0

Harapan

Posted by Malestha Andheka on 11:00:00
DIMANA seseorang sedang menyembunyikan harapan, dibalik itu ada sesuatu yang ingin di sampaikan masih tertutup. Pandangannya hanya tertegun di atas bayang semu yang melayang di udara.

Entah apa yang di harapkan, bisa berupa mengharapkan tamat sekolah cuman setahun, diterima kampus yang kece, sampe soal asmara. Semua harapan itu selalu di nanti-nanti dan sudah di rancang dalam pikiran.

Saat-saat mulai menerawang jauh lebih dalam, ternyata eh ternyata mulai sirna seketika datang orang yang membuyarkan. Orang itu tak hanya membuyarkannya. Melainkan membuat kita untuk berhenti saat kita berharap.

Dari narasi di atas, kita simak cerita berikut.

Anggap saja namanya Paino. Dia bersahabatan sejak lama dengan kedua temennya yang bernama Lestari dan Suketi. Paino sedang duduk di bangku panjang depan kelas. Tak lama berselang mulai disusul oleh Lestari yang tiba-tiba mengagetkan.

"Loh? Lestari? Dari mana lo, errr-"

"Kaget-kan lo, kenapa gue tiba-tiba di sini?"

"Perasaan ini bangku juga ngga ada lubangnya, tau-tau nongol aja. Iya sih, shock malah. Hehehe."

"Lebay lo ah! Lo kenapa sendirian termenung gitu?" Kata Lestari mengelus pundak Paino. "Mikir jorok ya?"

"Siapa? Kagak! Gila lo."

Lestari tertawa terkekeh-kekeh nyampe keselek air ludah. "Terus, kenapa?"

"Gue pengin cepet lulus setahun."

Lestari makin menjadi-jadi tertawanya. Saking lamanya tertawa, dia hampir lupa nama dia sendiri. "Ma-maksud lo? Ini lo engga ngigo ato lagi keserang demam-kan?" Lestari melanjutkan.

"Gue serius!" Sahut Paino cetus.

"Gini bego, lo ini punya goblok kok di piara to No, No. Lo itu yaa, masa kita lagi kelas 2 SMA tiba-tiba langsung lulus gitu aja? Selain mahkluk goib kaget, emak gue shock. Ngapain lo ngebet pengin lulus?"

"Gue jatuh cinta sama Ningsih Ri. Dia setahun lagi lulus."

"Jadi, lo suka sama yang tua?"

"Engga juga sih. Kan gue sebenernya juga seangkatan bareng dia."

"Ah payah lo. Huhh!"

Samar-samar datang dengan wajah sumringah ialah Suketi. Mulutnya nyengir sampe kedua telinganya bergerak. Tiap kali dia menyapa dengan kata 'fren' berarti manggilnya yang asli adalah 'enemy'. Paino adalah saingan Suketi nge-gebet Ningsih.

"Haloo fren!"

"Eh elo Suk, kenapa?"

"Kalian lagi ngobrol apaan, enemy?"

Paino hanya menatap Lestari. "Yaaahh. Kalian mesti tertutup terus ya sama gue."

"Kepo banget sih. Soal harapan kalo lo tau."

"Harapan? Mikirin kampus mendatang?"

"Itu juga masuk sih. Tepatnya juga mikir idaman yang lagi digemesin Paino nih."

"Siapa?"

Paino menginjak kaki Lestari make sepatu pantofelnya. Alhasil kaki Lestari langsung di hansaplast setiap jari jemarinya yang tanpa alas kaki. "Engga kok. Engga jadi." Lestari melanjutkan.

Suketi mulai duduk dan tanpa memandang kedua temennya sambil melontarkan kata perkata kiasan.

"Kalian ngga tau perasaan gue sekarang. Yang ada dalam perasaan gue juga sama seperti kalian, harapan. Entah harapan yang gue tanam ini dapat terwujud ato tidak, gue masih menanti. Pertama, gue pengin lulus cepet juga, tapi gue nikmatin kok walopun melewati kelas 1-3 yang kudu dijalani pertama. Kedua, gue pengin nunjukin nyokap kalo gue bisa masuk ke kampus yang gue inginkan. Ketiga, baru gue berpikir untuk nge-gebet seseorang."

 "Jadi gitu. Uhm... Lo pernah suka sama seseorang yang dianya ngga tau perasaan lo belum?"

"Sering. Setelah gue introspeksi diri, gue nyadar, kalo jatuh cinta diam-diam itu menyakitkan. Hanya berharap dan hanya memimpikannya. Cewek gampang, kalo dianya ngga suka paling juga ngga nanggepin si cowok. Kalo cowok mah selalu berjuang untuknya, meski berbulan lamanya ngga digagas."

"Suk, No, perbuatan yang dilakukan dengan dilandasi hati yang ikhlas, tidak akan mengalami putus asa dan rasa kecewa. Karena putus asa dan rasa kecewa hanya terjadi pada hati yang berharap doang." Sahut Lestari. "Kalo lo udah bingung entah semuanya sudah usai, ikuti kata hati lo berjalan. Biarlah dia berjalan untuk menemukan tepat pilihan lo sekarang. Gue jamin, pilihan yang tepat buat kalian semua bakalan sayang juga sama kalian. Cewek sebenernya ngerti perhatian si cowok. Tapi asal kalian tau ya, seorang cewek cantik apalagi yang kalian idolakan itu, pasti ngga kalian aja yang suka. Alhasil dianya malah bingung, mengoreksi cowok mana yang memang benar-benar bener di matanya. Kan sekarang banyak-kan cowok-"

"Iya gue ngerti. Tapi lo jangan beranggapan seperti itu juga kali. Ngga semua cowok brengsek. Terkadang cewek berprasangka buruk melulu sih." Potong Paino.

"Disisi itu PMS cewek, kalo lo ngerti. Cewek hanya pengin satu yaitu perhatian. Sekian lama lo memperhatikannya, semakin harapan dekat dengan dia ada. Cowok juga punya prasangka buruk menurut cewek. Apa itu? Saat hati cewek terbuka lebar untuknya, terkadang cowok sudah berpaling ke cewek lain. Apa ngga jengkel cewek? Cewek hanya perlu waktu untuk meneruskan hatinya agar nyaman oleh seseorang, Suk, No."

Paino dan Suketi menganggukan kepala serentak. Mereka hampir bertatapan kepala karena menganggukannya bersamaan dengan keras.

Sekelebat setelah bel berdering membuat mereka masuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran alakadarnya.

Oke. Sampe di sini ya. Dari cerita di atas, lo kudu ngerti, kalo semua yang lo harapin jangan lo hentikan gitu saja. Percuma lo sudah merancang, namun terhapus sesaat. Seperti lo mengharapkan orang lain. Sekian lama lo berharap si doi tanpa berkata jujur suka, lo bakalan terisak-isak kata kecewa dengan penuh kesenduan. So, pertahankan harapanmu untuk mewujudkannya seperti dalam mimpi yang seakan-akan nyata.

Dan sekarang, ramein kolom comments bawah yuuk. Kita diskusi bareng hal-hal yang terjadi di atas.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.