0

Cinta Tentang Hati

Posted by Malestha Andheka on 21:25:00
COBA sekali ini gue mau cerita soal cinta melalui drama yang gue buat asli. Jadi, silakan baca nih artikel gue supaya kalian bisa memahami seberapa besar arti cinta itu. Dan lebih mengerti kenapa cinta hadir di waktu yang sering kali ngebuat kita tak mengetahuinya.


Dia adalah Budiman. Iya, hanya namanya saja yang nampak seperti orang pinter. Tapi kenyataannya orangnya kocak abis. Sampe terkadang Budiman selalu membuat orang-orang sekitar selalu tertawa melihatnya. Tingkah lakunya pun ngga lain dibilang dengan hiperaktif.

Budiman berambut hitam kental dengan potongan pendek rapi. Hidungnya yang mancung membuat orang-orang terpana seketika. Alisnya yang kental berwarna hitam seperti semut yang berbaris. Kulitnya sawo matang. Penampilan seperti ini, Budiman tidak pernah aneh-aneh merubahnya menjadi lebih trend dibanding anak-anak kekinian lainnya. Budiman jauh lebih suka casual dan natural di pandang.

Di kampus Budiman terlihat gaul dan banyak yang memandang. Pantas saja. Karena pada dasarnya Budiman pintar untuk menghibur seseorang dengan gaya humoris di dalam benaknya.

Pagi itu Budiman sudah berdiri tegap di depan Fakultas yang dia pilih. Tak hanya sendiri Budiman bercengkerama di sana. Budiman di temani oleh kedua temannya yaitu Suketi dan Supri. Keduanya teman dia yang kocak abis. Di mana ada Budiman pasti selalu ada Suketi dan Supri. Senandung pertemanan mereka lahir sejak mereka bersekolah yang sama.

Singkat cerita, Budiman berjalan melewati lorong kelas dengan menyapu pandangan ke tiap dinding putih polos. Sampai akhirnya di sebuah ruangan, Budiman bertemu dengan Nining. Iya, Nining adalah teman baru Budiman di kampus. Bahkan mereka mempunyai karakteristik yang tidak jauh beda.

Nining mengenakan hijab berwarna kuning yang sangat terang. Pipinya yang tirus. Hidung yang mancung. Dan mata yang tiap detik berkedip sampe beleknya keluar semua. Budiman mengajaknya berjabat tangan.

"Hai, Nining. Udah lama di kampus?"

"Errr, engga. Barusan dateng kok. Hehe."

Nining membuang muka saat selesai menjawab. Budiman pun mengupas wajahnya dengan sepatu. Dan mereka berjalan berdua melewati anak tangga menuju lantai dasar.

Jantung Budiman pun berdegup menjadi lebih kencang. Pandangannya tersipu malu seketika. Bahkan napasnya mulai ngga teratur menghembuskan. Sampe akhirnya dia menghirup udara secara brutal.

Hoooaaaammm!!!!

Preettt...

Tanpa sengaja Budiman terkentut-kentut saat tiba di lantai dasar.

Budiman mulai mengarahkan pandangan ke halaman. Tanpa sadar, seseorang dengan berbadan seirama dengannya menepuk pundaknya. Secara seperti ini ngebuat Budiman menoleh seketika. Gerak slow motion leher Budiman menoleh mencari tau siapa yang menepuk pundaknya.

"Mau ke mana bro? Makan yuk!"

"Pulang nih! Makan ke mana?"

"Mana aja deh."

"Yaaah. Mau makan apa?"

"Yang enak di makan deh."

"Naik apa?"

"Yang enak di naikin deh."

"...."

Sekali lagi Glomi berbalas yang ngga bermutu, tanpa segan Budiman nangis di depan matanya. Glomi adalah salah satu teman karibnya di kampus. Dia berbadan sedikit buncit dan berpotongan rambut mohak.

Glomi adalah teman Budiman yang sama kocak abisnya. Tidak, Glomi kalo sedang mengalami gatal-gatal ngga nyampe garuk-garuk pake kakinya gitu. Tapi ngga juga gunain lidahnya buat garuk-garuk.

Glomi adalah teman yang paling dongo yang Budiman kenal. Akan tetapi dongo yang dimiliki oleh Glomi bukan berarti sering ngeces-ngeces kalo ngobrol. Atau sampe kalo tiap malem dia keluar rumah cuman buat ngubek-ngubek air jamban langsung dengan tangannya gitu. Dan yang terakhir ngga nyampe teriak-teriak sambil keliling kampung tanpa busana. Tapi dongonya dia ketika bertemu dengan Budiman yang kocak dan selalu becanda-canda.

Ngga lama berselang, kerumunan mahasiswa lainnya mulai memenuhi lantai dasar. Mereka semua juga teman Budiman. Hanya saja di antara mereka ada yang sudah berkenalan secara langsung atau justru belum pernah. Budiman belum mengenal dan mereka sudah mengerti atau mengenal.

Pada dasarnya Budiman dan Glomi memiliki perasaan yang sama. Bukan, mereka tidak homo sejati. Melainkan perasaan yang tidak pernah hilang di dalam benaknya selalu sama. Perasaan yang selalu sama, ada dalam pemikirannya. Perasaan yang ngga pada umumnya di ungkapkan sama. Dan yang terakhir, perasaan yang selalu hadir ngga bisa di lepaskan. Itu semua ialah jatuh cinta diam-diam.

Bahwasanya Budiman ngga bodo-bodo amat kalo dia suka dengan seseorang. Bahkan kalo Budiman mengungkapkan perasaannya, yang ada dalam pemikirannya selalu menghambatnya yang memutar untuk mengurungkan niatnya.

Semua hal ini berbanding lurus dengan Glomi. Jika kalo Glomi pernah jadian sampe sekarang belum juga putus. Kali pertama Glomi mencoba nembak Tita, Glomi sempat tersendat. Karena pada mulanya Glomi malu-malu kucing untuk mengutarakan kata hati sejujurnya ke Tita.

Kembali lagi ke topik. Budiman bercuap-cuap dengan Nining. Budiman memandangnya dengan menatap poros bola mata Nining secara tajam. Apabila harus jujur, Budiman telah jatuh cinta dengan Nining.

Budiman gampang banget jatuh cinta. Sekali melihat dan melamun kemudian jatuh cinta. Tapi hal ini engga secara langsung Budiman berkata jujur kepada kekasihnya. Budiman selalu menyimpan rasa cintanya di dalam hati dan menyimpan pandangan matanya kepada calon gebetannya.

Seiring berjalannya waktu, siang dengan panas menyengat mulai menusuk kulit Budiman. Nining pun mengekor Budiman dari belakang beriringan menuju tempat parkir. Bahkan temen Budiman juga mengikutinya beriringan saat Budiman dan Nining berjalan bersamaan.

Bagi seorang laki-laki, jatuh cinta diam-diam lebih kerap dilakukan. Mereka lebih senang memendam perasaan tanpa mengutarakan kata hati sejujurnya yang ia suka. Karena pada dasarnya jatuh cinta diam-diam bisa lebih dekat dengan si doi ketimbang memilikinya yang belum pasti.

Akan tetapi jatuh cinta diam-diam hanya bisa mengidamkan kehadiran si doi. Hanya bisa berharap sesuai mimpi yang di harapkan, namun tidak pernah nyata terwujudkan. Jatuh cinta diam-diam hanya bisa berdoa yang kuat supaya si doi lebih juga menuangkan hatinya agar suatu saat ketika kata hati dilontarkan, kepastian berbalas tidak menyakitkan.

Hal ini bertolak belakang yang dirasakan oleh seorang perempuan. Justru perempuan tidak mengerti kalo saja seorang laki-laki mencintainya tanpa berkata jujur. Mereka mengerti pasti kalo seorang lelaki jantan berkata secara langsung tanpa melalui perantara. Seperti itu adalah yang menjadi idaman dan yang selama ini seorang wanita dambakan tanpa menunda artinya perasaan.

Okay. This is the end of stories.

Bagaimana dengan kalian semua, apakah pernah merasakan hal serupa dengan cerita ini? Iya, perasaan cinta tentang hati yang masih mengambang.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.