0

Angkringan Istimewa

Posted by Malestha Andheka on 22:47:00

TIAP malam sepulang gue main dan gue belum makan, nyokap paling sebel. Justru makin sebel banget kalau gue engga pulang setahun. Hehehehe. Emangnya gue minggat. (Engga nyampe segitunya pikiran gue keles).

Gue membuka pintu pagar dengan pelan. Pintu pagar terbuka ketika gue membukanya dengan benar. Langsung gue masukkan kendaraan ke kandang. Tepat bersebelahan kendaraan bokap di teras rumah.

Lalu, gue berjalan masuk ke dalam rumah dan melepas helm. Ketika melewati ruang tamu, nyokap menodong gue pertanyaan.

"Udah makan belum tadi?" Tanya nyokap, penuh perhatian dengan suaranya ke ibu-ibuan.

"Belum." Sahut gue, sambil meletakkan helm di tempatnya diatas almari. Eh salah, diatas meja untuk meletakkan semua helm.

"Terus, gimana? Apa engga makan? Makan sekarang gimana?"

"Iya makan. Iya makan." Balas gue, plin plan. Dan terdengar telinga nyokap, engga makan iya makan.

"Yaudah kalau gitu."

"Lah? Makan sama keluarga kan? Sekarang aja." Jelas gue.

"Gimana sih?! Katanya sudah makan?" Bentak nyokap, jengkel. "Yaudah ayo pergi sekarang."

"Gitu deh."

Jam sembilan tepat, gue dengan nyokap terpaksa keluar mencari makan. Ini adalah pengorbanan nyokap buat membelikan makan anaknya di malam hari yang kelaparan. Jika di filmkan, maka kasihan nyokap yang memaksa dirinya keluar malam (lho?).

Bokap bilang menyusul di sebuah angkringan sederhana yang tidak jauh dari rumah. Angkringan itu tempat menarik dan sederhana untuk di kunjungi. Karena harganya sangat terjangkau dan bisa nongkring sampai besok (hwallaaah).

Ditengah gue perjalanan kesana, gue boncengin nyokap yang berada di belakang. Gue naik kendaraan Yamaha Mio. Sedangkan bokap mengendarai Honda Vario yang akan menyusul di tempat langsung. Karena bokap ingin membeli bensin terlebih dahulu.

Saat di jalan, nyokap selalu was-was ketika gue boncengin di depan. Ada sebuah kendaraan yang menyalip aja, nyokap berteriak "Awas Dika awas!!!!" Padahal sebenarnya, kendaraannya hanya dibelakang gue dengan knalpot blerr seakan membalap.

Melihat ada mobil yang menyalip, nyokap berteriak kencang. "Dika awaaaaassss!!!!!" Ini justru ngebuat gue panik dalam mengendarai. Ketika di jalan, nyokap selalu berkomat kamit untuk menasehati.

"Hati-hati Dika kalau lagi mengendarai kendaraan itu." Jelas nyokap, meluruskan. "Di jalan sekarang rame!!"

"Kan juga jalannya pelan Ma aku."

"Jalan pelan atau engga kalau lagi nasibnya juga tetap apes!!!!"

"Lah? Terus, apa harus jalan kaki?"

"Jalan kaki bisa saja di senggol truk yang sopirnya lagi ngantuk langsung makan pejalan kaki di trotoar."

Gue menelan ludah dan menggumam kata-kata nyokap.

Sesampai di angkringan, tiba-tiba ada salah satu mobil di seberang jalan dengan suara knalpotnya yang kencang. Nyokap secara spontan berteriak "Aaaaaarrrrggghhhh!!!!!!!!"

"Tenang Ma tenang, mobilnya berada di seberang. Terdengar jelas malah teriak ngga jales." Jelas gue, meredakan nyokap yang histeris.

"Bukan begitu Dika. Mama selalu tetap was-was dengan keadaan sekitar." Sahut nyokap, menjelaskan. "Yaudah kamu cepat makan sana. Nanti Papa kamu nyusul kesini kok, Papa lagi beli bensin. Dekat dari sini juga POM bensinnya."

"Iya. Cari tempat yang dekat makanan aja."

Gue dan nyokap mencari tempat kosong. Dan beberapa menit kemudian, bokap mulai datang. Bokap berjalan santai menghampiri gue yang sedang menyantap makanan. Malam ini terasa ramai karena banyak yang jajan di angkringan ini.

Angkringan merupakan makanan tempat darurat untuk gue di kala semua toko maupun restoran yang tiap malam sudah tutup. Banyak sekali hidangan yang di sajikan sangat sederhana untuk di nikmati.

Beraneka ragam lauk yang khas yang tersedia, apabila tidak tersedia maka jangan katakan tutup. Tapi, habis karena kalah mendahului orang pertama yang menghabiskan. Dan sampai saat ini, angkringan sebagai tempat nongkring istimewa anak muda sekarang.


0 Comments

Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.