0

Berusahalah

Posted by Malestha Andheka on 17:21:00
SORE hari udara yang begitu sejuk, gue habiskan waktu luang di toko buku Gramedia. Sebelum gue berangkat, ngga lupa gue mandi sore terlebih dahulu.

Gue sekarang udah wangi. Kalau anak TK tuh udah wangi dengan bau bedak yang terlalu nyonyor di wajahnya. Pukul tiga lewat tiga lewat tiga gue berangkat. Artinya tuh jam tiga lewat tiga menit lewat tiga detik. Hehehehe.

Tiba di Gramedia, gue pakirkan kendaraan yang bersebelahan dengan kendaraan lainnya. Semua kendaraan tertata rapi yang sudah diatur oleh karyawan toko.

Selesai memparkirkan kendaraan dengan benar, gue berjalan ke pintu masuk. Gue memakai t-shirt abu-abu polos yang di selimuti sweater yang berwarna hitam. Celana jeans yang gue kenakan sedikit turun diatas pinggang. Dan sepatu casual berwarna hitam yang gue kenakan, menyesuaikan dengan sweater berwarna hitam gue.

Melewati lantai dasar, gue naik lagi ke lantai dua. Ditengah lantai menuju ke atas, gue melihat buku best seller yang terpampang di rak dekat tangga. Langkah gue hentikan sebentar.

"Wuiiiihhh ini bukunya Raditya Dika, Marmut Merah Jambu ternyata ganti cover. Keren!!!" Kata gue sambil memegang bukunya.

Orang yang lewat ngelihat gue menjadi makin bingung sambil nutupin bibirnya dengan baju yang dikenakan. Gue jadi bengong dengan mata celingak-celinguk ketika seseorang tadi melewati hadapan gue.

Lalu, gue langsung naik dan berjalan diantara rak-rak buku novel. Mata gue menatap tajam seluruh rak buku yang sudah tertata rapi. Gue mengambil salah satu buku yang tertata rapi di bagian novel remaja.

"Cinta. (baca: cinta dengan titik) by Bernard Batubara." Gue memegang salah satu buku dan melihatnya.

"Beli tidak beli tidak beli tidak simpan??? Iya deh." Gue menghelakan napas. Akhirnya gue menyimpan dalam-dalam buku itu dibelakang buku lainnya diletakkan.

Pada saat gue yang sedang asik mendorong buku ke dalam, seseorang mendekati gue. "Prok. Prok. Prok." (Emang dia kapiten?) Suara sepatunya berjalan mendatangi gue.

Ketika orang itu berada dibelakang gue, pundak gue ditepis olehnya dengan bersamaan bilang, "Dekaa!!!!"

Gue menoleh ke belakang. Lalu, membalas sapa dia dengan, "Hah! Kaget aku. Ohh. Kau ini bikin jantung gue di cangkok aja."

"Hihihihi." Dia meringis, terdengar seperti anak kuntilanak yang sudah menstruasi.

Ternyata orang itu adalah teman gue SMA yang bernama Bimo. Namun, ia tidak satu sekolah dengan gue.

Gue melanjutkan pembicaraan. "Udah lama disini Bim?"

Bimo menghelakan napasnya dan meletakkan buku di rak sambil membalas, "Udah lama kok. Sama siapa Dek kesini?"

"Oh. Sendiri aja, aku udah biasa." Ucap gue, sambil mencet-mencet hape.

"Hahahaha. Yaudah aku duluan ya Dek!" Ujar Bimo, tangannya melambai.

"Ohh gitu. Oke Bim, hati-hati." Balas gue, lalu memegang salah satu buku kembali untuk membaca.

Beberapa judul gue baca yang menghabiskan beberapa menit berlalu. Usai membaca kemudian, gue meletakkan buku itu ditempatnya. Gue berjalan menuruni tangga untuk menuju basement parkiran.

Tiba dibawah, gue starter kembali kendaraan gue. Setelah kendaraan menyala, gue langsung gas keluar untuk kembali pulang.

Saat gue sampai dirumah, gue melihat sunset didepan rumah. Senja mulai berlalu meninggalkan udara yang begitu sejuk. Gue melihat kunci rumah yang terselip diatas fentilasi udara kamar mandi.

Gue naik ke atas kursi yang berada diteras untuk menggapai kunci itu. Setelah menatap gantungan kunci itu, gue langsung menariknya. Ketika ditarikkan gue begitu kuat, kunci itu melepaskan gantungannya. Gue spontan bilang, "Goblok!!!! Kuncinya masuk ke dalem."

Jika kunci masuk ke dalam, alhasil gue dan nyokap bokap ngga bakalan berharap tidur di ranjang kembali. Gue segera menggelar matras, kemudian menggantikan bantal dengan dongkrak yang ada dibawah meja. Namun, gue tetap berusaha merogoh kunci itu dengan jari telunjuk.

Jari telunjuk tangan kanan gue masuk ke dalam. Untungnya fentilasi udara kamar mandi itu muat banget apabila telunjuk gue masuk ke dalam.

Badan gue mulai berkeringat basah. Rasa semangat empat puluh enam mulai muncul. Gue lap keringat itu dengan lap khusus: kain pel. Raut wajah gue mulai cemas ditambah panik.

Gue garuk-garuk kepala belakang. Seakan bingung untuk mengambilnya dengan cara bagaimana lagi. Dan bila mana gue sodorkan make lidi, engga banget deh gue lakuin itu.

Gue coba kembali dengan telunjuk tangan kembali. Kali ini gue bisa meraihnya. Mantap. Gue mampu membalikkan kunci itu. Dan sekarang kunci itu tinggal ditarik dengan tangan kiri gue.

Setelah gue tarik keluar, kunci rumah itu bisa bebas dari terjepitnya di fentilasi udara. Fiuuuh! Akhirnya keluar.

Subscribe disini ya, tinggalin posting komentar kamu dibawah. Thank you, dan ini fotonya.


0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.