0

Curahan Hati

Posted by Malestha Andheka on 22:06:00
GUE pernah pengalaman gagal soal cinta. Sejak pertama kenal, hingga akhirnya jadian itu juga proses. Bisa juga dipertengahan gagal, dan bisa juga tidak.

Menyelesaikan semuanya tentang cinta ini hanya dari hati yang memutuskan. Mungkin gue gampang banget jatuh cinta dengan seseorang.

Gue nongkring sendirian di suatu tempat yang selalu dikunjungi temen gue. Di Starbuck Coffee ini gue bisa lebih fresh akan melanjutkan hati gue berbicara. Gue yang sedang asik menulis di sudut kanan dekat rak botol-botol Starbuck dijual.

Gue masih tetap asik menulis. Entah menulis apa, yang penting gue engga hening seperti diri gue disini.

Beberapa menit kemudian, mulai berdatangan lagi pengunjung yang akan meramaikan. Gue menoleh sedikit ke kiri. Kemudian, gue ulangi menulis sambil mengingat kata yang akan dilanjutkan.

Michael dengan segap datang dengan temannya Citra. Dia mengenakan kemeja biru jeans dengan celana jeans. Mereka berjalan menuju arah gue duduk.

Langkah dia terhenti ketika gue menatapnya. Mereka berpura dengan tak acuh seakan gue tidak mengetahui mereka mendekati gue diam-diam.

'Dikaaa!' Sapa Citra, sambil memberikan abab yang memukau penuh.
'Iya. Duduk sini aja gabung.' Gue menganggukkan pala gue, mempersilakan mereka untuk gabung.
'Huahahaha.' Ketawa Michael, melebar memperlihatkan gusinya.

Mereka terbiasa nongkring disini bersamaan. Tanpa sengaja gue berjumpa  dengannya disini. Ya. Di Starbuck Coffee tepatnya.

Gue mencurahkan isi hati gue yang bercenderung dingin. Tadinya gue mengurungkan semuanya itu. Namun, lekas kemudian gue menceritakannya sepatah-patah kata.

Citra menggumam ditengah gue berbicara dengannya. Pipinya merona. Dan kedua matanya berbinar bundar kehitaman. Dibalik itu, dia diam-diam memencet tab nya yang disembunyikan di bawah meja.

Ketika gue berhenti bercerita, dia bengong. Kedua wajahnya bertatapan dengan Michael yang duduk bersebelahan dengannya.

Mereka menepuk pundak gue dengan keras. Dan ketawa riang meringik bagaikan kuda kelindes truk. Gue terdiam. Serasa gue bercerita hanya sia-sia dan hanya didengar lewat dahi mereka. Mungkin mereka salah mendengarkan curhatan gue. Seharusnya mereka mendengarkannya dengan kedua telinganya.

Jadi, ini sekian banyak berbagai curahan hati gue selama ini. Mencintai seseorang kadang dihiraukan. Kadang juga diabaikan semata. Setelah gue dekatkan perhatian, justru tidak memberi dibalik kepastian. Gue harus merenungkan yang selama ini gue alami.

Kegagalan gue mencintai seseorang mungkin engga membuat gue berhenti disini. Sebelum gue mengulang, gue persiapkan ataukah gue benar mencintainya dengan rasa sayang.

0

Hari Minggu Keluarga

Posted by Malestha Andheka on 14:52:00
HARI Minggu adalah hari dimana gue menghabiskan waktu dengan keluarga. Setelah melewati hari sebelumnya yang jarang mempunyai waktu luang untuk keluarga gue.

Seperti contohnya pada hari Senin. Bokap selalu sibuk dengan pekerjaannya. Selesai itu, langsung istirahat. Berkumpul pada malam hari, namun engga serasa hari Minggu.

Sementara nyokap, selalu sibuk dengan teman arisannya. Mungkin dalam diri nyokap, arisan adalah media kesibukkan dia bersama ibu-ibuan lainnya.

Dan diri gue, sibuk dengan bermain. Selalu gue habiskan setiap hari dengan teman gue.

Dihari Minggu ini, gue harus temani bokap dan nyokap shopping. Gue rasa ini hal membosankan harus menemani.

Kata nyokap, gue juga harus meluangkan juga buat acara keluar dengan keluarga. Hal ini sangat harmonis dalam hidup berumah tangga yang bermoral baik.

Menurut gue, kebiasaan yang harmonis ini terkadang dipandang sebelah mata anak muda sekarang. Tidak selayaknya seorang laki-laki melewatkan waktunya dengan nyokap dan bokap.

Ini sangat ironis bagi gue. Jalan dengan nyokap dan bokap di mall atau pasar, gue engga malu. Dan gue juga ngga bakalan lari dari renternir.

Jalan dihaluan beberapa pakaian yang bertumpukkan, bokap terhenti dari langkahnya.

'Bentar Dik. Dika.' Kata bokap, datar.
'Ya. Kenapa?' Sahut gue, nanya.
'Papa mau lihat-lihat sebentar ini lho.' Kata nyokap, menjelaskan.
'Owalah oke.' Gue menyahut.

Ini kebiasaan orang yang ingin mencari kebutuhan jasmani maupun rohaninya. Melihat barang yang memanah matanya, maka terhenti langkahnya untuk melihat.

Gue terdiam dan memegang pakaian satu dua yang gue ambil ditumpukkan lainnya. Disisi itu, bokap and nyokap selalu memperdebatkan hal yang sepele ngga berguna. Mendengar kata nyokap dan bokap yang sedang debat masalah warna pakaian yang dipilih. Sepertinya bokap dan nyokap gue, mereka saling kuat akan opininya.

'Ini biru dongker Pa namanya.' Kata nyokap. 'Bukan hitam yang kamu maksud.'
'Tapi, ini justru dominan hitam deh Ma.' Sahut bokap, tetap kuat pendapatnya.

Hal perdebatan ini justru membuat karyawan toko turut menengahkan. Apabila karyawan toko tersebut juga buta warna, maka akan menambah orang dalam perdebatan.

Nyokap tidak bisa membedakan akan warna biru dongker dan hitam. Apabila dia melihat warna hitam, kadang disebut dengan biru dongker. Padahal yang dilihatnya berwarna abu-abu. Ini beda jauh.

Well, bokap apabila melihat warna biru dongker selalu mengelak. Bokap selalu kuat dengan pendapatnya meskipun diuji oleh profesor tetap salah.

Mungkin bokap terlalu optimis memilih. Dan mungkin menjadikan bokap seperti ini. Gue harus memperjelas selagi gue tahu yang benar dan mana yang salah.

0

Liburan

Posted by Malestha Andheka on 13:57:00
Liburan panjang sangat berarti banget buat gue kali ini. Tapi, juga sangat mengesalkan juga buat gue. Paling benci juga sebenarnya tentang liburan panjang kali ini.

Sebelum menjelang UAN, gue sudah menanti-nanti akan liburan panjang. Namun setelah tiba liburan itu rasanya garing banget.

Gue haus banget akan berpergian. Ingin kesana kesini, namun bingung kemana. Planning gue cuman menginginkan salah satu teman yang selalu ada tiap hari. Ini meliput kesendirian gue yang begitu jenuh.

Gue langsung ambil hape, dan menelepon 5 anak pungut. Dan pertama, gue menelepon Alfathoni.

'Halo bro.' Kata gue. 'Jogja yuk besok.'
'Siapa aja?' Sahut Alfathoni. 'Aku ayo-ayo aja.'
'Hmm aku kabarin lagi setelah ini ya.'
'Ok aku tunggu.' Langsung menutup telepon.

Well, gue sudah merancang semua tentang pemberangkatan besok ke Jogja. Gue rasa 5 orang berangkat nanti ngga bakalan garing.

Hari berangkat kemudian, gue sudah berada di stasiun. Gue berdandan rapi seakan mau di wisuda. Mungkin gue engga salah gaul kali ini.

Beberapa menit kemudian, Alfathoni datang bersamaan dengan Denanda. Dia adalah seorang pria yang sejoli. Kemungkinan ada sedikit rasa simpatik dalam hati mereka berdua.

Mereka berjalan melangkah pelan menuju arah gue. Ditengah dia melangkah, Denanda berheni sebentar. Dia lupa akan mengambil kunci pada kendaraannya.

Ngga lama kemudian, dia datang kembali dengan cepat. Dia langsung samperin gue dengan mengulurkan lidahnya ke depan dan belakang. Mungkin itu karena dia balik ke kendaraan dia yang menyebabkan dirinya mayan miring.

Finally, gue berangkat hanya bertiga. Rencana besar gue berangkat orang lima gagal. Mereka berdua menghilang tanpa kabar. Mereka berdua adalah Ayus, Anin. 

Sementara gue tetap lanjut dengan Denanda dan teman gue yang unik: Alfathoni.

Inilah liburan.


0

4 Sehat 5 Sempurna

Posted by Malestha Andheka on 05:52:00

GILE. Waktu gue kecil dulu, makan apa saja selalu selera asalkan bikin kenyang. Akan tetapi, setelah pertumbuhan masa akil balig membuat gue lupa akan selera makan waktu kecil.

Hari ini nyokap memasak kangkung segar. Mungkin kangkung itu juga merupakan selera makan nyokap. Dengan merebus terlebih dahulu sebelum memakannya.

Katanya, kangkung merupakan makanan 4 sehat 5 sempurna. Juga untuk menyimpan berbagai protein didalam tubuh. Dan menurut gue, itu semua tidak. Mungkin nyokap memberi makan gue bagaikan species herbivora.

Sementara bokap dengan lahapnya memakan kangkung itu dengan sempurna. Bokap tidak pernah memandang masakan yang nyokap buat. Kadang rasanya kayak sari ketek, bokap bilang kalau rasanya luar biasa nikmat.

Bokap makan kangkung itu dengan membayangkannya seperti my favorite food. Mungkin kedua mata bokap salah memandang dengan benar. Dan kemungkinan bagian lidah bokap sudah mati rasa untuk menjilat.

Keesokan harinya, nyokap engga lagi masak kangkung. Mungkin karena bosan. Atau mungkin nyokap sadar, kalau anaknya bukan herbivora. Nyokap tidak mau mengecewakan gue itu pasti.

Setelah pulang dari nongkring, gue ke rumah. Nyokap menodong pertanyaan ke gue.

'Hari ini engga masak kangkung lagi.' Kata nyokap. 'Sudah habis.'
'Ho-oh.' Sahut gue, kalem.
'Udah puas?' Tanya nyokap.
'Hmmpfft.'

Gue malas untuk melanjutkan pembicaraannya. Gue melangkah dan berjalan menuju kamar, nyokap meneruskan pembicaraannya.

'Dik. Dika. Kamu udah makan siang hari ini?' Tanya nyokap, datar.
'Belum. Kenapa?'
'Kok kenapa? La apa engga makan hari ini?'
'Iya mungkin nanti.' Sahut gue, merendah.
'Lah? Lemes kan, Mama masakin kangkung lagi ya.'
'..........'

Semakin engga bosan-bosannya nyokap bilang kangkung. Mungkin disaat nyokap masih kecil, nyokap menyusu mamalia yang salah. Sehingga memberikan anaknya serupa dengan halnya waktu ia masih kecil.

Sehingga mulai timbul sebuah pertanyaan yang belum sempat ke jawab: apakah nyokap gue keturunan species herbivora?


0

Ke-8

Posted by Malestha Andheka on 23:36:00

NOMOR urut ke-8.

Tiap kali menjelang UAN ini, kata nyokap gue sering ngigo. Ada banyak hal yang nyokap ceritakan ke gue saat gue ngigo.

Keesokan hari sebelum berangkat sekolah, nyokap mempersiapkan sarapan di meja. Gue berjalan menuju ruang makan dengan garuk-garuk pala. Nyokap menanyakan sesuatu sambil menggoreng nugget is my favorite food.

'Belajar sampai jam berapa kamu?' Tanya nyokap. 'Kok sampai ngigoin rumus ngga jelas.'
'Lah? Apa ya?' Sahut gue, kaget.
'Iya. Memang kamu ngga sadar lah.'

Gue lupakan soal itu. Demikian gue lupakan dengan sekejap. Langsung mulai melahap semua sarapan yang telah dihidangkan nyokap di meja. Gue terburu-buru berangkat. Karena jam berada disekolah tidak sama halnya dirumah. Bukan soal merk. Tapi, soal waktu yang kurang sesuai. Dirumah waktu Indonesia Bagian Asing (eh emang ada?) sementara disekolah WIB. Ini benar.

Nyokap selalu melebihkan jam dinding yang berada di ruang tengah. Katanya, supaya cekatan dia mempersiapkan sarapan ke gue.

Nyokap selalu bangun sebelum alarm weakernya membunyikannya. Mungkin bagian dalam kepalanya terdapat alarm kecil sehingga mampu bangun dengan cepat. Ayam jantan tetangga pun selalu membangunkan gue dengan kaget. Kadang selalu berkokok ketika malam hari. Setelah gue bangun tanpa sadar yang gue kira udah pagi, dan TERNYATA... ayam itu disembelih pada tengah malam.

Kata tetangga samping, ayam itu disembelih untuk makan-makan besok. Sebagai planning besok maka malamnya harus mempersiapkan secara matang. Ini sangat tidak ironis.

Selesai sarapan, gue seperti biasa panasin kendaraan. Tiap kali panasin kendaraan rasanya sangat panas sekali apabila sengaja memegang knalpot. Tapi, gue ngga melakukan itu. Gue ngga mau tangan gue yang super cakep ini terluka.

Gue gas pelan menuju sekolah. Ditengah perjalanan gue selalu lupa membawa tas. Untungnya gue belum terlalu jauh dari rumah.

Saat gue balik, nyokap udah siaga membanting tas gue didepan rumah. Dengan wajahnya memerah seperti hulk yang lagi marah. Tapi, nyokap lemah lembut memberikan tas gue secara langsung.

'Kalau mau berangkat dilihat dulu apa yang ketinggalan.' Kata nyokap, datar. 'Sekolah masa lupa dengan TAS.'
'Hehehehe.'

Mungkin ini secara langsung gue lakukan tanpa sadar. Dan yang benar adalah gue memang kadang lupa diluar kesadaran. Benar. Ini hanya dibalik.

Nice.

@AndhekaM


0

Hari Terakhir Sekolah

Posted by Malestha Andheka on 17:49:00

BLOG urutan ke-9.

Pagi hari yang masih dingin, gue langsung membuka mata sok semangat. Yang membuat gue semangat, karena hari ini adalah hari terakhir gue bersekolah: SMA.

Berjalan menuju ke kamar mandi, dengan mata yang masih terpejam sedikit.

Nyokap mempersiapkan sarapan pagi sebelom gue berangkat. Sementara bokap masih pules dengan mimpinya. Gue bergegas cepat. Semua gue lakukan dengan semangat.

Pesan nyokap ke gue agar mengerjakan UAN nanti dengan teliti. Dengan banyak nasehat yang gue dengar. Gue menganggukan kepala ketika nyokap memberikan nasehat.

Sebelom gue berangkat, bokap bangun. Bokap memberi uang saku tambahan. Mungkin ini hadiah bagi gue, dalam batin.

Setelah gue terima, gue panaskan kendaraan berada diluar. Nyokap ikut melihatnya diteras rumah.
'Hati-hati dalam mengerjakan soal Dik.' Kata nyokap, dengan suara ke ibu-ibuan.
'Iya. Yang penting gue jujur dalam mengerjakan.' Sahut gue, kalem.
'Jujur adalah cermin kepribadianmu.'
'Yaak benar!' Sahut gue, semangat.

Nyokap tanpa segan mengulainya berulang kali. Katanya, supaya gue tidak terjerumus hal negative. Gue berpikir dengan mencernanya dalam hati. Selain itu, gue jadikan arahan dalam jalan idup gue yang selama ini naik turun seperti naik gunung.

Sesampai disekolah, gue parkirkan kendaraan di dalam. Gue parkirkan di samping kendaraan Gusti teman kelas gue.

Gue berjalan menuju lorong kelas. Namun, langkah gue, gue hentikan. GUE LUPA LEPAS HELM! Akhirnya gue kembali menuju kendaraan. Dengan cekatan gue sambil lari.

Setelah meletakkan helm di kendaraan, gue mengulangi berjalan menuju lorong kelas kembali. Kali ini gue tidak lagi lupa melepasnya.

'Optimis mengerjakan hari terakhir yes!' Kata gue, datar.
'Ok bro!' Sahut Gusti, pasang muka sok abiss menatap.
'Ada apa?' Tanya gue. 'Kok cengar-cengir gitu?'
'Hehehehe'

Mungkin hari terakhir UAN ini membuat dirinya secara tidak langsung menjadi down. Dapat dikatakan orang ini mempunyai saraf yang berlebihan.

Sekitar 4 jam ditambah istirahat 30 menit berlangsungnya UAN, kemudian bel terakhir berdering.

Tet. Tet. Tet. Tet.

AKHIRNYA! Kata satu kelas bersamaan.

Gue berjalan menuruni tangga melewati lorong kelas. Melangkah perlahan menuju lobi. Mulai kumpul di lobi tengah dengan Ayus, Anin, Gusti, Bintang, Bagas, Denanda, Irfan, Alfathoni yang berdatangan.

'Gimana sukses kah?' Kata gue ke Ayus.
'Sukses dong.' Sahut Ayus, sambil cengar-cengir melebar ngelewatin telinga.

Gue alihkan tatapan gue ke Irfan.
'Gimana bro, sukses kah?' Kata gue, datar.
'Hohoho. Sukses dong.' Sahut Irfan, sambil meringis pamerin gusinya.

Mereka adalah keluarga yang bermamalia serupa. Cara menjawabnya sama dengan diakhiri cengar-cengir yang harus dipertanyakan oleh Mak Erot.

Sementara, Alfathoni mengajak gue berencana ke Yogyakarta besok pagi. Dia mem-planning dengan penuh kepastian. Mungkin ini adalah suatu rencana besar yang dipendamnya selama ini ketika menghadapi UAN. Dan planning itu sebagai refreshing dia dengan berekreasi bersama dengan teman.

Dan Denanda sahabat gue yang kadang dipanggil teman kelasnya Udin, berceria mukanya. Dia berhormon normal. Denanda adalah laki-laki tulen. Apabila dibandingkan dengan wanita, dia tidak sama. Itulah mengapa dia disebut laki-laki.

Anin, Gusti, Bagas, Bintang berdiri dengan melampirkan tasnya dalam pundak mereka sama. Mereka adalah satu tipe. Namun, Anin adalah seorang wanita feminine dan ngga bisa disebut sama dengan Gusti, Bagas, Bintang. Mereka adalah laki-laki sejati yang selalu memake seragam sekolah ketika berangkat.


0

Menahklukan Tantangan

Posted by Malestha Andheka on 00:12:00

Gue pengin memberi sebuah motivasi ke kalian. Sebelom gue memberikan kata motivasi ini, gue sudah banyak intropeksi diri.

Bagian blog ke-7 ini adalah tata cara menahklukan tantangan dalam idup. Gue kemas dengan tulisan-tulisan yang gue kembangkan dari sebuah ide yang tiba-tiba muncul. Seandainya gue berada dalam kartun, gue memunculkan lampu bolam bagian atas dari kepala gue.

Langsung, next. Cara yang pertama, buangkan rasa malas. Apabila meraih senang bisa melewati malas maka bisa meraihnya dengan baik. Malas adalah sebuah tantangan awal yang kadang ngebuat diri kita bercenderung berhenti dalam aktivitas. Uhmm. Kalian tau lagunya d'Masiv - Jangan Menyerah bukan? Apakah hafal? Dalam reff akhir...
Jangan menyerah....
Jangan menyerah....
Jangan menyerah....

Dengan adanya jangan menyerah, mungkin kita bisa tau kalau d'Masiv sukses dengan single-nya. Hehehe. Ngga nyambung sama topik malahan. Begini, apabila sudah melewati malas, sama artinya kita mampu menerobos tantangan awal.

Dan selanjutnya yang harus di hadapi adalah keraguan. Ehm. Ragu ini mulai hits dari berbagai persoalan cinta. Tenggelamnya kata ini muncul, menceritakan seseorang yang selalu ragu dalam mengungkapkan isi hatinya kepada idamannya. Kadang hanya berharap dan berharap dan mengaguminya dalam halusinasi dari mimpinya. Berkhayal tingkat tinggi contohnya. Ragu itu tidak rupawan dikala kita bimbang. Tanpa kepastian yang masih tertunda dari sebuah perencanaan.

Next. Yang membelakangi dari keraguan ialah tidak percaya diri. Zaman semakin maju, yang mana kurang percaya itu tidak efektif ingin sukses apalagi kurang percaya dengan diri sendiri. Junjunglah rasa optimis dengan kedua kepalan tangan untuk berani mengambil risiko sesudah bertindak.

Setelah kurang percaya diri yang harus di hadapi, ada lagi nih yang harus di hadapi yaitu: SEMANGAT! Yak benar, semangat! Tulisannya di besarkan supaya kita, kamu, kalian dan mereka selalu SEMANGAT. Ngga hanya semangat saja, semangat itu harus bisa menonjolkan dari berbagai macam hobi kita. Suka dengan apa saja maka gemari lah. Dengan adanya menggemari maka akan menjadi haus ingin menciptakan something kepada orang-orang.

Selese deh sampe di perhujung itu dolo yang gue buat. Ehm. Membuat begituan tidak mudah dengan ide gue yang udah mentok. Kadang habis gue berpikir masih tidak karuhan hasilnya. Apabila ada kata yang membelok maka benarkan lah dengan huruf yang rapi. Gue nyadar kalau gue adalah penulis yang setengah-setengah normal.

Salam cihuuuy!!

Andheka Malestha - @AndhekaM


0

UAN

Posted by Malestha Andheka on 16:42:00

Kali ini gue bercerita tentang UAN. Gue merasa UAN tuh seakan-akan menantang gue supaya dapat menerobosnya ketika hari nanti. Tak tanggung-tanggung gue harus banyak persiapan menuju UAN.

Haaaaahhhh. Bagian ke enam ini gue mau mengulas tentang UAN. Ini UAN lain dengan UBAN yap. Inget ini gue mo bahas UAN bukan TUAN. Jalankan MENDOAN, beda jauh. Gue ngerti, cuman pengin aja tuh.

Tahun UAN gue 2013/2014 lebih muda dari Bp. Ir Soekarno. Gue inget waktu dulu memang gue belom lahir zaman dahulu. Hehehehe. Tapi, itu mengenang beliau.

Oke. Back to the topic.
          Jelang beberapa Minggu menuju UAN rasanya memang ngga sabar. Kadang ngga sabar ingin selese dan kadang merasa terlalu cepat. Tiap kali gue mo ujian, ada-ada aja godaan dari beberapa temen gue. Misalkan saat gue ngga ikut join dengan mereka. Sebenarnya, dalem hati gue ingin melompat dengan diantara mereka.

          'Dik nanti malming ke tempat biasa yo.' Kata Andi, lewat SMS.
          'Waduh, bro sorry, gue lagi konsen bentar lagi mo UAN.' Balas gue. Sementara, dalem hati juga ngebalas tuh SMS. 'Ok, tunggu, nih gue lagi melototin buku bentar kurang beberapa menit kok.'
           'Yah. Sebentar aja lah, kelihatan bentar.'
           'Tetap ngga bisa bro, sorry ya. Dan dalem hati gue ngikut membalas. 'Hwallaaah. Kalo sebentar ngga seru lah, gue ngga bakal puas, percaya lah.'

Dalem pikiran semakin ngga karuhan akan kemana-mana. Saat gue baca buku pun yang ada membayangkan suasana yang berada di luar sana. Tentang sebuah keadaan, nongkring, dan lain sebagainya. Namun, gue tetap fokus dengan buku yang berselipkan novel di dalamnya. Dengan tujuan, gue udah di sangka belajar dengan nyokap yang selalu waswas.

Saat hari mulai malam, pukul 7 gue udah merasa jenuh melihat buku dari tadi pagi sampe sekarang. Seolah-olah gue sebagai sekertaris yang dimana-mana membawa buku dan mencatat orang di sekitarnya. Untuk menegakkan kedisiplinan, gue menegakkan sistem KSAT. Ini sangat membuat gue ingin semangat melakukan sistem ini dengan terampil

Mendekati hari UAN gue ada Try Out terakhir di sekolah. Sebelom gue memasukki ruangan kelas, gue kasih tau aturan sistem KSAT ke beberapa temen yang kuat (tidak terpengaruh positif).

Finally, berhasil dengan sukses. Ngga hanya gue yang sukses, namun temen gue yang lain juga menulis jawabannya dengan pensil. Tanpa ada tipe-x di atas meja, karena kami tidak di perkenankan membawanya dari rumah.

Sistem KSAT ternyata berhasil di tahklukan dengan lancar. Benar dengan sukses. Hanya di dasari dengan berdoa sebelom memulai. Sistem KSAT adalah Kerja Sama Antara Teman.

Ps: jangan melakukan hal ini, karena jika salah melakukannya maka akan menjadi kacau. Banyak yang sudah membuktikan bahwa ini sangat susah di jalani. Jadi, berusaha lah sesuai usaha keras selama ini jangan di sia-siakan dengan senjata yang tidak instant. UAN? Siapa takut. Fokus, pahami soal, dan kerjakan.


0

Balada Mati Lampu

Posted by Malestha Andheka on 21:53:00

Bagian kelima.

Gue paling sebel saat baterai hape ini low di waktu yang ngga tepat. Pas lagi mati lampu sebagai contohnya, gue paling susah. Lebih pasnya lagi, gue lagi kebelet pup.

Kalo udah di ujung, susah banget nahannya. Rasanya, seperti mo gigitin jari gue dengan gusi-gusi (eh gusi mang bisa?).

Kali ini hujan semakin deras. Semakin kenceng angin berada di luar. Untungnya gue berada di dalem. Hujan kali ini memang ngga seperti biasanya. Sebelom hujan turun,  di luar ngga berjatohan air. Sesudah hujan turun, jalanan jadi basah total. Ini seperti anak playgroup yang uda lulus diberi pengertian bahwa hujan itu pasti turun air.

Listrik mati tuh memang nyebelin. Apalagi kalo matinya malem saat-saatnya mo tidur (lhoh?). Apalagi kalo pas kita lagi belajar dengan sungguh-sungguh. Menyebalkan itu memang. Iya benar. Seperti kita pake celana kolor terus di turunin celananya ke bawah. Ngga nyambung bego!

Anyway, gue harus buat suasana selalu ngga bosan. Sementara nyokap panik dengan suara petir.

     'Uda ngga usah belajar, langsung tidur aja.' Kata nyokap, datar.
     'Ngga belajar gimana? Walopun ngga belajar tapi kan harus jadwal besok lah.' Gue menyahut.
     'Bawa semua aja bukunya dong.'
     'Tasnya ngga muat lah.'
      '.....'

Kadang nyokap di saat panik selalu ngomong ngaco ngga jelas. Dan terjadi hening sebentar karena terdengar suara petur kedua kalinya.

     'Pa coba cek saklarnya lah.' Kata nyokap, panik. 'Mungkin saklarnya uda bisa nyala tuh.'
      'Masi gimana? Rumah sebelah-sebelah aja masi pada mati.' Bokap menyahut, sambil nunjuk rumah sebelah.
       'La masa lama banget, Dika ngga belajar malem ini.' Kata nyokap. 'Dulu suruh beli lampu tembak justru ngga beli.'
       'Hah? Lampu tembak? Sejenis opo kui? (sejenis apa itu?).'

Dengan ini, bokap jelas kurang mengikuti model sekarang. Dia jarang mengenal kemajuan barang zaman sekarang. Yang bokap tau,justru lampu petromak. Untungnya sampe sekarang ini, bokap ngga memberi lampu petromak di dalem rumah. Tempatnya di seluruh kamar-kamar dan ruangan tengah sampe dapur.

Ini berbeda dengan nyokap. Nyokap mempunyai ciri yang berbeda dengan bokap gue. Ciri utama dia, bisa melahirkan gue dengan sukses. Sedangkan bokap tidak bisa. Iya, tidak bisa. Bokap kalo jongkok nunjuk, sedangkan nyokap engga. Kalo gue berbicara dengan nyokap, dia menyahut yang kurang jelas. Kadang ingin rasanya gue menjedorkan pala gue di kasur.

     'Ma besok aku pulang agak siang, soalnya mo ke warnet.'
     'Ha? Kenapa ke warnet?' Nyokap menyahut, kalem.
     'Biasa lah.'
     'Dari pada ke warnet, kan pake hape kamu itu kan bisa toh.' Sahut nyokap, datar. 'Boros itu lho mesti tiap hari kesitu.'
     'Tapi, hape gue ngga bisa buat nge-print out Ma.'
     'Woalah mau print out? YANG JELAS DONG.'
     '.....'

Back to de Mati lampu.

Beberapa jam kemudian, lampu mulai menyala. Seperti biasa, bokap pamit nangkring dengan temen-temennya di angkringan. Sementara gue and nyokap sendiri dirumah dengan melanjutkan nonton TV-nya. Favorite yang nyokap ngga pernah bosen adalah: YKS (Yuk Keep Smile).

Peace, laught, and cium.

Andheka Malestha.


0

Salah Sangka

Posted by Malestha Andheka on 00:13:00

Bagian ke empat. Di bagian ke empat ini merupakan bagian sesudah lewat tiga, dua, dan satu. YA IYA LAH!

Masi tetep membahas tentang keseharian gue dirumah. Ngga lewat, selalu mengekspos semua orang yang serumah dengan gue. Serumah dengan gue cuman ada nyokap and bokap gue. Karena dulunya, gue di lahirin duluan dan ngga punya ade nyampe sekarang.

Sekarang berbicara tentang diri gue ndiri. Hati yang masi jomblo banget sampe aja, gue masi berniat. Memang banyak diantara temen gue yang mereka selalu ledekin kesendirian gue saat ini. Nama temen gue, gue samarin dengan nama binatang.

     'Uhmm. Dek?' Tanya bekicot kalem.
     'Apa?' Gue menyahut.
     'Lo ngga fokus cari cewe gitu?' Tanya bekicot. 'Perasaan awal gue ngenal lo nyampe sekarang, lo tuh ya excited banget.'
     'Exited? Ehm. Kepala lo ngga peyang kan?'
     'Loh? Malah ngga nyambung?'
     '......'

Rasanya tangan gue ingin sesekali melayang ketika dia berbicara. Tapi, niat gue tuh gue urungkan. Karna gue takut, kalo nantinya dia melaporkan kasus ini ke pihak pemadam (lhoh?).

Selalu itu dan itu dan itu terus pertanyaan temen gue. Iya, gue ngerti. Jomblo ato engga pasti selalu di pertanyakan.

Saat gue sedang dirumah, nyokap ngga pernah nanya gue jomblo ato punya istri. Eh pacar ding. Sementara bokap tak acuh dalam hal itu.

Dirumah, gue sangat akrab dengan keluarga. Kebiasaan lama gue dirumah, ngga bosen-bosennya gue lakuin sampe ketek gue beruban (eh ketek bisa beruban ngga?). Dan kebiasaan nyokap dirumah, ngga bosan-bosannya menasihati gue. Sementara kebiasaan bokap, ngga bosan-bosannya kentut ketika bersih-bersih rumah.

Kelas 3 SMA, nyokap selalu update menasehati gue secara langsung ato tidak langsung. Bahkan bokap mendukung dengan menasehatinya secara umum.

     'Dika... Kamu ngga belajar?' Tanya nyokap ke gue. 'Kok dari tadi sibuk ngeblok komputer mulu.'
     'Bikin blog kali Ma, bukan ngeblok komputer. Emang kayak apa aja'
     'Iy-iya. Mama kan ngga tau, itu blog lah, san-blog lah, ato nama Inggrisnya anjing tuh apa?'
     'Itu dog namanya.'
     'Iya. Bener itu namanya. Nyokap menyahut. 'Ngomong-ngomong kamu pintar juga bahasa Inggrisnya.'
     'Hmmppffttt.'

Ini bertolak belakang dengan bokap. Perbedaan ini, sangat hipotesis. Sehingga gue memilih di tengah-tengahnya.

     'Dik... Udah belajar belom?' Tanya bokap, kalem.
     'Uda Pa tadi.'
     'Yauda kalo gitu.'

Nah, ini gue suka. Ngga ribet, hemat menjawab, and simpel. Bokap selalu percaya dengan sekali pasti gue menjawab. Namun, gue juga harus buktiin kalo gue harus boong (lhoh?).

Beberapa menit kemudian, bokap nyuruh gue bersihin kamar. Begitu ngeliat kamar gue, ia ngerasa berada di museum kapal pecah. Kumisnya yang tadinya rapi, kemudian berjatuhan reflek.

     'Dik... Dik.... Kamu tuh ya.' Kata bokap.
     'Iy-iya ada apa Pa?' Gue menyahut.
     'Kamu ngga ngeliat kamarmu berantakan kayak gini?'
     'Dari tadi emang kayak gitu, emang kenapa Pa?'
     'BERSIHIN SEKARANG, PAPA NGGA KUAT NGELIATNYA.'
     'Hening.'

Mungkin bokap marah karena kumis dia jatoh di lante. Bukan karena berantakan kamar gue. Gue yakin. Ngga seperti biasanya, bokap selalu bersihin kamar gue saat gue sedang pergi. Dan gue masi inget.

     'Tuh kamarmu bersih kan sekarang?' Kata bokap, mulutnya cengar-cengir melebar nyampe ngelewatin telinga.
     'Eh iya. Habis sewa pembantu mesti?' Sahut gue datar.
     'SEWA PEMBANTU PALA LO PEYANG.'
     'Hening.'

Gue memang selalu di pandang keliru dalem keluarga. Keliru karena bego banget ketika gue ngomong. Sebelom gue ngomong, kadang gue sempetin ngomong di kaca. Setelah gue lakuin tuh, justru bikin nyokap nangis.

     'Huhuhuhu.' Nyokap, sambil megangin tisu lalu mengusap aer mata.
     'Loh kenapa Ma?'
     'Mama merasa bersalah.'
     'Maksudnya merasa bersalah?' Tanya gue, kalem.
     'Tadi Mama ngeliat kamu ngomong sama kaca terus. Mama berpikir, anak Mama yang Mama lahirin normal kenapa makin gede jadi gila.'
      'E-ee.. Had-haduh Ma.' Sambil nelan ludah.
     'Apa? Kamu harus di setrum di rumah sakit sekarang sebelom parah.'
      '......'

Sekarang gue tau, kalo salah sangka itu memang harus dijelaskan secara rinci. Tapi, dalam sebuah masalah, salah sangka berarti setara dengan salah paham.  Tujuan memperinci, supaya orang yang kita perjelas dapat mengerti opini kita sesuai dengan kenyataannya.


Copyright © 2009 ANDHEKA MALESTHA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.