0

Jealous

Posted by Malestha Andheka on 00:06:00
EDO adalah seorang laki-laki yang memiliki karakter dewasa banget. Sekali banyak temannya yang engga pernah mengalah kepadanya, Edo selalu mundur daripada nyawa sebagai gantinya. Namun Edo selalu berpikir positif akan apa yang hendak terjadi. Walaupun sampai akhirnya menjatuhkan hatinya yang terdalam.


Pada suatu hari ketika Edo sedang bergerombol dengan temannya, matanya menatap nanar kepada salah seorang wanita. Iya, wanita itu berkobar di bola mata Edo seakan terpana melihat pada pandangan pertama.

Antusias Edo beranjak berkenalan pun mulai menggebu-gebu. Sampai akhirnya Edo mulai membenarkan kerah pada bajunya dan meminum minyak wangi agar tampil beda.

Berambut hitam bergelombang. Bulu mata yang tebal seperti semut berbaris. Kedua mata yang bulat. Hidung yang mancung. Pipinya yang tirus. Itu semua yang dilihat Edo menatap seorang wanita idamannya.

Namanya Yaluk. Dia adalah seorang wanita yang terlihat anggun, cantik dan ramah senyum. Bahkan senyumnya ini kerap membuat orang-orang hendak mendekatinya. Yaluk tidak pernah menganggap teman di sekitarnya adalah musuh bebuyutan atau apa pun yang ironis.

Saat jam terakhir mata kuliah berakhir, Edo menunggu Yaluk di bawah tangga. Edo mulai merapikan segala bajunya sampai giginya yang sudah di ikat dengan besi yang kokoh. Ngga lama berselang, Yaluk mulai menuruni anak tangga dan mulai berkata.

"Edo?"

"Iya? Jalan yuk!"

"Ke mana?"

"Mana aja."

"Sama siapa?"

"Siapa aja."

"Naik apa kamu?"

"Elang."

"...."

Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran.

Sesampainya di parkiran, kemudian Edo mengajak Yaluk ke tempat yang di rasa tepat untuk makan siang. Edo engga hanya sendiri, Edo juga mengajak Dito, Jongkok, Udin, Supri dan Beni. Bahkan Yaluk tidak sendirian. Yaluk mengajak Ninik agar tidak cewek sendiri di antara teman-teman cowoknya. Mereka mengajak temannya satu sama lain.

Tiba di Manut Resto, Edo terlihat speechless banget ketika Yaluk duduk bersebelahan dengannya. Edo hanya bisa mencairkan suasana dengan menghibur temannya. Supaya tidak terlihat kikuk, Edo mulai tertawa terkekeh-kekeh yang padahal tidak membahas apa pun.

Beni menatap erat wajah Yaluk seketika. Pola katanya pun memberikan pujian maupun kode beserta kedipan kedua mata kepada Yaluk. Langkah demi langkah pun permainan di mulai.

"Hai Yaluk."

"Iya.. Hai! Kenapa sih?"

"Makin cantik aja kamu." Sahut Beni sambil melemparkan senyum disertai dengan rasa strawberry di hatinya.

"Halah! Gombalmu udah kayak polkadot tau ngga?!"

Edo pun mulai membuang muka ke sembarang tempat. Edo menyadari bahwa itu hanya suatu candaan teman. Itu hanya suatu godaan. Itu hanya suatu gombalan pada umumnya.

Namun yang di rasakan Edo sekarang ini berlawanan dengan apa yang dia sadari. Pantas saja Beni berkata ini. Karena pada dasarnya Beni sangat menyayangi Yaluk setelah kali pertama Edo mengajak Yaluk berkenalan. Sedangkan Edo lebih dahulu mengenal Yaluk ketimbang Beni.

Agar membuang rasa jealous dalam diri Edo, dia lebih memilih untuk diam. Mungkin berdiam diri jauh lebih baik. Mungkin berdiam diri adalah pilihan yang tepat untuk menanggapi. Mungkin Beni tidak bersungguh-sungguh mengatakan rasa sayang kepada Yaluk.

Seiring berjalannya waktu, Edo terbayang-bayangkan oleh mimpi buruknya. Di dalam mimpinya, Edo mempunyai persaingan dalam bercinta. Iya, mencintai Yaluk pastinya. Beni adalah saingan pertama. Namun Edo mengerti bahwa Yaluk tidak menanggapi dengan serius kepada Beni.

Saat kembali bertemu Beni berantusias mendekati Yaluk. Beni memanggilnya dengan penuh rasa merebut hati.

"Yaluuukk.."

"Iya?"

"Kapan kamu ada waktu buat aku?"

"Errr-"

"Bales dong.."

"...."

Sekelebat Edo datang seketika. Namun Edo lebih memilih melengos pergi daripada hatinya mulai hambar. Dengan langkah tergopoh-gopoh Edo berjalan meninggalkan Yaluk dan Beni di tempat.

Yaluk mulai mengejar Edo agar tidak meninggalkannya sendirian dengan Beni. Yaluk pun memanggilnya dengan nada tinggi seperti nada toa masjid berkumandang.

"EDOOO!!" Kata Yaluk. "Tungguin aku!!"

Yang dipanggil hanya menoleh dan melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga. Edo merasa tersakiti karena yang selama ini Edo sayang terlihat akrab dengan orang lain. Edo berasa dirinya sudah tidak layak mencintai Yaluk. Bahkan Edo juga merasa bahwa mencintai Yaluk begitu sayang itu lebih sakit daripada digantungin.

Akhirnya Yaluk pun berhasil mengejar Edo. Yaluk terlihat berbinar-binar di matanya. Mungkin Yaluk tidak ingin mengecewakan yang mencintainya. Atau mungkin Yaluk hanya berpura-pura kasihan melihat pengorbanan Edo mencintainya. Atau malah mungkin, hanya gerak-gerik Yaluk yang nampaknya basa-basi. Itu semua hanya Allah dan dirinya yang mengetahui.

Edo memandangi luar halaman ke bawah. Pandangannya kosong dan hanya awan saja yang terlihat di bola matanya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Yaluk mulai menenangkan hati Edo sesungguhnya. Yaluk mulai sedikit terbuka hatinya dan melontarkan beberapa kata.

"Kamu udah garap tugas belum?"

"...."

"Edo?" Sahut Yaluk. "Jangan bengong dong. Tolong, kamu kenapa?"

"Errr, ud-udah selesai kok. Semalaman aku kerjakan sampe larut."

"Bagus deh kalo begitu."

Mereka berdua pun bercuap-cuap panjang lebar.

Ngga lama kemudian Beni datang. Bahkan Beni melihat Edo dan Yaluk berdekatan. Raut wajah Beni pun mulai terlihat geram. Kontrasnya mendadak gelap. Beni berjalan dengan tergontai-gontai ke arah Yaluk bercengkerama dengan Edo.

Setelah beberapa langkah berdekatan, Beni memutuskan tidak mengganggu Edo. Namun hatinya masih merasakan hambarnya melihat pujaan hati yang membuatnya kecewa. Ia merasa semuanya tidak sebanding dengan dugaannya selama ini. Bahkan ia masih tidak terima dengan apa yang selama ini Beni dapatkan yaitu kekecewaan. Iya, karena belum mendapatkan seorang idaman. Idaman yang selama ini ia panggil sayang.

Pada mulanya yang menentukan semuanya ini hanyalah hati Yaluk. Seberapa pantas hati Edo dan Beni mencintai di satu hati seorang wanita yang sama. Mereka saling mencari suatu kepastian, yaitu menunggu mana yang lebih di rasa tepat untuk menebus selama ini mereka korbankan.

This is the end of stories.

Pada cerita tersebut kita bisa memahami tentang apa artinya seorang wanita kalau sampai akhirnya bertemu dalam satu cinta yang sama? Namun persaingan dalam bercinta selayaknyalah bersaing dengan sehat. Jika cinta ditolak, jangan memulai dukun bertindak. Atau pula tidak berbicara selama-lamanya.

Rasa jealous yang kita rasakan adalah rasa sayang yang selama ini kita rasakan dalam hati. Jika sudah bingung harus ke mana maka ikutilah kata hati berbicara dengan tulus, dengan cinta apa adanya.

Dari karangan gue itu, mulai timbul sebuah pertanyaan. Apa arti satu cinta ketimbang merobek hancurnya pertemanan?

Mungkin di antara kalian pernah mengalami seperti ini? Silakan tulis pada kolom comments berikut yuk.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.