendadak kok."

"...."

Sekali lagi Susi menjawab, gue lempar dia make sepatu yang akan gue lepas. Susi selalu menyapu pandangan ketika orang yang sedang melontarkan kata padanya. Seakan mengabaikan, namun mencernanya. Tapi apa daya setelah beberapa kata keluar. Jawaban aneh mulai berbalas. Nggak konek.

Hal ini mungkin tidak bisa di rasakan. Namun mulai tersadar sendiri karena pada faktor kebiasaan. Semakin lama berkenalan dengan seseorang maka akan jauh lebih mengerti apa faktor kebiasaan tersebut.

Gue pun langsung melengos pergi menuju kelas. Gue segera berlalu sebelum Susi akhirnya membuat gue lupa diri. Susi pun masih duduk manis di bangku depan kelas itu sambil meluruskan kakinya.

Mungkin cerita gue ini bisa dipelajari, atau pun lebih di mengerti. Bahwa menghargai seseorang ketika berbicara tak hanya mendengarkan. Namun juga menatapnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.