0

Carberg

Posted by Malestha Andheka on 09:24:00
WAKTU lagi booming nya helm bermerk "INK" gue mulai sisakan uang buat membelinya. Sedikit demi sedikit yang gue tabung makin ludes karena pengeluaran gue yang engga karuhan untuk berhenti.

Ketika duit yang gue kumpulin sesuai dengan harganya, gue engga langsung membelinya. Gue lebih memikirkannya jangka panjang setelah mempunyainya.

Di era zaman gue kali ini, banyak banget yang mengenakan helm INK. Bahkan ada yang mengenakan helm merk lainnya yang engga kalah persis bentuknya. Misalnya carberg, takachi, hirachi (eh emang ada?) dan lain sebagainya. Setelah di pikir-pikir, merk tersebut mulai menurun.

Hanya tertinggal carberg yang masih stock. Untuk mengirit pengeluaran, gue memutuskan untuk membeli carberg yang sangat miring banget dari pada harga helm INK.

Pada mulanya, helm yang gue inginkan sebenarnya INK. Namun, melihat saudara gue yang mempunyai helm carberg, ngebuat gue ingin membelinya. Gue memang mudah banget pengin apa pun. Dari pengamatan, mulai berkeinginan mendapatkan.

Finally, gue pergi ke toko helm. Disana menjual banyak helm bermacam-macam merk. Dengan harga yang tinggi, namun bisa ditawar.

Gue masih inget mempunyai helm ini. Gue membelinya sendiri dengan mengendarai kendaraan. Helm yang gue kenakan hanyalah helm gratisan dari kendaraan gue honda beat dulu.

Sesampainya di pintu gerbang alun-alun, gue berhenti. Melihat adanya, helm yang bertumpukkan di pinggiran jala, gue langsung pilih memilihnya. Tak sungkan juga gue menanyakan harganya.

"Pak, yang ini berapa?" Tanya gue, sambil menyodorkan helm yang telah gue pegang.

"Ohhh. Yang itu 285ribu mas."

"Wah mahal ya." Kata gue, lalu meletakkan helmnya di tempat. "Kalau yang itu Pak?" Tangan gue menunjuk helm yang berada diatas.

"Itu masih mahal juga mas. 350ribu."

"Kalau carberg berapa pak?" Tanya gue, menanyakan kembali.

"175ribu mas. Bisa di tawar kok."

"Uhmm... Kalau 145ribu aja gimana pak?" Ujar gue, mencoba menawar dengan benar. "Ayolah, deal ya pak..." Gue menyodorkan duit 50ribuan 3 ke penjual.

"Yaudah deh. Mau langsung di pakai atau di masukkan dalam dus lagi mas?"

"Masukkan dalam dus aja. Ini saya sudah makai helm." Sahut gue, sambil membenarkan helm yang tadinya miring.

Selesai membelinya helm, gue kembali pulang ke rumah. Gue menaruh helm itu di bagian bawah helm gue tempatkan.

Kali ini, gue bisa mengirit pengeluaran. Duit gue masih sisa untuk digunakan yang lainnya. Untuk itu gue engga merasa menyesal untuk membelinya. Dan mengenakan helm alakadarnya.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.