0

Di Balik Janji

Posted by Malestha Andheka on 21:22:00
PADA suatu hari gue terhalusinasi diantara penuh rasa kesal dan tidak. Diantara kata itu yang ngebuat gue akan semakin bertindak untuk melakukan sesuatu. Banyak dorongan dari pikiran gue untuk segera aktif.

Semakin dalam gue berpikir, engga tahu kenapa gue ingin keluar rumah untuk melepaskan pikiran. Namun, gue ngerasa dirumah justru ngebuat gue menjadi pulih normal kembali. Dan sementara gue mengurungkan untuk keluar.

Serumah yang tinggal dengan gue antara lainnya nyokap bokap pada pergi untuk membeli makan. Gue terdiam sendiri diantara selimut dan ranjang. Hanya dengan hape yang bisa menemani di kala kesepian.

KRIIIING. KRIIIING. KRIIIING.

Tiba-tiba, Alfathoni menelepon. Sebelum dia menelepon, gue sempat mendapat SMS darinya bahwa telepon dia tadi siang tidak gue angkat. Gue tertidur seakan tidak mendengar suara hape yang berbunyi.

"Halo." Sapa penelepon seberang.

"Iya halo!" Balas gue. "Ada apa bro?"

"Sibuk engga bro? Sorry ganggu. Gini, besok jadi engga ke sekolah?" Tanya Alfathoni, kalem.

"Ke sekolah ngapain bro?" Sahut gue, heran. "Kita reuni gitu? Baru aja lulus langsung reuni. Hakhakhakhak." Gue tertawa di saat tidak nyambung jadi kelihatan garing.

"Bukan!!! Kita ke sekolah tujuannya ketemuan sama Denanda. Besok jam 8 penting!" Ujar Alfathoni, menjelaskan. "Kan kayaknya kita sudah janji besok gitu bro di hari malem Minggu kemarin."

"Ada apa sih? Oke oke deh kalau gitu."

"Yaudah bro, ditunggu kabarnya besok."

"Woke sip."

TUT. TUT. TUT. TUT. Alfathoni menutup telepon.

Setelah menerima telepon dari Alfathoni dan itu ngebuat gue sadar. Bahwa sebenarnya gue telah janji untuk ke sekolah besok pagi.

Banyak hal sesuatu yang melingkari pikiran gue. Hingga akhirnya gue lupa kalau sudah janji. Gue menahan dan menghela napas sejenak.

Masih seperti gue termurung, di dalam kamar dengan posisi berbaring sambil memegang hape. Online twitter justru ngebuat gue jenuh. Line-line an, bingung mau line siapa. Yang ada justru line ID Alfamart atau Indomart dan toko-toko lainnya yang selalu ada di kontak.

Pada akhirnya, gue mengerti tentang sebuah janji. Berkata janji tidak semudah mengemukakan kata di balik itu. Selain bisa menepatinya, harus seimbang dengan ingatan. Yang maksudnya, janji tidak bisa di tepati jika tidak di ingat dalam pikiran.

Mestinya akan selalu terpikirkan dalam halusinasi yang tidak bersangkutan. Sebagai tindakan untuk mencegahnya, berkehendaklah untuk memikirkan sebelum mengeluarkan untuk mengatakan kata yang akan di ucapkan.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.