0

Sunday With Family

Posted by Malestha Andheka on 23:29:00
MINGGU pagi serumah gue masih pada molor bangun. Dengan kata lain, itu beda dengan nyokap. Tiap pagi sebelum ayam jantan berkokok, nyokap berkokok duluan. Namun, gue sadar kalau nyokap gue lain dengan ayam betina.

Nyokap bangun pagi sudah hal biasa yang dilakukan. Usai bangun, nyokap mempersibuk dirinya di dapur.

Dari dalam kamar, gue terbangun. Sebelum melek, gue ngulet-ngulet dulu sekalian kumpulin nyawa-nyawa yang berceceran di ranjang.

Tangan gue naikkan ke atas lalu mendarat ke samping. Tanpa sadar mengenai jam weaker, gelas, buku yang berada diatas meja. Sementara meja itu berada di samping tepat dengan ranjang gue.

PYAAAAARRR!!!!!! *Oooppss!!!*
Gue engga sengaja jatohin gelas dengan nguletan alami.

Dari arah dapur, terdengar jelas suara jatuhan gelas. Nyokap menaikkan kepalanya ke atas seakan kaget apa yang jatuh.

Tanpa basa basi, nyokap berjalan menuju kamar gue. Nyokap berjalan dengan langkah seperti mengejar hutang. Ketika melewati ruang keluarga, nyokap memberhentikan langkahnya.

Nyokap menoleh ke arah ruang tamu. Karena penasaran, nyokap berjalan menuju jendela ruang tamu untuk mengintip dari dalam melihat teras rumah.

Terlihat sangat mencengkeramnya, nyokap kembali menuju dapur. Gue yang berada di kamar, langsung melek dan lepas dari ranjang.

Sambil gemeteran menyusun tumpukkan butiran pecahan gelas, gue merasa ternodai mimpi semalam. Mimpi yang begitu membelok dengan sebuah kenyataan yang pernah gue alami.

Dan lima belas menit kemudian, bokap bangun dari dalam kamarnya. Bokap berjalan menuju bilik pintu ruang tamu dan membuka korden.

Selesai mempersiapkan semua didapur, nyokap berjalan ke depan TV. Nyokap menyalakan TV dan mengganti channel transTV. Nyokap memencet tombol remote, lalu menggantinya sesuai channel yang akan dipilih: transTV.

Bokap mengetuk pintu kamar gue lalu, langsung membuka pintu.

"Lah gelasnya pecah kan? Makanya semalem jangan bawa gelas di dalam kamar." Kata bokap, sambil nunjuk butiran gelas yang pecah di lantai.

"Males aku kalau harus ambil minum ke dapur malem-malem."

"Harus bersih lho. Kalau engga bersih, nanti masuk di telapak kaki jadi nusuk." Sahut bokap, datar.

Bokap menyodorkan lap yang bersih ke gue. Lalu, gue lap lantai kamar menyeluruh di seluruh penjuru kamar gue. Dari dalam kolong ranjang sampai lubang tikus yang berada di almari.

Sebenarnya, gue paling malas untuk bersih-bersih. Yang ngebuat gue kesal di saat bersih-bersih adalah menemukan sesuatu yang telah lama tersembunyi.

Kadang nampak tulang monyet atau spesies lainnya yang gue awetkan.

Usai bersih-bersih, gue keluar kamar. Berjalan menuju dapur, sambil menggenggam pecahan gelas yang terjatuh. Ketika berada didapur, nyokap sibuk meneruskan memasaknya. Di balik nyokap sedang memasak, nyokap menoleh arah gue saat membuang pecahan gelas ke dalam tong sampah.

"Pecah gelasnya? Salahnya sendiri kalau bangun tuh ya bangun. Engga pake tidur-tiduran lagi." Kata nyokap, dengan suara ke ibu-ibuan.

"Engga sengaja tanganku yang nyenggol Ma terus, ..."

"La mata masih kriyep-kriyep ya pantas nyampar gelas yang di samping." Potong nyokap, meneruskan.

"Gitu deh." Sahut gue.

Dan sekarang gue sudah mandi pagi. Badan gue berbau wangi seperti anak TK yang sudah wangi dengan bedak.

Selesai itu, nyokap menawarkan untuk sarapan di meja makan. Nyokap menyediakan hidangan makanan spesial yang sudah di masaknya. Banyak beraneka macam yang berada diatas meja.

Gue dan bokap langsung mulai menyantap kenikmatan masakan nyokap. Melahap pelan dengan lauk sederhana yang menyenangkan.

Usai makan, gue meneruskan tulis menulis didepan TV. Gue menulis blog di hape yang gue pegang. Dan kali ini gue memahami semuanya. Semua yang gue alami dari semua yang sudah gue introspeksi diri.

Gue menulis detail lebih dari semua yang terindentifikasi dari sebuah rahasia pribadi dalam bentuk diary. Sunday with family.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.