0

Mengenang Sepeda Federal

Posted by Malestha Andheka on 07:37:00

PADA pertengahan tahun 2007 gue mempunyai sepeda. Sangat senang sekali gue di belikan sepeda baru oleh bokap.

Sepeda yang di belikannya bermerk "Jemboy" dengan warna biru dongker. Sepeda yang sangat multifungsi yang menggunakannya.

Karena sepeda itu dilengkapi dengan keranjang dan kursi di belakangnya. Bokap membelikannya tanpa sepengatahuan keinginan gue. Yang artinya, bokap tidak membelikan sesuai dengan keinginan gue dalam memilih sepeda.

Pada waktu itu, gue masih duduk di bangku kelas 6 SD. Gue masih inget banget tentang ini. Kemana pun gue pergi selalu menggayuh sepeda. Meski panas terik matahari menusuk kulit, gue tetap senang menggayuh dengan semangat. Dan bokap sebelum menentukan pilihan yang tepat pun, gue masih ingat caranya berbicara.

"Kalau aku belikan sepeda bmx, nanti Mama kamu engga bisa makai Dika." Kata bokap, datar.

"Aku pengin itu Pa."

"Kamu mesti terpengaruh sama temen kamu yang make sepeda bmx kan?"

Terdiam sebentar.

Gue mulai meneruskan menjawab. "Iya engga gitu sih."

"Udah gampang. Papa nanti belikan."

Setelah bokap mengatakan demikian, gue mulai lega. Setelah gue bangun dari tidur siang, gue kaget kalau bokap bukannya membelikan sepeda bmx justru sepeda cewek buat gue dengan nyokap.

Sepeda ini memang terlihat mirip dengan pollygon. Mungkin ini kw supernya. Yang zaman gue dulu, pollygon lagi in banget di kalangan anak remaja dan seumuran gue.

Beberapa bulan sudah berlalu, gue sudah menjalani dengan sepeda itu. Sama persis dengan nyokap. Dimana pun nyokap membelikan makanan atau bahkan ke pasar, nyokap selalu menggayuh sepeda. Nyokap tidak lagi jalan kaki menuju pasar.

Liburan mulai tiba. Gue mulai seneng banget ketika libur. Di sore hari, suasana di kampung gue terkenal dengan anak-anak yang bersepedaan. Engga kalah seperti gue. Gue juga ikut untuk meramaikan suasana.

Biasanya, gue hanya muterin kampung seperti penggantinya hansip. Namun, bedanya gue menggayuh dengan sepeda.

Suatu ketika gue bersepeda sore hari itu, gue berboncengan dengan Shandy. Gue mengelilingi kampung. Karena jika melewati jalan raya, gue masih takut banget. Alhasil sangat takut jika nantinya di balap oleh kendaraan bermotor.

Ditengah perjalanan, Shandy bercerita ke gue. Shandy adalah tetangga gue yang rumahnya engga begitu jauh dengan gue. Dia baru pindahan rumah lalu, setelah mengenal gue jadi makin gila.

Saat di jalan perkampungan yang gue lewati, Shandy mulai ngobrol dengan gue.

"Ini mau kemana Dika?" Tanya Shandy, kalem.

"Jelas puter-puter lah."

"Tapi, dari tadi kita puternya kampung sini terus."

"Iy-iya. Aku hafalnya juga jalan sini. Habis gimana lagi?"

"Puterin kampung yang lain kek. Daerah sana mungkin, dekat pinggir jalan." Sahut Shandy, sambil menunjuk arah jalan depan.

Sebelum gue meneruskan permintaan Shandy, gue mengajaknya ke warnet. Waktu itu masih pukul jam setengah empat sore. Gue mulai menggayuh menuju warnet dekat dengan jalan raya.

Sesampai di warnet, gue memarkirkannya bersebelahan dengan sepeda lainnya. Sepeda gue, parkirkan di depan warnet.

Setelah satu jam berlalu, gue sudahi menutup room. Gue membayar room di depan. Warnet dulu, bertype room. Yang dibatasi dengan sekat-sekat seakan menutupi sampingnya.

Selesai membayar, gue berjalan keluar. Ketika berada diluar, gue celingukan. Gue bingung. Dan setelah menoleh ke kanan dan ke kiri gue baru sadar. GUE KEHILANGAN SEPEDA!!!!!!!

Apesnya nasib gue. Langsung gue nanya tukang becak yang sedang nongkring di depan warnet.

"Pak ngelihat sepedaku engga? Maksudnya, cirinya gini. Berwarna biru ada keranjang dn kursi dibelakangnya." Gue makin panik.

"Wah iya dek. Tadi saya lihat ada orang tergesa-gesa menaikkinya."

"Terus, orangnya kemana?"

"Pergi ke arah sana dek. Coba telusuri aja. Mungkin dia belum jauh." Sahut tukang becak, sambil menunjuk arah utara.

"Ohh. Gitu. Terus, kenapa tadi engga Bapak tanya dulu?"

"Habisnya siapa tahu kalau itu sepedanya adek kan."

"Yaudah deh pak. Makasih."

Gue berjalan kaki menuju ke rumah. Dengan lemas, gue mengeluarkan keringat cukup berlimpah. Sangat ngos-ngosan jarak warnet menuju rumah jika jalan kaki.

Sesampainya dirumah, sudah magrib. Dan gue diomelin oleh nyokap bokap. Nyokap masih berkomat kamit mulutnya membicarakannya. Dan nyokap mengganti rugi atas kehilangannya.

Karena gue hanya mempunyai tabungan 700ribu, maka gue kasihkan semua ke nyokap. Dengan rasa iba, gue menyodorkan uangnya ke tangan nyokap. Waktu itu gue mempunyai uang sebanyak itu dari hasil silaturohmi pada hari Idhul Fitri.

Masih kecil, gue sering diberi uang jajan yang cukup. Gue masih memelas dan terlihat menyesal.

Dan pesannya, jangan sesekali menaruh sepeda dan lain sebagainya di tempat parkir yang kurang memungkinkan. Karena akan ada seseorang yang selalu bertindak kejahatan.

Entah itu berada dimana pun engga mandang apa pun yang kita miliki. Jadi, berhatilah ketika memarkirkan sepeda di tempat yang tidak tepat untuk di sampirkan.


0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.