0

Berbagi Itu Sederhana

Posted by Malestha Andheka on 18:38:00
GUE teringat kembali ke zaman waktu gue masih kecil. Bukan, bukan waktu gue masih kecil yang masih berbentuk zigot itu. Sejak saat itu yang gue ingat gue masih menangis sekecil apa pun jika ada barang yang jatuh mengenai tengkuk tubuh gue.

Misalnya ada benda jatuh mengenai tubuh gue maka gue bakalan menangis karena kesakitan. Oh tidak, gue lahir normal kok ngga terlalu kecil-kecil amat.

Pada masa kecil gue dulu, gue sering banget di dongengin oleh bokap-nyokap. Iya, lantas mereka berdua mendongengkan cerita agar gue lekas tidur. Dongeng yang di ceritakannya pun tidak kunjung itu-itu aja. Iya, engga monoton kudu "Cerita si Kancil" gitu. Akan tetapi banyak yang diambil hikmahnya. Banyak sisi baiknya gue bisa menangkap dari obrolan bokap-nyokap katakan waktu itu. Berikut adalah ceritanya.


Sejak dahulu kala, hiduplah keluarga Pak Tono yang sangatlah sederhana. Mereka di karuniai 4 anak yang menerima kehidupan apa adanya. Anak pertama dan keduanya adalah laki-laki. Sedangkan anak ketiga dan yang paling bungsu adalah perempuan.

Mereka hidup di sebuah pedesaan paling rumit untuk menimba air yang berada di sumur rumahnya. Terkadang mereka ingin mandi selalu tidak ada sisa air untuk di gayung sedikit pun. Jerih payah Pak Tono untuk menghidupi keluarganya tidak pernah menyerah. Pak Tono memutuskan untuk menimba air di sumur tua di tengah sawah.

Kenapa anak-anaknya tidak membantunya? Jelas, Pak Tono tidak ingin membuat anaknya susah membanting tulang hanya untuk menimba air. Karena anak pertamanya sedang merantau untuk mencari uang di kota. Sedangkan anaknya yang kedua masih kudu bersekolah di bangku SMA. Bahkan yang ketiga dan paling bungsu itu masih duduk di bangku SMP.

Singkat cerita, saat menimba air di sumur tua di tengah sawah, tanpa sengaja Pak Tono melihat keanehan yang tergletak di rerumputan sawah. Rasa penasaran Pak Tono membuat hatinya untuk mencari tau. Bahkan Pak Tono berpikir, mungkin itu hanya perasaannya yang lelah atau mungkin halusinasi yang datang saat tiap kali mengantuk.

Ketika Pak Tono tidak juga mengabaikan, Pak Tono menemukan sebuah batangan emas yang bertumpukan. Entah siapa yang membuangnya, Pak Tono segera memungutinya untuk dibawanya ke rumah.

Pantas saja Pak Tono mendapatkan rejeki yang tidak bisa terduga. Akan karena pada dasarnya Pak Tono selalu di palakin oleh temen-temen atasannya. Bahkan Pak Tono selalu dianggap orang asing di pedesaan. Selain itu yang membuat hati Pak Tono perih yakni ketika Pak Tono tidak diperkenankan meminjam uang sepersen pun saat istrinya sedang sakit di klinik desa.

Sesampainya di rumah, istri Pak Tono terperanjat melihat Pak Tono yang memegang butiran emas. Melihat Pak Tono yang menggebu-gebu, istri Pak Tono mulai meneteskan air mata. Oh bukan, bukan karena marah atau pengin mengusir. Tapi air matanya menetes karena terharu melihatnya.

Sejak saat menemukan batangan emas dan banyak butiran emas itu, keluarga Pak Tono bisa membangun rumahnya menjadi sangat besar. Bahkan hidupnya tidak susah lagi. Dia tidak kesusahan mencari air lagi. Dan dia tidak kudu menimba air di sumurnya. Karena pada mulanya dia sekarang memasang air ledeng bersih untuk mandi.

Kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Pak Tono ini, dia tidak sungkan kalo ada yang meminta donatur kepadanya. Bahkan dia mendirikan panti asuhan di pedesaannya. Dia bisa membuat mini market kecil sebagai usaha istrinya. Dan anaknya di suruh memegang usaha sendiri yang telah dibuatnya, sablon dan percetakan.

Semua hal ini mulai menyengkik leher temen-temennya yang sejak dulu sangat pelit untuk berbagi rejeki. Bahkan temennya tidak mau memberikan uang sepersen pun atau sedikit pun untuk Pak Tono yang mendadak meminta karena ia tidak punya uang. Akan tetapi Pak Tono tidak berbalas dendam.

Pak Tono tidak ada niat buruk kepada siapa saja. Bahkan temannya yang dahulu selalu mengoloknya, ngeledeknya, menganggapnya sebagai orang asing itu sekarang berbanding melengkung menjadi berbuat baik kepadanya. Dan mereka sekarang menjadi keluarga yang kaya raya dan tetap selalu bersyukur kenikmatan yang ada di pandangannya.

This is the end of stories.

Setelah kalian membaca sampe selesai cerita ini, kita bisa memetik buah kebaikkannya. Iya, kita bisa belajar bahwa berbagi itu akan ada baliknya. Yang artinya, berbagi rejeki itu akan selalu ada tumpahan rejeki kembali. Gue sih percaya karena semua yang ada dalam dunia ini adalah titipan-Nya. Gue menulis ini juga dari introspeksi diri dari semua yang pernah gue alami. Menjadikan semua pengalaman untuk dibagikan agar selalu di apresiasi. Itulah namanya berbagi itu sederhana. Dan sangat indah untuk dibagikan.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.