1

Cinta Yang Hilang

Posted by Malestha Andheka on 07:38:00
BERKULIT sawo matang dengan berambut hitam kental ialah Supri. Mata yang di selimuti oleh kaca mata. Dan selalu mengenakan bermacam-macam gelang pada tangan kirinya. Bahkan ia juga mengenakan karet gelang. Menurutnya itu adalah mode penampilan era zaman sekarang.


Sejak saat penampilannya berubah drastis, Supri memendam perasaannya dengan Cinta. Seorang wanita idamannya yang selalu di ceritakan oleh temannya selama ini. Semangat menggebu mengejar Cinta, Supri tidak pernah lepas untuk kontek-kontekan.

Namanya Cinta. Iya, Cinta yang selama ini Supri suka. Cinta yang selama ini Supri banggakan. Bahkan selalu Supri unggulkan dan selalu menutupi kekurangan Cinta. Dan apa kekurangan dari Cinta? Kekurangan yang dimaksud ada pada faktor kebiasaan yang dilakukan oleh Cinta. Misalnya Cinta mengupil dengan kedua jari langsung masuk ke dalam lubang hidungnya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sedikit ciri fisik dari Cinta ialah berambut pirang berwarna hitam sepunggung. Mempunyai alis tebal berwarna hitam kental. Pipi yang tirus. Dan hidung yang sedikit mancung ke dalam.

Sekadar info, cewek yang berhidung mancung ke dalam itu bawaannya selalu ngangenin. Dan cewek yang berhidung mancung bawaannya pengin bertemu. Nah loh, udah tau yang jadi pembedanya?

Saat pelajaran di kelas Supri kosong, ia mencoba menunggu Cinta di depan kelasnya. Lorong pada setiap kelasnya terlihat sepi tanpa ada siswa yang bercengkerama di luar kelas. Namun apa daya setelah Cinta keluar dari kelasnya.

"Waduh mati aku sekarang." Gumam Supri dalam hatinya.

Supri menatap nanar oleh Cinta yang sedang berjalan beriringan dengan teman kelasnya. Bahkan dia jauh terlihat lebih akrab. Dia saling menggenggam tangan dan becanda ceria. Temannya yang mengekor dia pun turut serta menggodanya dengan merangkul-rangkul tanpa segan. Temannya yang terlihat dongo pun tanpa sungkan juga menggodanya.

Sekadar info, teman dongonya Cinta satu kelas itu bukan berarti dia sering bertindak seperti orang idiot yang tiap kali mengobrol selalu ngeces-ngeces. Dan juga tidak sampai tiap malem keliling kompleks hanya untuk mencari air jamban hanya untuk menari di atasnya. Tetapi dongonya dalam hal becandanya yang selalu membuat kocok perut.

Supri mulai terdiam beberapa saat. Cinta menoleh ke arah Supri sambil bengong seketika. Seiring berjalan di depan hadapan Supri, ia sambil mengurai rambutnya dengan jari jemarinya. Cinta berhenti seketika dan melemparkan beberapa patahan kata.

"Supri?"

"Iya?"

"Kelas kamu kosong?"

Yang di tanya hanya menganggukan kepala.

"Supri..."

"Kenapa?"

"Ada yang harus aku katakan ke kamu?"

"Ada apa?"

"Sepulang sekolah, kita ketemuan di kantinnya Pak Jongkok ya!"

"Errr, iy-iya deh."

"Yaudah, aku masuk dulu ya!" Seru Cinta. "Jangan lupa nanti."

Cinta membalikkan punggung dan berlalu masuk ke kelas. Sementara dengan Supri masih terdiam di tempat. Supri terpaku oleh udara segar yang ditinggalkan oleh Cinta. Bahkan Supri masih menanti semerbak bau parfum Cinta hilang.

Setelah sepulang sekolah, Supri menunggu Cinta di kantin Pak Jongkok. Supri memesan semangkuk bakso dan es teh dengan bongkahan es yang dapat membasahi tenggorokannya. Supri duduk di meja bagian tengah sambil membaca buku agar tidak bosan menunggu.

Kemudian Cinta datang engga lama berselang. Ia datang sendiri sambil membawa tas di selempangkan di punggungnya. Cinta segera duduk di depan bangku Supri sambil melihat kedua matanya dengan tajam.

"Supri...."

"Ehiya, kenapa? Kamu ngomong apa?"

"Uhm.. Sebenernya aku mau ngomong sesuatu. Sesuatu yang selama ini sudah aku pendam. Namun kini aku bangkitkan karena melihat kegigihanmu."

"Errrr, maksud kamu gimana? Aku nggak ngerti."

"Jadi gini-"

"Tunggu! Tunggu. Sepertinya aku ngerti kamu mau ngomong apaan."

"Yaudah deh kalo kamu udah ngerti."

"Iya, engga apa Cinta. Aku menerima apa adanya. Sudah banyak wanita yang selama ini aku lihat selalu berujung nolak-"

"Eh eh eh, bukan ituuu."

"Terus apaan?"

"Aku mau jadi pacar kamu. Serius! Dari sekian cowok menurutku semuanya orangnya freak banget."

"Berapa cowok emang?"

"6."

"Freak semua dan itu menurut kamu juga termasuk aku?"

"Kamu engga sih."

"Serius?"

"Engga juga sih."

"...."

Supri tersenyum lebar. Bahkan Cinta pun ikut tersenyum. Mereka berdua saling melemparkan senyum. Saling memaparkan keindahan cinta mereka.

Sampai pada akhirnya yang selama ini Supri bayangkan hanyalah Cinta yang hilang. Cinta yang berpaling dengan seseorang yang lain. Yang pasti bukan Supri yang ada di hatinya.

Namun Supri percaya kalo waktu yang tepat akan dapat selalu menjawab. Engga perlu cemburu melihat gebetan berada dekat dengan seseorang. Karena pada mulanya dia belum resmi dengan kita. Melainkan ialah gebetan. Atau calon pacar.

Gebetan yang selama ini kita idamkan nampaknya kita selalu berandai-andai agar cepat mendapatkannya. Berharap dengan tujuan mendapatkan. Namun masih sungkan mengungkapkan.

Semuanya itu pun membuat gue mengerti. Jelas mengerti semuanya dari asal di mana kita berani untuk belajar bersabar. Bersabar menanti waktu yang tepat. Dan menanti kepastian yang selama ini ditunggu. Supaya pada saat menjalin hubungan itu maka hubungan akan terasa tentram, damai dan indah.

1 Comments


wow.. keren..! kayaknya kita saingan nih :D

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.