1

Indahnya Pandangan Pertama

Posted by Malestha Andheka on 20:34:00

WEEKEND paling yang di tunggu-tunggu oleh kalangan anak muda. Selebihnya apabila weekend yang panjang. Sangat menyenangkan dan lebih leluasa untuk menghabiskan waktu dengan melepas pikiran.

Malam Minggu gue ingin ke Jogja. Kota Jogja merupakan Daerah Istimewa banget untuk anak muda yang ingin berliburan. Gue engga sendiri kesana. Sebelumnya, gue memang sudah berencana untuk kesana. Menjelang liburan ini, gue bingung banget untuk menghabiskan waktu yang begitu luang.

Seperti biasa, gue di temani oleh dua orang temen gue. Mereka berdua bernama Alfathoni dan Denanda. Ya. Gue hanya bertiga. Tiga sekawan yang akan ke Jogja untuk malam mingguan.

Setelah mandi pagi, gue langsung bersiap-siap menuju stasiun. Tepat waktu sesuai janji yang direncanakan. Pada akhirnya kedua temen gue mengulur waktu yang begitu mengesalkan.

Gue berdiri. Jongkok. Berdiri lagi sampai kaki gue kesengutan. Memang, kedua temen gue memang menyebalkan. Namun, mereka hanya tidak bisa me-managed waktu untuk bersiap menuju stasiun.

Stasiun Purwosari Solo, mulai terlihat sepi. Semua yang berada di bangku ruang tunggu sudah masuk ke kereta masing-masing. Dan sudah berangkat dengan tujuan masing-masing. Kereta pertama menuju Jogja sudah berangkat beberapa menit yang lalu.

Setengah jam kemudian, kedua temen gue yang tulalit itu datang bersamaan. Dia bergandengan tangan seakan tidak mau berpisah. Setelah gue pandang lebih dekat, gue salah melihat seseorang. Ternyata yang gue lihat adalah seorang yang homo seksual ingin liburan naik kereta.

Lalu, gue duduk di bangku ruang tunggu stasiun. Supaya engga terasa bosan menunggu, gue buka hape dan memainkan games. Pada akhirnya sangat tidak terasa Denanda datang tiba-tiba.

Denanda mengenakan jaket berwarna merah yang di selimuti t-shirt warna abu-abu. Langkah dia terhenti di hadapan gue. Sepatunya berwarna cokelat dengan ikatan kaki yang mengikatnya erat. Setelah terdiam sebentar, Denanda bilang, "Udah kamu belikan tiket Dek?"

"Belum."

"Beli dulu yo. Soalnya Alfathoni belum pesan tiket kemarin." Kata Denanda yang bersuara di bikin dewasa. "

"La gimana sih dia?" Sahut gue yang agak kesal.

"Wah tahu lah dia."

"Tapi, kemarin SMS aku. Dan terus, dia bilang sendiri kalau udah beli tiketnya kemarin."

"Iya mungkin bukan tiket kereta yang di belinya."

"Lah? Terus? Tiket apa?"

"Tiket buat emaknya mungkin."

"Huakakak." Gue ketawa sebentar. Kemudian bilang, "Apa dia berangkat sama nyokapnya kali ye?"

"HAKHAKHAK." Ketawa Denanda terdengar sama ketika dia nelen semangka sebijinya.

Lalu, gue mempesankan tiket untuk kita bertiga. Sementara tiket gue pegang. Lima menit menjelang, Alfathoni datang. Dia datang tergesa-gesa. Gue langsung mengajaknya untuk masuk ke dalam kereta langsung. Karena pada waktu itu, kereta sudah standby di jalur kereta ketiga.

Kereta Sriwedari AC membawa kami menuju Jogja. Kami berhenti di stasiun Lempuyangan. Denanda mengetuk recehan di kaca kereta. Kereta terhenti lambat-lambat. Dan setelah gue pikir-pikir, ini BUKAN bus ternyata. *lap iler*

Pagi ini, mereka berdua menemani gue untuk mengirimkan script gue ke penerbit. Di pagi hari suasana di stasiun sudah sangat rame. Banyak yang menyambut kedatangan kami bertiga.

Banyak diantara lainnya seperti seseorang yang mengenakan kemeja berwarna biru muda di dalam mobilnya. Dia menawarkan kami untuk naik ke dalam mobilnya. Sampai di hadapannya, ternyata seorang sopir taksi yang menyambut pertama.

Mantap.

Dan yang kedua, kami disambut oleh seseorang yang mengenakan t-shirt dengan bertabrakan bersama celananya. Dia ahli mengemudikan roda tiga untuk mencari penumpang. Ini sopir becak dekat stasiun namanya.

Beberapa banyak yang menyambut kita bertiga, kami enggan untuk menerima. Kami menolaknya, bukan karena gengsi atau apa. Namun, kami lebih memilih jalan kaki katimbang naik transportasi.

Siang hari kemudian, awan mulai mendung. Cahaya di langit tidak lagi bersinar terang. Langit mulai terlihat redup. Rintikan air hujan mulai mengguyur kota Jogja.

Kami bergegas mencari halte untuk menunggu bus trans Jogja yang akan datang. Tujuan kami sekarang menuju Plaza Ambarrukmo. Kebetulan banget salah satu temen gue belum pernah berkunjung kesana sejak dia lahir.

Bus yang kami tunggu sudah berhenti di halte. Tepat didepan kami akan masuk ke dalamnya. Lalu, bus membawa kami ke Plaza Ambarrukmo dengan waktu singkat. Untungnya bus tidak menerbangkan kami ke benua Eropa. Nanti akan melibatkan kami yang bingung entah jalan kemana.

Sesampai di Plaza Ambarrukmo mall, kami langsung menyeberang. Saat menyeberang, jalan diguyur air hujan yang begitu deras. Jalan yang begitu padat membuat kami terhenti melangkah di tengah jalan.

Ketika sudah berada di dalam Plaza Ambarrukmo, badan kami basah setengah. Basah yang mengenai sekujur setengah badan. Kami tak lupa mengenakan topi untuk melindungi wajah dari tumpuhan air hujan.

Denanda tertegun melihat Plaza Ambarrukmo yang hampir melepas sepatunya. Namun, baginya ini sangat kecil dari pada yang pernah di lihatnya. Denanda bernuansa orang Jakarta. Kota Jakarta merupakan kota dia yang telah lama disana sejak kecil.

Alfathoni menoleh ke kanan dan ke kiri setelah menaikki tangga escalator. Dia justru senang melihat suasana malam minggu ini di Jogja. Karena di dalam rumahnya sangat sepi seperti hati dia.

Di kala semua sudah sangat terbuka wajahnya, kami terpesona melihat salah satu pengunjung yang duduk di bangku sebelah. Alfathoni menunjuk perempuan itu dan bilang, "Dek kalau orang seperti itu pantes buat aku engga?"

"Engga." Kata gue. "Jangan kegedean kayak gitu. Alangkah lebih nyamannya, cari yang berjilbab seperti mantanmu dulu."

Denanda cengar-cengir melebihi kedua telinga dia. Denanda hanya terdiam.

Hening sebentar.

Lalu, Alfathoni meneruskan pembicaraannya. "Jangan bahas soal mantanku deh. Malas banget aku. Melihat dia lagi udah muak."

"Kenapa bro?" Denanda bertanya.

"Ngeselin dia. Susah banget aku jadian sama dia."

"Kalem bro. Itu lah wanita pilihanmu dulu." Tukas gue, yang spontan mengatakan.

"Eh tuh orangnya udah pergi." Ujar Denanda bersuara kedewasaan.

"Yaaaahhh. Belum sempat kenalan juga." Kata Alfathoni memelas.

"Di kota kita banyak kali bro."

Terdiam sebentar.

"Yang bilang jatuh cinta dari pandangan pertama itu bener juga ya." Kata Alfathoni.

"Iya lah." Sahut Denanda. "Memang cinta itu bisa membutakan mata kita."

"Sekian banyak dari pengalaman kita, maka akan tahu besar apa cinta itu sebenarnya. Apakah dari pandangan pertama itu dapat membuat kita menjadi mabuk asmara? Bahkan sudah jauh mencintainya, namun dia tak acuh membalas? Cinta tak pernah sama dari hati seseorang yang mencintai ke orang yang di cintai. Seolah-olah hanya sebatas garis yang tidak tersambung. Seperti halnya hati yang belum menyatu untuk mempersatukan agar cinta dapat di katakan cinta." Kata gue, yang tiba-tiba berinspirasi ketika meminum milo lima gelas tanpa jeda.

Mencintai yang telah di sayang itu jauh lebih baik dari pada telah mencintai orang, namun lebih hanya satu.

Ps: Pada mulanya, cinta berdasarkan hati yang saling suka. Dua hati yang saling suka kemudian mempersatukan. Dari sebuah kesimpulan, mulai timbul sebuah pertanyaan yang serupa orang katakan. Kenapa ketika mencintai seseorang di orang yang tidak mencintai kita melainkan lebih memilih mencintai orang lain?

Tentang mencintai dari pandangan pertama. Tentang curhatan seseorang bercerita.

Tinggalkan posting komentar kamu yuk. Ajak teman kamu untuk subscribe di bawah sini. Thank you for visit!


1 Comments


MANTAP!

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.