0

Marmut Merah Jambu

Posted by Malestha Andheka on 22:59:00
MARMUT MERAH JAMBU
Pandangan Pertama dari Cinta Pertama

Masa SMA banyak banget meninggalkan kenangan. Dari yang engga pengin di lupain sampai pengin di lupainnya banget banget. Yang pengin dilupain tuh pastinya hambar banget ceritanya. Uhmm. Sejarah hidup masa SMA tuh juga memetik dari sebuah adanya persahabatan.

Engga banget di waktu SMA engga mempunyai satu pun temen yang sejalan dengan kita. Entah itu hanya satu atau dua, namun mereka selalu ada untuk kita. Artinya, salah satu temen yang selalu membantu di kala suasana malapetaka kita jalani bersama.

Bisa kita ingat, dari sebuah persahabatan itu juga tidak akan pernah terlupakan. Seperti halnya saat kita mengenal pandangan pertama dari cinta pertama.

Jika boleh jujur, mengutarakan isi hati kita ke wanita idaman pilihan kita sangat lah berat. Apabila sudah banyak belajar dari introspeksi diri, namun kurang meyakini kepercayaan.

Bukan langsung terbentuk dari dorongan teman kita. Yang artinya saling menarik untuk mempercepat berpacaran. Melainkan kita jauh memikirkan kepedean setelah melakukan hingga akhirnya terjadi nanti: ditolak.

Seperti misalnya adalah saya sendiri. Bukan soal ditolak. Ketika banyak jatuh cinta diam-diam dengan seseorang. Yang pada akhirnya, saya selalu enggokan kata saya untuk mengungkapkan. Entah suka dengan dia dan dia, dan dirinya. Belum mengerti siapa yang tepat orangnya.

Beberapa bulan menjelang, saya merasa menyesal melihat dia dan dia, dan dirinya sudah bahagia tanpa saya yang menjadi kekasihnya. Saya hanya bisa manyun dengan menatapnya, seperti hati yang terbelah menjadi dua.

Apabila saya berharap untuk mengulanginya kembali, namun saya telah sadar bahwa cinta tidak dapat di putar kembali seperti berjalannya waktu. Terlalu lama enggan mengatakan, sudah menjadi bukti setelah kenyataan.

Pada dasarnya, cinta itu seperti kompas yang menunjukkan arah. Apabila jarumnya diputar arah lain, maka akan berputar kembali ke arah asalnya. Alih-alih seperti cinta. Sejak mengenal pandangan pertama mulai menjatuhkan cinta pertamanya. Ketika beralih cintanya kepada orang kedua, maka tidak senyaman pada dasarnya mencintai orang yang pertama.

Mengenang masa SMA yang pernah saya miliki sangat banyak. Saya banyak jujur dan tidak. Setelah ditimbang amal baik dan buruk, saya lebih berat yang tidak jujur. Saya mulai ingat ketika jajan di kantin sekolah. Kantin yang dinamakan dengan kantin kejujuran. Tiap kali memakan apa yang akan kita pilih, membayarnya didepan pintu masuk dan keluar setelah selesai makan.

Saya mengatakan ini itu yang sebenarnya yang saya makan tidak serupa dengan yang saya katakan. Dengan tujuan, saya tidak ingin banyak mengeluarkan uang. Saat lain hari saya balik ke kantin juga, banyak berurusan tentang hutang yang belum dibayar. Entah berapa nominalnya yang penting saya sudah melunasinya.

Di sekolah, saya terlihat cupu diantara kalangan teman-teman. Orang yang memakai kaca mata hitam, yang tiap pulang selalu belakangan itu adalah saya orangnya. Gaya rambut klimis yang sangat beda jauh dengan hairstyle rambut teman-teman lainnya. Pada mulanya, saya tidak pernah peduli dengan sebuah gaya ketika di sekolah.

Teman-teman saya sendiri tidak begitu menilai tentang sebuah fashion maupun hairstyle pada diri saya. Namun, kejadian ini tidak juga beruntun selalu memperhatikan. Pernah terjadi ketika saya salah memilih barbershop. Mulai akhirnya digunakan bahan tawa teman satu kelas yang merambat ke seluruh siswa di sekolah. Saya hanya terdiam dan membisu seakan tidak membalas.

Ketika itu, saya menjadi sering banyak dikenal dari seluruh satu sekolah. Bukan berarti saya adalah anak gaul dan eksis di sekolah. Hanya terlihat populer, namun gaya tetap dibawah teman-teman saya.

Saya sendiri selalu menurut ketika bokap nyokap saya memerintahkan untuk tidak aneh-aneh di sekolah. Menegaskan semua hal itu ngebuat saya berubah menjadi cupu di pandangan seluruh satu sekolah.

Tapi, saya sangat bahagia. Banyak guru saya yang telah percaya terhadap saya bahwa saya siswa teladan. Walaupun saya tidak banyak menggemari ekstrakulikuler di sekolah, guru saya tetap memberi dukungan selagi saya mampu berkreatif.

Saya jamin, saya tidak bakalan lupa kepada guru dan teman saya walaupun pernah menghina dan membisikkan nama saya dari belakang, saya tetap tidak peduli. Saya berterimakasih kepada semuanya, yang selalu membuat saya untuk berinspirasi seperti ini.

Dari sekian banyak film Indonesia yang pernah saya tonton sebelumnya, hanya "Marmut Merah Jambu" ini yang membuahkan cerita yang berbeda.

Cerita ini sangat jelas sama persis ketika saya masih duduk di bangku SMA. Yang membuat cerita ini makin menyenangkan pada awal ceritanya komedi. Dan yang membuat cerita ini lebih dari lebih menyenangkannya lagi pada bagian ending cerita ini sangat mengharukan.

Saya salut sekali dengan karya Raditya Dika yang menceritakan murni masa SMA-nya.

Dan yang terakhir sebagai penutup, di film "Marmut Merah Jambu" ini tidak ada sama sekali adegan ciuman.

Oke. Itu sekilas review film "Marmut Merah Jambu" dari saya sendiri. Jadi, subscribe dibawah sini ya. Boleh posting komentar sebanyak-banyaknya. Terimakasih.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.