0

Berandai-andai

Posted by Malestha Andheka on 17:49:00
KEBIASAAN yang menurut gue udah engga lagi bisa di katakan ironis, maka gue sangkutkan menjadi hobi. Kenapa begitu? Ya. Karena gue merasa nyaman banget dari kebiasaan yang nyaman merubahnya menjadi hobi, asalkan engga hobi maling.

Terlelap bulan lalu silam, gue berpikir gampang-gampang sulit untuk menjawab beberapa temen gue tentang sebuah hobi. Yang tiap kali yang gue lakukan terus gue dorongin supaya mengucapkan (maksa buanget pokoknya). Alhasil malah nihil. Jawabnya justru makin engga karuhan yang engga pernah ada sangkut pautnya.

Jawaban yang susah di jawab misalnya seperti sebagai berikut.

"Bro ayo tebak, gue make celana dalem apa?" Gue bertanya.

"Pink!" Sahut temen gue.

"Melamun mesti ya?!" Ucap gue. Jari telunjuk menunjuk wajahnya.

"Kamu itu kenapa to Dek?!"

"....."

Dan ini jawaban yang gampang banget di jawab misalnya.

"JANGAN AMBIL CATOON BUDS GUE DIEM-DIEM DONG. MAU GUE TARIK BULU IDUNG LO APA?!!"

"Eh. Eh. Siapa ya?! Orang gue tiap kali bersihin telinga make gulungan selembar kertas kok. Sorry ya!" Sahut temen gue.

"Yeee. Songong banget lo!"

"Gaya banget lo. Dasar!!!"

Di saat lagi emosi kayak gitu, seseorang entah kenapa cara berpikirnya lebih cepat dari pada menjawab soal matematika. Itu mesti.

Sesulit ngebayangin jawaban seperti diatas, sama artinya ketika gue belajar menulis. Seperti misalnya pada waktu gue memegang pensil untuk menulis masih dibilang susah dibanding melemparkannya ke jidat temen yang lagi menguap.

PLAAKKKK.

Ngomong-ngomong soal hobi deh. Dan ini menurut gue bukan menurut survey atau bla bla bla yap. Hobi merupakan kebiasaan yang menyenangkan dan sangat nyaman yang melekat di diri kita. Apabila kita memang merasa mudah menjalaninya dan sangat senang, maka itu adalah hobi. You know? Kalau iya menganggukkan kepala ya.

Kita beralih misalnya ke karakter tokoh aja kali ya. Simak baik-baik berikut.

Joni masih tergolong anak balita setengah dewasa. Artinya, seorang balita yang berat badannya seukuran anak dewasa (gilak! Ini perut atau tabung gas?!). Joni adalah seorang pria tulen yang tiap kali pipis pasti berdiri. Sebelum dia terjun dunia bola, Joni mendalami tentang pranata luar: basket. Bukan berarti sesama bola bundarnya ia suka. Mungkin bola bowling atau bola ping pong Joni tidak pernah terjun kedunianya.

Menurut prediksi temennya, Joni orangnya sangat plin plan dalam memilih hobi. Di usia dia yang sekarang masih duduk di bangku kelas 6 SD ini memang belum menonjol pesat. Padahal semestinya, ia harus memperlihatkan sedikit kesukaannya kelak.

Pada suatu hari dengan suasananya panas yang menggerahkan badan nyampe telinga, Budi mengajak Joni agar join ke dalam les berenangnya. Pikiran Joni hanya menggebu-gebu. Antara bimbang untuk menolak atau berangkat.

Karena Joni enggan menolak, ia ngga tanggung-tanggung. Joni langsung tancap dan berangkat dengan menyelempangkan tas yang sudah di packing mendadak.

Pada saat di kolam renang, Joni hanya duduk di pinggiran dan melihat air yang bergoyang. Kedua kaki Joni ditenggelamkan ke permukaan air. Sementara teman-temannya yang les sedang aktif berenang di tengah. Joni mulai di panggil oleh salah satu temennya.

"Jon!!! Masuk sini." Teriak Budi tangannya melambai ke atas.

"Aku engga jago renang bro!" Sahut Joni.

"Apa gunanya kau ikut les bego?!" Bentak Johan menjelaskan.

Joni menjawab hanya menganggukan kepalanya.

Kedua tangan Joni bersedekap diatas pinggangnya. Seakan kedinginan, namun yang terasa sangat panas dengan sinar matahari yang menyinar terang.

Selesai berenang, malamnya Joni harus futsal. Karena Joni mempunyai sebuah pandangan menjadi terarah.

Ketika mulai beranjak duduk di bangku SMP ini, Joni terarah dengan berjalan tentang apa adalannya.

Selesai Joni pikirkan dan merenungkan, yang Joni suka adalah membaca dan menulis. Entah itu dalam selembar kertas atau pun menulis didalam laptop yang tiap hari menjadi kegiatan rutinnya.

Keesokan harinya, Joni sudah mengerti apa yang ia gemari sekarang. Pada awalnya, Joni memang sama dengan teman-teman dengan temen lainnya yang hobi hang out.

Entah suka adventure dan semacamnya, Joni tidak ingin merubah hobinya. Setelah mendengar Joni yang secara merubah hobinya dengan menetap, banyak kalangan teman sekelasnya kaget. Seolah ini adalah mimpi.

Kedua orang tua Joni hanya aktif mendukung. Agar Joni dapat mengendalikan kembali pendiriannya menjadi seorang bijak.

Saat Joni sudah beranjak dewasa, ia menjadi sukses dan berkembang membuat usaha sendiri. Jauh dari dulu setelah ia lama membuat niat terasa tidak sia-sia sampe sekarang.

Tamat.

Kesimpulannya sih bisa diukir dengan kemampuan kita sekarang. Semua yang kita jalani dari hobi kita maka tekunilah sejenak. Semakin berkonsisten agar menjadi berkembang baik, alangkah lebih baiknya kudu di tingkatin.

Sampai akhirnya kita bisa membuahkan hasil dari sebuah karya kita dengan kinerja usaha dan semangat.

Jangan lupa buat subscribe dibawah sini ya, thank you.


0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.