0

Cita-cita Masa Kecil

Posted by Malestha Andheka on 13:35:00

SEMASA gue masih kecil dulu, gue masih inget ketika berdebat soal cita-cita. Gue berdebatan banyak dengan saudara gue. Karena saudara gue terlihat lebih menjengkelkan dari raut wajahnya.

Setelah gue perhatikan, gue merasa redup dari rasa menjengkelkan. Namun, masih tersimpan dalam benak gue yang tadinya gue ganti dengan penuh kebajikan.

Di masa gue masih kecil ini, gue sering main dengan saudara gue berupa: inspirasi. Gue detail kan ceritanya. Tepatnya ketika gue masih duduk di bangku TK nol besar. Masih kecil yang tiap kali mandi pintu kamar mandi gue buka lebar. Karena gue takut berada di dalem sendirian. Hehehehe.

Gue lahir tanpa mempunyai seorang ade. Dan gue lahir sebagai anak tunggal seperti dakochan. Tanpa mempunyai seorang kakak yang seperti teman-teman gue.

Saudara gue mayoritas berkelamin perempuan. Sementara yang berkelamin seorang laki-laki sudah pada gede dan beranjak SD dan yang paling tua SMP itu anak dari tante gue.

Karena gue masih TK nol besar, gue main dengan sepupu gue yang masih TK nol kecil. Hanya terpentang jarak 1 th tepatnya. Kadang dirumah ramai. Bisa di karenakan ada tamu dan temen gue atau temen sepupu gue yang berkunjung ke rumah.

Ketika gue sendirian dirumah sama sepupu gue, sering banget main dokter cilik. Yang tiap kali sepupu gue berpura-pura sakit, gue langsung obati dia dengan alat medis berupa: setrika.

Karena dulu gue belum membeli perlengkapan dokter yang terbuat dari plastik buat mainan anak, gue pake tuh setrika nyokap buat mainan. Hingga akhirnya, gue menggosok seluruh badan sepupu gue denga setrika.

Namun, gue masih merasa tidak tega melihat sepupu gue yang gue gosokin badannya pake setrika. Gue engga sampe colokin tuh kabelnya ke stok kontak. Alhasil badannya jadi terpanggang panas dan gue masuk ke dalam kategori psikopat.

Di kala sedang berinspirasi dari cita-cita yang kurang logis, namun gue sudah mengidamkannya di waktu gede nanti. Di waktu gede nanti gue ingin jadi dokter. Ya. Dokter. Namun, cita-cita bisa berubah-ubah.

Seperti halnya waktu gue belum bersekolah di TK Bayangkara. Gue di tawarin oleh nyokap tentang cita-cita.

"Dika. Besok gede mau jadi apa?" Tanya nyokap, dengan suara ke ibu-ibuan.

"Jadi ...."

"Hayoo mau jadi apa?" Potong nyokap, sambil mengelus kepala gue.

"Jadi ........ Jadi MICKEY MOUSE MA!" *lap iler*

"Loh kok Mickey Mouse? Itu bukan manusia Dika. Itu hanya di film kartun." Kata nyokap, sambil mengelap iler gue yang keluar.

Gue terdiam sebentar.

Lalu, gue meneruskan bertanya.

"La kalau superman gimana Ma? Kan nanti aku bisa bantu orang-orang di jalanan."

"Kamu engga langsung jadi pemadam kebakaran aja? Itu bagus. Selain membantu orang, juga menakhlukan api yang memakan korban." Sahut nyokap, menjelaskan.

"...." Gue bingung entah yang dibicarakan nyokap.

Sebuah cita-cita dari dulu yang di idamkan bukanlah hanya sebuah arah. Bukan hanya pantauan untuk mengarahkan. Apabila ada usaha pasti ada jalan keluarnya untuk memperolehnya.

Sebenarnya cita-cita di masa kecil akan selalu teringat ketika dewasa nanti. Pada mulanya akan mendorong di saat usaha yang dilakukannya.

Baik sebuah cita-cita yang di idamkan dulu dan sekarang. Usaha yang kita salurkan berdasarkan sebuah bakat dan sebuah hobi. Dengan keduanya itu saling berkaitan. Adanya keduanya itu saling kuat untuk melanjutkan seseorang untuk mendorong acuan cita-cita di masa yang akan datang.

Yaksip. Sekian dulu. Posting komentar kamu di bawah ini yap. Semoga bermanfaat dan berguna untuk kita yang bercita-cita.


0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.