0

Belajar Ikhlas Dari Pengalaman

Posted by Malestha Andheka on 11:09:00
KETIKA gue dibelikan sebuah handphone, gue merasa sangat senang dan mempamerkannya di kalangan temen. Di saat kelas 1 SMP ini memang banyak banget suka pamer.

Dengan hape yang dibelikan oleh bokap, gue sering main dan membawa terus hape gue yang baru. Walaupun perginya cuman ke samping rumah untuk beli kerupuk, gue juga membawa hape.

Dan dengan hape juga gue sering banget komunikasi ngga penting ke temen gue. Jarang banget gue gunakan untuk internet. Karena nokia 5300 memake sleadingnya, gue engga mahir menggunakannya. Gue belum beradaptasi cara menggunakan hape dengan baik dan benar.

Setelah janji dengan salah satu temen gue, akhirnya gue langsung ketemuan dengannya. Di Solo Grand Mall tempat gue ketemuan dengan temen gue kali ini. Di mall itu dulu lagi in banget untuk seusia gue nongkring. Karena mall yang terbeken dulu adalah Solo Grand Mall.

Siang yang begitu panas, ngebuat suasana diluar semakin panas. Jauh lebih panas lagi apabila gue berada di tengah-tengah jalan dan tanpa busana yang dikenakan. Namun, gue sadar kalau gue engga gila. Gue masih normal.

TULALIT. TULALIT. TULALIT.

Bunyi telepon genggam gue berbunyi. Suara yang sederhana terdengar keras dan di dengar oleh semua orang yang melewati gue berhenti di tempat. Lalu, gue angkat telepon dan menjawab.

"Hallo." Kata gue, menyapa.

"Hallo. Deka. Kamu posisi dimana?" Tukas Gede, yang menanyakan. Dia keturunan orang Bali dan namanya sangat khas dengan budayanya.

"Aku udah sampai di Solo Grand Mall ini. Gimana? Sudah pada berangkat belum?"

"Iy-iya. Ini udah berangkat kok."

"Ok aku tunggu." TUT. TUT. TUT. TUT.

Gue menutup telepon.

Lima belas menit menjelang, temen fue mulai berdatangan. Akhirnya, temen fue datang dengan selamat sehat sentosa. Di samping itu, mereka berjalan kencang ketika berkendara. Karena dia tidak akan mengulur waktu lama untuk menepati.

Sepulang dari main, gue melepas rasa penat di dalam kamar. Sambil melimpahkan rasa dahaga dengan kipas angin.

Keesokan harinya, gue harus berangkat pagi ke sekolah. Tiap pergi ke sekolah gue engga pernah membawa hape. Sementara hape gue letakkan diatas meja komputer di kamar. Gue berangkat ke sekolah diantar oleh nyokap yang sudah panasin kendaraan di luar.

Suara nyokap, terdengar jelas dari dalam kamar. Nyokap memanggil gue dengan suara seperti menekik leher.

"Dika. Cepetan. Nanti telaaaat!!!!!!" Ucap nyokap, menegasi.

"Iy-iy-iya. Ini lagi siap-siap." Gue sambil mengancingkan anak-anak benik baju yang masih ke buka.

"Udah cepetan jangan lama-lama!!!!" Sahut nyokap sekali lagi tidak sabar.

"Yayaaya. Aku pergi dulu Pa." Kata gue, sambil berlari menuju keluar.

Bokap tidak menyahut gue. Karena bokap sedang mandi dan segera bersiap-siap menuju kantor kerjanya. Akhirnya gue berangkat dan nyokap mulai ngebut.

Sesudah nyokap mengantarkan gue ke sekolah, nyokap kembali ke rumah. Nyokap mengendarai dengan pelan dan kemudian sampai dirumah.

Sesampainya dirumah, bokap menceritakan kejadian misterius ke nyokap. Ada orang lain yang masuk rumah ketika bokap sedang mandi pagi. Orang tersebut mengambil semua hape yang tergeletak diatas meja masing-masing.

Bokap menjelaskan, bahwa hape bokap terletak diatas meja makan. Dan nyokap diatas meja ruang tamu. Sementara hape gue terletak diatas meja komputer di kamar. Semuanya diambil oleh pencuri yang biadab.

Setelah gue pulang dari sekolah, gue tertegun melihat pagar rumah yang di gembok. Lalu, bokap membuka kan pintu pagar dengan kunci yang dibawanya. Setelah gue masuk ke dalam, bokap menceritakan semua yang berhubungan dengan pencuri yang biadab.

Untuk itu gue belajar mengikhlaskan hape gue yang lama. Dengan rasa iba dan rendah hati gue melupakannya. Dan gue berharap hape gue dapat bermanfaat untuk siapa yang mengambil tanpa sepengatahuan. Dan Tuhan Maha Mengetahui siapa yang mengambil. Gue harus belajar ikhlas dari sebuah pengalaman nista ini untuk diceritakan.

0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.