0

Gara-gara Dompet

Posted by Malestha Andheka on 16:18:00
PANAS terik sinar matahari menusuk kulit gue yang sedang mengendarai kendaraan. Tadinya, gue merasa malas untuk keluar rumah. Namun, merasa tidak seimbang dengan keinginan. Akhirnya gue mulai menyempatkan pergi keluar.

Gue gampang banget berkeinginan. Semua hal yang gue inginkan seakan harus terpenuhi sesuai harapan. Ya. Benar harapan. Bukan harapan lain dari sekadar sebuah harapan palsu dari seseorang yang tidak gue inginkan.

Siang ini, gue ingin ke toko buku Gramedia. Tidak amat jauh dari rumah yang gue tempuh. Apabila gue jalan kaki justru ngebuat gue ngeden. Karena terasa sangat jauh dan ngos-ngosan.

Toko buku Gramedia Pustaka yang biasa disebut Gramedia, berada di jalan Slamet Riyadi Solo. Engga begitu jauh dari rumah gue menuju toko buku ini. Sekali lagi TIDAK BEGITU jauh. Sengaja gue ulangi agar meyakinkan. Hehehe.

Sebelum gue berangkat, gue sudah mengenakan helm dan tidak lupa membawa power bank untuk keadaan darurat: hape. Berjalannya waktu sangat cepat berlalu, gue berangkat tanpa membawa dompet. Kali ini gue memang engga sadar.

Tiba di Gramedia, dengan pede gue masuk ke dalam. Memakai sweater hitam dengan celana jeans yang gue kenakan. Gue di sapa halus oleh penjaga pintu depan.

"Selamat siang! Silakan masuk mas."

"Iya selamat siang!" Sahut gue, sambil menundukkan pala.

Gue berjalan menuju anak tangga dan menaikkinya. Di lantai 2 terdapat banyak buku yang akan gue cari. Sedangkan di lantai dasar hanya terdapat mainan anak-anak dan perlengkapan musik lainnya.

Sampai diatas lantai 2 ini, gue berjalan ke rak buku novel remaja. Lengkap dari buku lama dan baru di tempatkan. Gue mencari buku gue yang terdisplay disana, ternyata belum ada. Namun, gue sadar, kalau gue belum diberikan kabar untuk langkah selanjutnya script yang gue kirimkan.

Banyak orang yang berkunjung di toko buku ini. Ada yang sedang asik memegang majalah. Komik. Buku sastra. Dan cerita novel-novel yang mereka gemari.

Gue tergolong memilih bacaan novel. Bacaan yang menurut gue engga pernah ada happy ending seperti halnya dengan pengalaman nostalgia gue. Gue masih berdiri tegap tanpa menyandarkan punggung yang terlihat lelah.

Tangan kanan memegang rak buku yang berada di hadapan gue. Sebagai penyeimbang gue berdiri sambil membaca buku. Baca membaca demi kalimat dan perkata yang sangat panjang.

Tidak melihat berjalannya waktu, gue menoleh ke kanan. Melihat seorang wanita nampak terlihat sangat anggun dan cantik. Dia lewat tepat di hadapan gue. Berjalan sambil membawa buku berjalan ke arah kasir.

Gue mulai terpanah asmara dengannya. Tanpa segan gue memetik buku yang terdapat di rak buku novel remaja. Sambil membawa satu buku dan berjalan di belakangnya.

Wanita itu sudah membayarnya di kasir. Sementara gue masih mengantri dua orang di depan gue. Sebelum membayar, gue merogoh kantong celana belakang untuk mengambil dompet.

"Hah! Mampus! Dompetku kemana?!" Kata gue makin panik. Gue berlari ke rak buku novel di tempatkan. Segera mengembalikkannya karena gara-gara dompet yang tidak terbawa.

Gue telusuri ketika gue berjalan ke atas lantai 2. Sampai di lantai bawah, gue berjalan cepat ke lantai basement. Tepat di kendaraan, gue membuka jok kendaraan. Setelah terbuka, tidak ada sama sekali dompet.

Lalu, gue merogoh kantong celana depan dan belakang. Akhirnya tersisa uang kembalian kemarin seribu rupiah dengan recehan yang masih tertinggal. Gue simpan untuk membayar parkir untuk keluar.

Sampai di pengambilan karcis, gue melihat daftar papan yang nampaknya parkir kendaraan adalah 1500 rupiah. "Mampus!!!!! Duit gue kurang lima ratus sekarang!" Gue mundurkan kembali kendaraan dengan alasan ada barang yang tertinggal.

Kendaraan gue parkirkan kembali di tempat sebelumnya bersemayan. Gue meletakkan helm, lalu berjalan masuk ke dalam toko buku kembali. Usai masuk ke dalam, gue merogoh kantong celana depan untuk mengambil hape.

Iseng melihat path, ternyata salah satu temen gue ada yang berkunjung juga. Tanpa segan gue chat dia seakan membutuhkan sangat darurat.

Gue berjalan naik ke atas lantai 2 kembali. Seperti biasa, gue enggan jika tidak menyentuh buku dalam sehari. Saat gue membaca, gue berdoa agar cepat terkabulkan.

Lima belas menit kemudian, Rima temen gue naik ke lantai 2. Rima mengenakan baju berwarna hijau dengan hiasan motif bunga yang ramai. Celananya berwarna hitam seperti rambutnya. Dan dahinya menonjol bagaikan ikan lohan yang berjalan di darat.

"Apaaaa Dek?" Tanya Rima, mengernyitkan dahinya dan menaikkan alis.

"Gini Rim. Aku lupa bawa dompet."

"Terus, mau pinjem duit gitu?"

"Iya lah. Masa minjem baju iya engga mungkin bangetlah. Terus, kalau ..."

"Berapa? Buruan, aku mau baca novelnya Raditya Dika ini." Potong Rima, diam-diam Rima memotret penjuru ruangan dengan mengenakan hape. Buku yang di pegang untuk menutupi hape nya yang akan memotret ruangan.

"Seribu aja deh. Engga lebih! Cuman buat parkir aja."

"Yaelah. Iya deh gampang kalau gitu." Sahut Rima, yang asik membuka novel Raditya Dika.

Gue membaca ulang novel yang sudah gue batasi halamannya dengan penyekat buku. Ditengah gue menyelesaikan membaca, Rima mengajak pulang. Dalam diri Rima mungkin segera membelah dirinya sesuai karakter dia menyerupai Amoeba. Namun, dia masih tergolong manusia beneran.

Akhirnya, gue menuruni tangga dan hendak menuju basement. Sampai di basement gue mengambil kendaraan gue yang telah rapi di parkirkan. Sebelum mengendarai, pasang helm dulu di kedua kepala. Eh, ada yang engga pas. Hmm satu kepala maksudnya, emang gue mahkluk alien yang berkepala dua.

Rima mulutnya berkomat kamit, memanggil gue. Tidak lupa, dirinya memberikan duit seribu rupiah untuk membayar parkir kendaraan gue.

"Dekaaaa! Ini uangnya. Nanti bayarkan sekalian punyaku ya." Jelas Rima, sambil menyodorkan uangnya.

"Ohh. Iya ya. La kamu engga jadi pulang sekarang?"

"Aku dibelakangmu keles." Sahut Rima, sewot.

"Hakhakhakhak. Oke deh. Sip." Gue tertawa garing.

Berjalan menuju penarikan karcis, gue menyodorkan karcis dan uangnya. Kemudian, uang kembalian gue biarkan untuk Rima yang masih berada di belakang.

Finally, gue bisa keluar dan pulang kembali ke rumah.

Gue sekarang nyadar, apabila pergi dengan terburu-buru bakalan ada yang tertinggal. Sengaja atau tidak memang tidak sadar. Alangkah lebih baiknya untuk mengeceknya terlebih dahulu. Gara-gara dompet gue sempat shock, bingung untuk pergi keluar.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.